Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Foto Lama


__ADS_3

Udara mulai terasa panas, namun mereka tetap berada di dalam tenda untuk menenangkan Via yang sedang menangis.


"Dir, di panggil Pak Sigit ke kantor sekarang" panggil Riki teman satu tenda nya Dirga.


"Ada apa manggil aku?" tanya Dira heran.


"Nggak tau tuh, di suruh ke ruangannya aja tadi" jawab Riki.


"Oke, makasih, nanti aku ke sana" balas Dira.


Riki langsung pergi menuju ke tenda nya yang berada di samping tenda kelompok Via.


"Kira-kira ada apa ya?" tanya Dirga.


"Udah ah, daripada nebak-nebak ga jelas mending kamu temui dulu aja, Dir" saran Bunga kepada Dira.


"Oke, doain aku agar baik-baik saja" pinta Dira karena selama ini belum pernah di panggil oleh kepala sekolah langsung.


"Iya, semangat dan jangan takut" ucap Novi.


Dira keluar dari dalam tenda, meninggalkan teman-temannya yang sedang memikirkan misi untuk menyelidiki kasus itu dan berusaha menenangkan Via.


Langkah kakinya sengaja di percepat menuju ke ujung kelas, tempat di mana ruangan guru itu berada. Kakinya memasuki ruangan yang begitu sepi karena guru-guru banyak yang sedang sibuk mendirikan tenda serta mengatur siswanya agar segera menyelesaikan tugas masing-masing.


"Assalamualaikum, Pak" sapa Dira ketika memasuki ruang guru.


"Walaikumsalam" jawab Pak Anggi.


"Pak, tadi saya di panggil kepala sekolah ya?" tanya Dira kepada Pak Anggi.


Pak Angggi adalah guru olahraga, badan nya tinggi sekitar 190 Cm dan berperawakan kurus kekar. Wajar jika tubuhnya atletis dan tinggi, karena hobby nge-gym. Sifatnya yang humoris dan humble lah yang membuat murid di sekolah sangat akrab padanya.


"Eh iya, langsung ke ruangan nya saja ya di lantai dua" perintah Pak Anggi.


Disaat Pak Anggi menyuruh Dira untuk naik ke lantai dua, Dira hanya terdiam dan ragu. Pak Anggi paham jika muridnya itu kini sedang ragu atau bahkan masih takut karena insiden minggu lalu.

__ADS_1


"Ya udah gini aja, Bapak anterin kamu ke atas. Nanti saat kamu ke ruangan kepala sekolah, Bapak akan nungguin di teras depan sambil melihat kegiatan di lapangan dari lantai atas" tawar Pak Anggi karena paham dengan pikiran yang ada di benak Dira.


"Oke, Pak Anggi, memang guru yang paling baik dan pengertian" puji Dira.


Mereka berdua berjalan bersisian menuju ke lantai atas untuk menuju ke ruangan kepala sekolah. Saat ingin menaiki tangga, mereka melewati ruang perpustakaan khusus dokumen penting serta karya-karya siswa. Ruangan nya sepi karena memang jarang sekali ada yang masuk, di sana terpajang dengan rapi buku-buku dan dokumen-dokumen sekolah. Dira hanya melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai atas. Ruang kepala sekolah pun berada di pojokan sampingan dengan ruang praktek komputer.


Tok....Tok...Tok...


"Assalamualaikum" ucap Dira setelah mengetuk pintu karena ruangan itu di tutup.


"Walaikumsalam, masuk" jawab Pak Sigit dari dalam.


Dira mendorong pintu untuk masuk sambil mengucapkan kalimat basmallah.


"Silahkan duduk, Nak" perintah Pak Sigit.


"Terimakasih, Pak" jawab Dira sambil menarik kursi dan mendaratkan bokongnya.


"Tenang, jangan tegang gitu. Santai aja" ucap Pak Sigit tersenyum ramah.


"Kamu, saya panggil kemari untuk membahas mengenai beasiswa untuk masuk ke SMA favorit se-Jawa Barat ini" ucap Pak Sigit.


"Alhamdulillah" ucap Dira bersyukur.


"Saya akan carikan dokumen yang harus kamu isi, tunggu sebentar" perintah Pak Sigit sambil berjalan ke arah rak buku yang berjejer berisi banyak dokumen-dokumen penting.


Sambil menunggu Pak Sigit mencari dokumennya, Dira mengendarakan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan yang nyaman dengan interior yang unik, dinding berwarna abu-abu, serta tatanan ruangan yang simpel.


Terdapat sofa di dekat pintu masuk, kulkas mini, televisi, serta AC yang membuat siapapun akan betah berlama-lama di ruangan tersebut. Beberapa rak berada di belakang meja kepala sekolah, buku-buku serta dokumen penting tersusun sangat rapi. Lantai yang bersih dan wangi karena ada pengharum ruangan. Berbagai jenis piala terpajang sangat rapi di dalam lemari kaca, bukti jika sekolah ini sering menang dalam perlombaan.


Di dinding pun banyak terpajang berbagai jenis sertifikat serta foto guru-guru yang sangat kompak dengan seragam nya. Ada foto siswa yang sedang memegang piala sebagai penghargaan saat acara paskibraka di tingkat kabupaten, mereka tersenyum bahagia dengan seragam putih polos. Ada juga tiga siswa yang memegang piala memakai seragam putih biru karena berhasil menang olimpiade sains tingkat nasional serta di paling ujung terlihat enam siswi tengah memegang piala menggunakan seragam berwarna ungu dengan list putih. Di sana tertera jika mereka memang juara dua tingkat nasional untuk bola voli.


Dira tertegun dan menatap dengan pasti ke arah bingkai foto yang berisikan enam siswi yang sedang tersenyum menatap ke arah kamera. Seorang siswi yang cantik dengan rambut sebahu sedang memegang piala, disamping kanannya berdiri pula seorang siswi cantik dengan rambut panjang yang dikepang dua dan di samping kirinya seorang siswi dengan gaya tomboi berambut pendek. Serta kedua temannya berambut Bob dan yang paling ujung sebelah kiri berambut panjang yang tergerai.


Melihat Dira menatap takjub ke arah foto yang berisikan enam siswi berprestasi dalam bidang olahraga itu, membuat Pak Sigit kembali tersenyum.

__ADS_1


"Mereka adalah siswi yang berprestasi dan mengharumkan nama baik sekolah ini" jelas Pak Sigit.


"Heeeemmm, iya" jawab Dira tergugup karena kedapatan jika dirinya telah lancang melihat isi ruangan sang kepala sekolah.


"Kamu pun salah satu siswi yang berprestasi dan telah mengharumkan nama baik sekolah, semoga beasiswa ini dapat membantumu meraih cita-cita" ucap Pak Sigit penuh wibawa.


"Terimakasih, semoga saja nanti saya bisa meraih cita-cita yang selama ini saya impikan, Pak" ucap Dira tersenyum penuh harap.


"Sekarang isi lah data-data mu, pastikan jangan sampai ada yang salah" perintah Pak Sigit sambil menyodorkan beberapa lembar kertas untuk di isi oleh Dira.


"Baik Pak" jawab Dira sambil menerima kertas yang di sodorkan oleh kepala sekolah.


Dira segera mengisi data-data dirinya dengan cepat, pikirannya kini di penuhi dengan tanda tanya besar mengenai siswi yang berseragam olahraga berwarna ungu terong. Dia tidak bisa mengetahui dengan pasti, karena yang hanya melihat siswi tersebut adalah sahabatnya, Via.


Setalah memeriksa ulang data-data yang telah diisi nya, Dira menyerahkan lembaran kertas tersebut ke Pak Sigit dan segera berpamitan.


"Terimakasih, Pak, saya pamit keluar" ucap Dira sambil menjabat tangan Pak Sigit.


"Sama-sama, semoga sukses" ucap Pak Sigit.


Dira langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan pikiran berkecamuk. Di luar, Pak Anggi melihat wajah bingung dan murung yang di tampilkan oleh siswinya langsung bertanya, apakah yang terjadi di dalam.


"Apa kau baik-baik saja" tanya Pak Anggi sambil mensejajarkan langkahnya.


"Ya, saya baik-baik saja Pak" jawab Dira singkat.


Pak Anggi melihat jika Dira kini sedang berbohong kepadanya. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di ruangan kepala sekolah tadi sehingga membuat sang murid menjadi murung.


"Tadi kenapa Pak Sigit memanggil mu?" tanya Pak Anggi tidak dapat menahan rasa penasarannya.


"Saya di suruh untuk mengisi data-data diri yang di gunakan untuk beasiswa, Pak" jawab Dira dengan wajah datar.


"Wow, seharusnya ini kabar gembira dong" jawab Pak Anggi terkagum.


"Iya, saya gembira, Pak" ucap Dira sambil tersenyum yang di paksakan.

__ADS_1


Pak Angggi menyadari jika siswinya tidak berbahagia. Ini begitu aneh, karena setiap orang pasti sangat girang jika mendapatkan beasiswa. Kini, sikap Dira berbanding terbalik saat awal pengumuman kelulusan Minggu lalu yang begitu antusias ketika mengetahui dirinya menjadi bintang sekolah dan mendapatkan predikat siswi tercerdas sehingga beasiswa itu diraihnya.


__ADS_2