Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Teror


__ADS_3

Malam kian larut, angin bertiup cukup kencang dan kilat menyambar beberapakali. Bunyi binatang malam pun sunyi, padahal sebelumnya ramai suara jangkrik dan rembulan bersinar dengan terang.


Tok...Tok...Tok..


Suara pintu utama di ketuk oleh seseorang. Mbok Asih langsung bergegas keluar kamar untuk membukakan pintu yang di ketuk.


"Siapa ya?" tanya Mbok Asih ketika tidak melihat seorangpun berada di luar.


"Aneh, kok nggak ada orang gini?" batin Mbok Asih.


Bulu kuduk Mbok Asih mulai meremang dan suasana di sekitar rumah cukup mencekam, angin berhembus kencang dan hujan mulai turun. Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi, dingin mulai menusuk kulit.


"Sepertinya hujan malam ini akan sangat awet dan bikin tidur nyenyak" ucap Mbok Asih sambil menutup pintu.


Mbok Asih langsung masuk ke kamarnya untuk melanjutkan merangkai mimpi di malam yang sunyi.


Tok...Tok...Tok...


Suara pintu kamar Via di ketuk dari luar, saat ini Via sedang bermain game di ponselnya merasa terganggu dengan suara ketukan tanpa suara orang.


"Masuk aja, nggak di kunci kok" pekik Via dari dalam tanpa beranjak membukakan pintu.


Anehnya suara ketukan menghilang dan tak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa yang mengetuk pintu akan masuk. Via meneruskan game nya karena sedang seru, saat seru-serunya bermain game, ketukan pintu itu ada lagi.


Tok...Tok...Tok


Ketukan itu sangat pelan, membuat Via kesal karena mengira sedang di kerjai oleh seseorang.


"Please deh ga usah becanda" teriak Via tanpa membuka pintu kamarnya.


Sesaat suasana menjadi hening kembali.


Tok...Tok...Tok...


Pintu kembali di ketuk.


"Kak Zein ga lucu tau" teriak Via karena mengira kakaknya sedang berbuat jahil.


Suasana kembali hening seperti tidak ada orang di luar sana.


Kretak... tak...tak...


Suara jendela terbuka dan di tiup oleh angin kencang. Gorden tertiup angin sehingga gelap nya malam dapat terlihat jelas oleh netra Via. Sebuah bayangan dengan kain putih agak kekuningan menggantung di pohon mangga yang menjulang tinggi, samping rumah Via.


Tiba-tiba bayangan kain tersebut seperti melayang dan...


Brukkk

__ADS_1


Benda yang di bungkus kain tersebut masuk dan terjatuh di lantai, tepat di hadapan Via. Sesaat ia hanya tertegun menatap benda tersebut, namun ketika kesadarannya pulih langsung teriak histeris.


"Aaaaaaaaaaaaaaakkkhh" jerit Via, sehingga semua orang terbangun dan berlari menuju ke kamar atas.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Zein ketika melihat Via menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Via masih meringkuk ketakutan di bawah selimut, wajahnya pucat pasi serta keringat bercucuran.


"Ini Den, Non Via harus minum dulu biar tenang" ucap Mbok Asih sambil mengangsurkan segelas air putih.


"Coba minum dulu, Dek" perintah Zein sambil mengangsurkan gelas ke Via.


Via meminum air putih tersebut dengan sekali tegukan saja, saat semua sedang melihat ke arah Via tiba-tiba...


Braaaaakkkk


Pintu di banting dengan sangat keras sehingga semua yang ada di kamar terkejut, langsung mereka semua melihat ke arah pintu kamar Via. Tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di sana karena semuanya telah berkumpul di tempat tidur Via.


Tidak ada suara apapun, hanya ada suara napas dan detak jantung yang begitu kencang akibat rasa takut. Sunyi mendera, namun sedikit pun tidak ada yang berani untuk beranjak melihat keluar, untuk sekedar memastikan apa yang ada di luar kamar.


Semua terdiam dengan pikiran berkecamuk, tidak ada yang berani bersuara. Hanya saling pandang dengan pikiran yang tidak bisa di jelaskan. Suasana berubah menjadi mencekam dan napas pun tercekat di kerongkongan akibat ketakutan yang mendera dan tiba-tiba...


Tap...Tap...Tap....


Suara orang yang sedang melompat-lompat di depan pintu kamar Via. Mereka semua saling pandang dan segera menyadari bahwa tidak ada orang lagi di luar sana karena semua telah berkumpul di kamar Via.


Pintu didorong dari luar secara perlahan, semua mata menatap tajam ke arah pintu yang mulai terbuka secara perlahan.


Tap...Tap...Tap


Seseorang, lebih tepatnya pocong yang melompat-lompat ke arah mereka semua. Tidak ada yang berani bergerak atau teriak karena suara mereka tercekat di tenggorokan. Tubuh terasa kaku, keringat dingin mulai bercucuran dan hanya bisa menatap ketakutan ke arah pocong itu berada.


"Kabuuurrrrr" teriak Novi ketika jarak pocong tersebut tinggal beberapa langkah dari tempat mereka berkumpul.


Semua orang yang berada dalam kamar Via berlari keluar kamar, kecuali Via karena kaki nya sakit dan tidak sanggup untuk berjalan apalagi berlari. Tubuh Via menggigil ketakutan namun tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan dia berharap ingin pingsan saja agar tidak melihat pocong.


"Den, Non Via di dalam" teriak Mbok Asih ketika menuruni tangga menuju lantai bawah.


"Astaghfirullah haladzim, kok bisa lupa sih" ucap Zein sambil menepuk jidatnya karena lupa.


"Duh gimana donk, masa mau balik ke kamar lagi" Bunga ketakutan jika harus kembali ke kamar itu.


Zein memutuskan untuk kembali ke kamar menjemput, Via. Teman-teman Via pun ikut kembali ke kamar meskipun mereka tidak masuk ke dalam, hanya melihat sampai pintu yang terbuka setengahnya saja.


Terlihat dari luar jika pocong tersebut perlahan mulai mendekat kearah Via. Via hanya bisa menangis karena ketakutan.


"Minggiiiiiiiiiirrrrrrrrr" teriak Zein melewati pocong ke arah Via.

__ADS_1


Kasih sayangnya lah yang membuat Zein nekat untuk memberanikan diri masuk ke kamar tersebut dan mengalahkan rasa takut demi adik tersayang.


Zein langsung menggendong Via untuk keluar dari kamar. Via hanya pasrah sambil terus menangis, wajahnya pucat pasi akibat rasa takut yang menderanya.


Setelah berhasil melewati pocong dan segera turun ke lantai bawah untuk kabur. Zein terus menggendong Via, mereka menuju ke kamar tamu untuk bersembunyi dari pocong yang menakutkan.


"Kunci pintu" perintah Zein kepada Dirga.


"Yuk Non, kita gotong meja rias ini agar si pocong nggak ikutan masuk kamar ini" ajak Mbok Asih kepada Novi dan Bunga.


"Udah Mbok ga usah, biar saya sama Dirga aja" ucap Zein.


Zein dan Dirga langsung menggotong lemari hias ke arah pintu kamar agar pocong itu tidak bisa masuk lagi.


Semuanya harap-harap cemas menantikan semoga si pocong tidak muncul lagi.


Bau semerbak melati mulai tercium di Indra penciuman mereka, semuanya langsung saling pandang.


"Tadi nggak ada bau bunga melati, tapi kok sekarang baru muncul baunya" protes Novi.


"Sssstttttttt diam" perintah Dirga kesal karena Novi agak berisik.


Tap...Tap...Tap...


Suara melompat-lompat di depan pintu kamar itu, mereka kini paham jika itu pasti suara pocong yang melompat-lompat. Ketakutan kembali menjalar di hati mereka, takut jika tiba-tiba si pocong berhasil masuk ke dalam kamar.


Duk...Duk....Duk...


Suara pintu kamar yang di gedor dari luar, suasana semakin mencekam. Via, Bunga, dan Novi langsung menangis, air mata terus keluar tanpa henti.


Mereka berharap pingsan saja agar tidak melihat si pocong yang menakutkan. Bentuk wajah yang agak gosong dan di penuhi oleh belatung serta bau busuk yang membuat mual adalah ciri khas dari si pocong.


Tak berselang lama tiba-tiba suasana jadi hening kembali, sepertinya si pocong menyerah karena tidak bisa untuk masuk ke kamar.


"Kayaknya si pocong kabur deh karena ga bisa ikut masuk sini" ucap Novi karena suasana kembali stabil, tanpa ada gangguan dari pocong.


"Mungkin dia capek kali, gedor-gedor pintu tapi ga ada yang mau bukain" jawab Bunga asal.


"Eh emang si pocong bisa gedor-gedor pintu ya, kan secara tangannya masih di bungkus kain kapan" tanya Dirga heran.


"Pakai kepala mungkin, di jedotin gitu" jawab Zein asal.


"Hahhahahahahahaaaaaa, terus sekarang kepalanya benjol kali, makanya dia kabur nahan sakit" ucap Novi sambil tertawa geli.


Saat semuanya tertawa karena membayangkan kepala si pocong benjol, tiba-tiba....


"Viiiiiiaaaaaa, tooolloooooooooonngg" suara laki-laki minta tolong begitu menyayat hati yang membuat mereka semua terdiam.

__ADS_1


Bau busuk kembali memenuhi ruangan itu, bulu kuduk mulai meremang lagi. Keringat dingin mulai bercucuran lagi dan badan menggigil akibat ketakutan.


__ADS_2