
"Gimana kondisi nya sekarang, Dek?" tanya Zein ketika masuk ke kamar Via setelah mengantarkan Catur.
"Alhamdulillah udah mendingan, Kak" jawab Via sambil tersenyum.
"Wajar sih mendingan, abis di jengukin sama gacoan ya" goda Zein.
"Ih Kakak ngomong apaan sih".
"Kelihatan tau dari sorot mata kalian berdua".
"Ngarang aja Kakak ini".
"Eh ada buket bunga" seru Zein sambil mengambil buket di samping Via berbaring.
"Iya nih Kak, tadi di kasih sama Catur" jelas Via.
"Oh begitu" ucap Catur sambil mengangguk.
Ketika asyik berbicara, netra Zein terpana dengan cincin yang di jari manis Via.
"Wow, cincin baru tuh" ucap Catur sambil menarik tangan Via untuk melihat dengan pasti cincin itu.
"Bagus ga Kak?" tanya Via.
"Bagus banget, kelihatan mewah" gumam Catur.
"Iya donk, kan cincin mahal" sombong Via yang membuat Zein menjitak kepalanya karena ngomong dengan nada yang sombong.
"Kalau di perhatiin sih mirip cincin pernikahan atau pertunangan gitu" ucap Catur sambil melotot ke arah Via.
"Ini cincin dari Catur, Kak" jawab Via tertunduk.
"Kalian ada hubungan?" tanya Zein.
"Maaf" ucap Via lirih.
"Buat apa?" tanya Zein bingung.
"Via barusan jadian dengan Catur. Via suka dengan dia, Kak" jawab Via masih terus tertunduk menahan air mata yang akan jatuh karena takut di marah Zein.
"Hey, dengerin Kakak ya" ucap Zein sambil mengangkat dagu Via dan memegang pipi dengan kedua tangan nya.
"Kakak nggak marah kalau kamu mau pacaran, tapi dengan syarat kamu harus bisa jaga kehormatan sebagai seorang wanita. Tetap bisa konsentrasi dengan pendidikan dan cita-cita agar keluarga bangga sama kamu" lanjut Zein sambil menatap dalam netra Via.
"Makasih ya Kak, kirain tadi kakak akan marah banget sama aku" ucap Via sambil menangis.
"Hey anak manis, jangan nangis ah. Nanti cantik nya hilang lho" ucap Zein sambil menyeka air mata Via.
"Sekali lagi makasih ya Kak, Kakak memang yang terbaik dan paling bisa ngertiin kondisiku" ucap Via sambil memeluk Zein.
__ADS_1
"Ya udah, kamu istirahat yang cukup ya. Kakak mau mandi dulu" pamit Zein.
"Iya sana, Kakak bau ih" ledek Via sambil menutup hidungnya menggunakan tangan kiri sedangkan tangan kanannya di gunakan untuk mengibas-ngibaskan seolah-olah aroma tubuh Zein bau.
"Pake parfum gini mah wangi, mandi ataupun ga nya Kakak tetap fresh dan ganteng tau" sombong Zein.
"Pede banget sih, wajah pas-pasan gitu" ucap Via sambil tergelak.
"Wah ngajak ribut nih ya" ucap Zein sambil menggelitik adik semata wayangnya.
"Ampun, geli Kak" ucap Via sambil tertawa dan meringis menahan geli akibat gelitikan Zein.
"Oke baiklah, kalau nanti masih nggak mau mengakui kegantengan Kakak mu ini, maka siap-siap akan di gelitiki lagi" ancam Zein sambil tertawa.
"Huh, dasar jahat. Bisanya ngancam mulu sih" dengus Via.
"Masih mau coba lagi?" tanya Zein sambil siap-siap akan menggelitik Via.
"Ampun, iya Kakak ku yang super ganteng. Sana mandi gih, udah sore banget" perintah Via.
"Oke, Kakak tinggal ya. Nanti kalau ada apa-apa tinggal teriak panggil aja" pesan Zein sambil berlalu meninggalkan Via seorang diri di kamar nya.
Via hanya bisa terbaring seorang diri, tanpa seorang temanpun. Ia berandai-andai jika memiliki adik perempuan yang lucu, tentu kini ia tak akan merasa kesepian. Bermain boneka dan masak-masakan, serta bisa menghilangkan kejenuhan dengan tingkah lucu adiknya. Tapi sayang, ia adalah anak bungsu yang memiliki seorang kakak saja. Membayangkan memiliki seorang adik membuatnya senyum-senyum sendiri dan akhirnya ia terlelap.
"Toooolllllloooooooooong" sayup-sayup terdengar suara seseorang meminta tolong.
"Kenapa aku bisa ada di ruangan gelap ini?" Via bertanya seorang diri.
"Siapa yang tega mengurung aku di sini?" batin Via.
Ketakutan menyelimuti hati, air mata mulai menetes. Ia berusaha berteriak minta tolong, namun sia-sia karena sepertinya tidak ada orang disekitar ruangan itu.
Duk...Duk...Duk...
"Tolong buka pintu nya dong" teriak Via sambil menggedor-gedor pintu.
"Kak Zein, Mbok Asih, Catur, tolongin Via. Via takut di sini" teriak Via lagi sambil menangis.
Putus asa serta lelah membuatnya terdiam dan hanya menangis sambil menyender di balik pintu. Saat ia ingin menyerah, tiba-tiba terlihat ada pintu kecil serta jendela. Via mencoba untuk mendekat ke arah jendela, karena ada ventilasi sehingga sedikit cahaya merambat masuk ke ruangan yang gelap itu.
Perlahan Via menggeser meja agar bisa mencapai celah ventilasi untuk melihat kondisi di luar ruangan tersebut. Via perlahan-lahan menaiki meja dan sedikit berjinjit agar dapat melihat kondisi di luar ruangan tersebut.
Kondisi di luar ruangan mulai gelap karena hari sudah petang. Lampu-lampu dinyalakan agar menerangi koridor kelas.
"Jika di seberang sana adalah perpustakaan sekolah, maka di sini tentunya adalah ruang kelas yang selalu di kunci dekat laboratorium dan ruang OSIS" gumam Via.
Dengan sangat hati-hati, Via turun dari atas meja. Matanya kini tertuju pada pintu kecil di sudut ruangan. Netra nya terus mengamati setiap sudut ruangan itu dan terhenti di foto-foto yang berjejer. Satu persatu foto tersebut diamati, meskipun tidak begitu jelas karena debu yang menempel dan ruangan yang gelap. Setelah di telusuri ternyata ada satu foto yang dia kenal, foto tersebut adalah foto salah satu temannya yaitu, Haris. Ventilasi udara di dinding membuat sedikit cahaya masuk ke dalam ruangan, sehingga ia bisa melihat meskipun tidak begitu jelas foto itu.
Foto dengan ukuran 12R itu berjejer rapi, namun hanya foto Haris yang terlihat seperti baru di pajang karena belum berdebu seperti foto lainnya.
__ADS_1
"Ruangan apa ini?, kenapa ada foto Haris yang di pajang di ruangan ini?" batin Via.
Dia terus mengedarkan pandangannya ke setiap sisi ruangan, namun kembali terhenti di pintu sudut ruangan. Perlahan ia mendekati pintu dan berusaha untuk membukanya. Rasa takut telah berganti menjadi rasa penasaran yang begitu kuat.
"Apakah di dalam sini ada sebuah rahasia" gumam Via.
Perlahan pintu terbuka, ia menyusup masuk dengan sangat hati-hati. Khawatir jika ada orang lain yang berbuat jahat tengah mengintainya.
Ruangan kecil yang berada di dalam gudang itu lebih pengap serta gelap, tidak ada setitik cahaya pun yang masuk karena tanpa Ventilasi udara. Via tidak dapat melihat apapun selain warna hitam pekat.
"Toooolllllloooooooooong"
Suara orang meminta tolong, setelah itu terdengar suara wanita menangis yang sangat pilu.
"Hiks....Hiks...Hiks..."
Banyak suara wanita yang menangis, ruangan yang tadinya sunyi, kini ramai oleh suara tangisan yang lirih. Tangisan menyayat hati bagi yang mendengar karena seperti ada luka dan siksaan yang begitu berat.
Via hanya bisa terdiam, kakinya tidak mampu untuk di gerak kan, bibir pun kelu jadi tidak bisa berteriak minta tolong. Keringat dingin membasahi tubuhnya akibat rasa takut yang mendera. Telinganya seperti di paksakan untuk mendengar jerit dan tangis pilu di ruangan itu. Hanya ada suara, tanpa bentuk tubuh orang-orang yang menangis.
Kakinya terus di paksakan untuk bergerak keluar dari ruangan aneh itu sambil merapalkan berbagai doa dan ayat suci Al-Quran yang ia hapal. Ketika ia berhasil menggerakkan anggota tubuh nya dan perlahan berbalik untuk keluar, tiba-tiba ada tangan yang mencengkram pundak nya begitu kuat. Cengkraman itu terasa sakit, sehingga ia berteriak minta tolong dengan sangat kencang.
"Toooolllllloooooooooong" teriak Via ketakutan.
"Via, bangun Dek" ucap Zein sambil mengguncang tubuh adiknya.
Sejenak Via mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya. Dengusan nafas nya begitu memburu, seperti habis lari maraton.
"Astaghfirullah haladzim, ternyata mimpi" ucap Via sambil mengusap pipinya yang kini basah oleh keringat.
"Ayo minum dulu Non" ucap Mbok Asih sambil mengangsurkan segelas air putih ke arah Via.
"Terimakasih Mbok" jawab Via meraih gelas yang berisi air putih dan meneguknya dengan cepat.
"Kamu mimpi apa, Dek?" tanya Zein penasaran.
"Aku tadi mimpi buruk banget, Kak" jawab Via sambil melihat ke arah jendela kamarnya karena gorden tertiup angin kencang karena jendela belum di tutup.
"Wajar mimpi buruk, kamu tidur di jam Maghrib. Menurut mitos, kita di larang berada di luar rumah atau tidur saat Maghrib tiba" jelas Mbok Asih.
"Emang apa mimpi nya?" tanya Zein.
Saat Via hendak menjelaskan mimpi buruk nya, tiba-tiba jendela kamarnya tertutup dengan sangat kencang.
"Brrruuuukkkk"
Daun jendela menutup sendiri dengan kencang, yang membuat Via melihat ke arah jendela yang tertutup.
Ada sosok pocong yang tengah berdiri di dekat jendela, penampakannya pun masih sama seperti kemarin malam. Belum ada perubahan apapun, mulai dari wajahnya yang hancur dan buruk rupa, serta kain kafan yang lusuh dan kotor. Mungkin si pocong belum sempat mencuci dan menyetrika kain kafan yang digunakan nya.
__ADS_1
"Pocooooooonnggg"
Teriak Via, lalu tak sadarkan diri.