Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Akrab


__ADS_3

Semenjak kerja kelompok, Bunga menjadi akrab dengan Via. Bahkan tak jarang mereka sering pergi bermain bersama. Terkadang pergi mencari buku, menonton atau pergi mengunjungi tempat wisata bersama.


"Vi, kulihat akhir-akhir ini kau sering pergi bersama dengan Bunga?" tanya Dira ketika di kantin.


"Iya, Bunga asyik juga ternyata orangnya" jelas Via sambil tersenyum.


"Sepertinya begitu, tapi kamu harus tetap berhati-hati" pesan Dira kepada sahabatnya.


"Tentu Bu Guru" jawab Via terkekeh.


Sore ini Bunga menghubungi Via melalui smartphone nya, dia meminta untuk di temani pergi membeli kado di mall untuk sepupunya. Via pun menyanggupi ajakan dari Bunga. Dia segera bersiap-siap untuk pergi.


Bunga telah tiba di rumah Via, dia mengendarai sepeda motor kesayangannya. Via segera menghampiri nya, Via menggunakan kaos dan jeans serta sepatu kets. Tampilannya sangat casual dengan rambut di kuncir.


Setelah selesai mencari kado, mereka memutuskan untuk makan di restoran khas Jepang. Menu Suki yaki menjadi menu favorit di restoran ini. Saat menunggu pesanan makanan, tiba-tiba Dirga datang bersama temannya.


"Maaf terlambat" ucap Dirga


"Tumben Sayang, nggak standby" rajuk Bunga.


"Ini nih, gara-gara nungguin Dia makanya terlambat" jelas Dirga sambil menyenggol lengan temannya.


"Enggak biasanya dia ikut?" tanya Bunga.


"Ya nggak tega aku kalau misalkan kita pacaran, tapi si Via dijadikan obat nyamuk" jelas Dirga sambil tertawa.


"Mulai deh, mau ngajak debat?" tanya Via sinis.


"Gak usah jutek-jutek deh Neng, ntar cantiknya hilang loh" goda Dirga.

__ADS_1


"Udah ah, mending kalian kenalan dulu" pinta Bunga sambil melirik ke arah Via dan temannya Dirga.


"Hy, aku Catur" ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arah Via.


"Via" balas Via singkat.


"Kenalan itu sambil tersenyum kek, cantik-cantik kok pelit senyuman. Padahal senyuman itu murah tanpa keluar uang" sindir Dirga.


"Pernah di cabein nggak itu mulut?" tanya Via sambil melotot ke arah Dirga.


"Woy, slow donk Neng. Jangan bar-bar, ntar malah viral lho" ucap Dirga.


"Udah-udah, kalian itu nggak ada capeknya apa ya debat mulu. Damai donk, bosen tau dengar kalian debat mulu. Tiap ketemu selalu saling ledek, udah kaya Tom and Jerry aja" lerai Bunga. Setiap perdebatan antara Via dan Dirga terjadi, maka Bunga selalu menengahinya dan perdebatan itu terhenti.


"Ayo makan, nggak cape apa ngomong mulu dari tadi?" perintah Catur ketika pramusaji restoran itu menghidangkan menu pesanan mereka.


Suasana menjadi hening ketika mereka semua sibuk dengan makanan masing-masing, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Semenjak itu hubungan antara Via, Catur, Bunga serta Dirga semakin akrab, tak ada lagi perdebatan antara Dirga dan Via. Mereka lebih sering pergi main bersama, namun hubungan persahabatan antara Via dan Dira tetap berjalan baik meskipun ketika di luar jam sekolah, Via lebih sering pergi bermain dengan Bunga.


"Vi, aku suka lihat postingan kamu yang upload foto lagi hengout bareng sama Bunga dan Dirga akhir-akhir ini" ucap Bunga ketika mereka di perpustakaan sekolah.


"Iya, mereka itu asyik loh, Dir" jelas Via.


"Emangnya Kakakmu nggak marah kalau kamu sering pergi main sama mereka?" tanya Bunga menyelidiki.


"Sejauh ini kakakku tahunya kalau aku pergi kerja kelompok, beli buku, atau sesekali izin pergi main sama mereka. Dia sih nggak marah kalau nggak keseringan main. Dia juga akhir-akhir ini jarang pulang karena sibuk dengan aktifitas kampusnya" keluh Via.


"Sabar ya Vi, aku paham kondisimu saat ini, tapi harus tetap waspada karena ada satu laki-laki yang sering banget ikut sama kalian dan sepertinya dia bukan dari sekolah kita?" tanya Bunga.

__ADS_1


"Iya, Dia Catur. Catur dari Madrasah Tsanawiyah di kecamatan sebelah. Anaknya tampan, baik, sopan dan tentunya dia sering sekali membantuku mengerjakan tugas sekolah" jelas Via sambil tersenyum membayangkan wajah Catur.


"Kayaknya sahabatku satu ini lagi kasmaran deh" tebak Dira.


"Apaan sih, aku itu nggak kasmaran kok" elak Via.


"Kamu nggak bisa bohongin aku, kita sahabatan itu sejak SD jadi aku paham banget sama perubahan sikap kamu" jelas Dira.


"Aku cuma temenan doank kok, nggak lebih beb" jelas Via sambil bersandar di bahu Dira.


"Kasmaran itu wajar, asal jangan berlebihan" pesan Dira.


"Aku akrab sama mereka untuk mengusir rasa bosan ketika di rumah. Semenjak Kakak ku sibuk kuliah, aku jadi nggak punya teman lagi untuk bermain. Mereka datang disaat aku benar-benar tidak punya siapa-siapa ketika di rumah" keluh Via.


"Aku sangat paham tentang permasalahan mu, Vi" ucap Dira iba.


"Menurut mu nanti kalau ternyata aku ada rasa dengan Catur dan Catur pun demikian, bagaimana?" tanya Via sambil mendongakkan wajahnya untuk meminta pendapat kepada sang sahabat.


"Itu hak mu, kalau kamu merasa nyaman dan Catur adalah seorang cowok baik-baik maka tidak ada salahnya untuk menerima Dia menjadi kekasih. Tapi, alangkah baiknya jika saat ini lebih fokus ke sekolah dulu. Wujudkan semua cita-cita kita selagi mampu dan berusia masih muda. Kalau nanti ternyata dia memang jodohmu, maka kalian akan bersama apapun rintangannya" ucap Dira lembut sambil membelai rambut panjang milik Via.


"Adem kalau udah dengerin kamu ngasih nasehat kayak gitu, jadi keinget sama Kak Zein. Cuma Kak Zein, Mbok Asih, dan kamu yang selalu menasehati ku, padahal aku ini putri satu-satunya Mami, tapi Mami nggak peduli sama aku" keluh Via.


"Mami kamu bukan nggak peduli, tapi beliau sibuk bekerja demi memenuhi segala kebutuhan kamu dan Kak Zein" jawab Dira agar Via bisa mengerti posisi sang Ibu.


"Sibuk bekerja itu wajar, tapi udah bertahun-tahun, Mami nggak pernah memenuhi kewajibannya sebagai seorang Ibu untuk anak-anaknya. Hanya materi tanpa adanya kasih sayang yang ia curahkan sama aja ibarat masakan tanpa garam, hambar, Dir" jelas Via sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Itulah resikonya, menjadi single perent memang sulit. Seharusnya untuk menjadi kepala keluarga bukanlah tugasnya, kini harus di ambil alih, bukan sebagai tulang punggung tapi mau nggak mau harus mau karena ada dua orang anak yang harus di nafkahi demi kelangsungan hidupnya. Di sini aku bukan menggurui mu, hanya saja tolong hargai jerih payahnya dalam mencari nafkah. Takdir itu pasti bukan keinginan Mami mu, tapi beliau tidak punya pilihan lain selain menerima dan bersabar dalam menjalankan kewajibannya sebagai Ibu dan Ayah bagi kalian. Peran ganda bukanlah hal yang mudah dan nggak semua orang bisa menjalani nya" ucap Dira agar sang sahabat tidak lagi selalu menyalahkan sang Ibu yang sibuk tanpa memikirkan dirinya yang selalu kesepian.


"Baiklah, aku paham" hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir mungilnya.

__ADS_1


Setiap ucapan yang keluar dari sahabatnya mampu menyejukkan hati. Terasa damai dan begitu bijak. Persahabatan memang saling melengkapi dan mengingatkan demi kebaikan.


__ADS_2