
Dira berjalan di depan menenteng ember, sedangkan Via dan Catur berjalan di belakang nya. Mereka melewati koridor dan berjalan agak tergesa menuju kamar mandi yang terletak di belakang ruang laboratorium yang sampingan dengan gudang sekolah.
Setelah tiba di kamar mandi, Dira masuk untuk mengisi air dengan ember yang di bawanya. Via dan Catur hanya menunggu di depan kamar mandi sambil mengamati sekeliling yang masih sepi karena semua sibuk di tengah lapangan untuk mendirikan tenda.
Kelas sembilan di haruskan membawa tenda sendiri, satu tenda berisi 4 orang siswa dan siswi, sedangkan kelas tujuh dan delapan di berikan tenda umum. Satu tenda berisi 20 siswa dan siswi. Kini ada 18 tenda siswa dan 2 tenda guru, ada lima warna tenda yang ada.
"Apa kita bisa menemukan misteri di sekolah ini?" tanya Via.
"Kita harus coba agar tidak di ganggu lagi, Emang kamu mau selalu di ganggu sama hal-hal mistis gitu" Catur balik bertanya.
"Nggak mau lah, bisa stres lama-lama" decak Via.
"Ya udah semangat, kita harus bisa ngumpulin bukti-bukti agar masalah ini segera terselesaikan".
"Iya, semoga segera selesai karena aku ngebatin, udah ga kuat di teror terus" keluh Via.
"Aku janji akan berusaha dengan semampuku untuk segera menyelesaikan semuanya, aku nggak mau lihat kamu terus-terusan di teror dan nggak tenang hidup nya" crocos Catur.
Saat Catur berbicara, sepasang mata Via melihat ke arah samping gudang yang berseberangan dengan mereka berdiri. Di seberang sana terlihat seorang siswi yang memakai seragam olahraga berwarna ungu terong dengan rambut sebahu tengah menatap lurus ke arah nya. Tatapan yang begitu dingin, wajah pucat dan datar tanpa ekspresi.
Kedua netra mereka bertemu, pandangan yang begitu tajam dan menusuk sehingga membuat Via bergidik ngeri. Bulu kuduknya pun meremang, sehingga membuat Catur merasa aneh dengan ekspresi yang di tampilkan oleh Via.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Catur memegang kedua bahunya, sehingga kini mereka berhadapan.
__ADS_1
"Aku melihatnya lagi" jawab Via lirih.
"Siapa?" tanya Catur bingung.
"Di sana" jawab Via sambil menunjuk ke arah samping gudang.
Sontak membuat Catur mengalihkan pandangannya menuju ke arah telunjuk Via yang mengarah ke depan. Di sana tidak terlihat siapapun, bahkan saat Via menatap ke depan dan bergidik ngeri, Catur tidak melihat apapun. Suasana sekitar sangat lengang, siswa-siswi masih terlalu sibuk di lapangan untuk menata barang-barang di tenda.
"Di sana nggak ada siapa-siapa lho" jawab Catur.
"Aku tadi benar-benar melihatnya di sana" bantah Via.
"Ada apa sih ini, kok ribut-ribut?" tanya Dira ketika keluar dan mendapati kedua temannya itu sedang berdebat.
"Vi, dengerin aku ya. Di sini nggak ada siswi yang memakai seragam selain Pramuka, karena tujuan kita itu untuk kemah bukan olahraga" jelas Dira.
"Aku benar-benar melihatnya memakai seragam olahraga berwarna ungu dengan rambut sebahu, dia terlihat sangat cantik" bantah Via karena sangat yakin dengan apa yang di lihatnya.
"Sayang, mungkin kamu salah lihat" ucap Catur.
"Kalian nggak percaya aku?" tanya Via terhenti dan menghembuskan nafas dengan kasar.
"Kalian pikir aku ngarang atau sedang berhalusinasi gitu?" tanya Via lagi sambil berkaca-kaca matanya.
__ADS_1
"Bukan begitu, Vi" jawab Dira sambil menghela napas nya dan kemudian melanjutkan ucapannya.
"Kita tahu kan kalau di SMP ini nggak ada seragam olahraga berwarna ungu. Angkatan kita aja warna hijau dengan list hitam, lalu adik kelas delapan berwarna merah dengan list hitam serta kelas tujuh berwarna biru dengan list hitam. Jadi mana ada siswi yang sekolah di sini yang menggunakan seragam olahraga berwarna ungu terong" jelas Dira.
"Aku benar-benar melihatnya, aku kecewa sama kalian yang nggak percaya sama aku" teriak Via sambil emosi dan berlari menuju ke depan.
Hati nya begitu sakit saat ucapnya tidak di percayai oleh sahabat dan kekasihnya. Mereka menganggap jika Via berhalusinasi karena terlalu memikirkan misi untuk menyelidiki kasus yang sedang mereka hadapi kini. Perih melanda jiwa, bagaimana mungkin jika apa yang di lihatnya tidak dapat di lihat orang lain.
Dia buru-buru masuk dan menangis, menumpahkan segala gejolak yang menjadi beban di hidupnya. Dengan menangis, dia merasakan bebannya berkurang walaupun hanya sedikit.
Teman-temannya terkejut melihat kedatangan Via yang menangis karena setahu mereka, Via pergi bersama dengan Catur dan Dira.
"Vi, kamu kenapa nangis?" tanya Novi kepo.
Via terus menangis tanpa memperdulikan pertanyaan dari teman-temannya yang kebingungan. Tidak berselang lama, Dira dan Catur masuk ke dalam tenda.
"Sayang, maafin aku ya. Aku nggak bermaksud untuk menuduh kamu berhalusinasi atau berbohong" ucap Catur sambil menggenggam jemari tangan Via.
Via masih bergeming, tidak memperdulikan ucapan Catur karena sakit hati nya ketika perdebatan yang cukup alot di depan kamar mandi.
"Vi, please deh jangan nangis lagi. Kita berdua bukan nggak percaya sama ucapan kamu, tapi memang kami nggak pernah lihat apapun di sana" ucap Dira memelas.
"Emang ada apa sih?" tanya Novi kepo karena belum paham dengan maksud ucapan Dira dan Catur.
__ADS_1