Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Misteri Gudang Sekolah


__ADS_3

Anehnya, kali ini satu pria berjubah hitam melepas kain penutup wajahnya, sehingga Via bisa melihat dengan jelas wajah pria tersebut.


"Astaga, apa aku nggak salah lihat" pekik Via sambil menutup mulutnya.


"Bagaiman mungkin Pak Selamet bisa terlibat dalam komplotan pembunuhan ini?" gumam Via.


Pak Selamet adalah satpam sekolah, di usianya yang tak lagi muda, sekitar 60an tahun. Beliau dikenal sebagai sosok yang ramah dan baik hati. Tidak jarang jika ada siswa yang meminta pertolongan pasti langsung di bantu olehnya.


Pak Selamet langsung membuka pintu gudang dengan kunci yang dibawanya. Dua orang dokter membawa jenazah Anita kedalam gudang yang disusul oleh seorang pria berjubah hitam dan Pak Slamet.


"Mau diletakkan di mana, Pak?" tanya seorang dokter yang bernama Diki, terlihat dari nametag di seragamnya.


"Di situ saja, kalian boleh keluar dan pulang. Terimakasih atas kerjasamanya" ucap pria yang memakai penutup wajah kepada kedua dokter tersebut.


"Baiklah, kami permisi" ucap dokter sambil keluar.


Hanya ada dua pria yang memakai jubah hitam, salah satunya adalah Pak Selamet sebagai satpam sekolah, namun satunya belum diketahui karena tidak melepas penutup wajah.

__ADS_1


Via terus memandang keduanya, apa yang akan dilakukan oleh keduanya dengan jenazah Anita. Terlalu banyak teka teki yang harus di jawab. Kisah kelam masa lalu seorang yang harus di saksikan nya seorang diri. Entah ada kisah mengejutkan apalagi yang harus disaksikan oleh nya.


"Eksekusi sekarang atau nanti, Bos?" tanya Pak Selamet kepada rekannya.


"Sekarang aja, keburu malam. Lama prosesnya" jawab si pria berjubah hitam.


"Baik, saya ambil alatnya dulu" ucap Pak Selamet sambil berlalu, beliau berjalan ke arah tumpukan barang-barang untuk mengambil alat yang dimaksud.


Setelah menggeser kursi dan beberapa barang-barang, beliau menemukan alat yang di carinya. Tidak butuh waktu lama, beliau kembali ke hadapan pria yang memakai penutup wajah untuk menyerahkan alat-alat seperti pisau, kapak, cutter, sekop, serta bahan-bahan untuk bangunan.


Pak Selamet langsung membuka bag pembungkus jenazah Anita tanpa rasa takut, seolah-olah ini bukan perbuatan yang pertama kalinya. Bau busuk menguar, terlihat darah yang mengering. Ruangan itu begitu pengap dengan pencahayaan yang redup dari lampu kecil yang di bawa oleh Pak Selamet.


"Sreettt....Sreeettt...Sreeettt".


Suara pisau yang digunakan oleh pria tersebut beradu dengan kulit dan tulang belikat milik Anita. Via menutup matanya menggunakan kedua tangan agar tidak menyaksikan perbuatan kejam mereka berdua.


"Kraaaaakkk".

__ADS_1


Suara yang begitu kuat sehingga Via membuka mata. Terlihat Pak Selamet sedang memotong kepala Anita menggunakan kapak. Kepala yang telah terputus setelah 2 kali di potong oleh Pak Selamet, di letakkan ke kain berwarna hitam. Sedangkan rekannya masih sibuk dengan pisau untuk mengoyak bagian dada Anita.


Via terduduk, kakinya terasa tak bertenaga untuk menopang berat tubuhnya. Dia merasa mual setelah menyaksikan bagaimana kejamnya perbuatan mereka. Manusia berhati iblis, tanpa rasa kemanusiaan. Air matanya mengalir, di dekap kedua lututnya sambil terus menangis tak sanggup melihat lebih jauh pemandangan yang tersaji. Namun sayangnya, dia seolah-olah di paksa untuk terus menyaksikan perbuatan kedua manusia yang tak berperikemanusiaan.


"Krakkkk...Krakkk...Krakkk"


Suara golok yang memotong tulang rusuk Anita, terlihat dengan jelas organ dalamnya. Dengan tangan kanannya, pria tersebut mengambil hati dan jantung milik Anita. Setelah itu, hati dan jantung tersebut di letakkan di samping kepalanya yang telah di penggal oleh Pak Selamet.


"Saya akan ke belakang untuk melakukan ritual, jadi kamu silahkan urus sisa tubuhnya" perintah pria berjubah hitam dengan Pak Selamet.


"Baik, Bos" jawab Pak Selamet sambil membereskan sisa potongan tubuh Anita.


Pak Selamet menarik bag yang berisi sisa tubuh Anita menuju ke ruangan khusus, ada ruangan rahasia di dalam gudang itu. Tidak membuang waktu lama, langsung membuka pintu dengan kunci yang telah di kantonginya.


"Sepertinya aku pernah ada di dalam ruangan tersebut" gumam Via sambil mengingat semuanya.


Pak Selamet langsung mengambil cangkul, ada setengah lantai yang belum di semen, masih tanah.

__ADS_1


__ADS_2