
Kini mereka berdua mengendap-endap di dalam perpustakaan, ada rasa takut yang menjalar di relung hati keduanya. Terlihat sebuah bayangan berdiri di dekat rak paling pojok.
Perlahan-lahan mereka mulai mendekati rak bagian pojok, beberapa rak berjejer membentuk barisan sehingga jika ada seseorang yang bersembunyi tidak akan terlihat.
"Braaakkkkk"
Suara buku terjatuh ketika tidak sengaja kesenggol oleh lengan Via.
"Siapa itu?" tanya orang yang berada di dalam perpustakaan.
"Kami" jawab Dira.
"Ngapain kalian di sini?".
"Kami tadi tidak sengaja lewat dan melihat ruangan ini terbuka, Pak" jawab Via.
Setelah itu ada cahaya dari senter yang di bawa oleh sang guru.
"Oh, kalian, Via dan Dira" ucap Pak Anggi ketika telah menyalakan senter nya.
"Bapak ngapain di sini?" tanya Dira.
"Saya di suruh kepala sekolah untuk menaruh data-data kalian di sini" jelas Pak Anggi.
"Oh begitu, jadi perpustakaan ini memang khusus untuk data-data penting ya, Pak" gumam Dira.
"Benar, semua data-data dari awal sekolah ini didirikan pun semua nya ada di sini" tambah Pak Anggi.
"Baiklah, kami akan ke atas dulu, Pak" pamit Dira.
"Di panggil pak kepala sekolah lagi?" tanya Pak Anggi sambil mengernyitkan dahinya.
"Ah enggak, hanya ada data yang salah dan saya harus segera memperbaiki nya, Pak" jelas Dira.
"Ya sudah, ke atas saja dan pastikan jika data-data mu tidak salah lagi" pesan Pak Anggi sambil tersenyum.
"Insyaallah, Pak" jawab Dira sambil beranjak keluar meninggalkan Pak Anggi seorang diri.
Tok....Tok....Tok....
"Silahkan masuk" ucap Pak Sigit dari dalam.
"Permisi Pak, maaf ganggu" ucap Dira sambil berjalan ke arah dimana Pak Sigit sedang duduk.
"Ya, ada apa?".
"Maaf Pak, saya ada sedikit kesalahan dalam menulis data diri. Apakah boleh saya perbaiki?" tanya Dira.
"Oh, tentu. Saya ambilkan dulu kertas tadi" ucap Pak Sigit.
"Kalian berdua silahkan duduk saja dulu" tambahnya lagi.
__ADS_1
Saat Pak Sigit mengambil kertas yang berisi data-data yang telah diisi oleh Dira, Dira mengkode ke arah Via bahwa foto itu di dinding dekat pintu masuk.
Via langsung melihat ke arah yang telah di tunjuk oleh Dira. Saat kedua netra nya menatap bingkai foto yang berisikan keenam siswi sedang tersenyum memegang piala, ada rasa bahagia terpancar di wajah mereka karena telah memenangkan perlombaan olahraga tingkat nasional. Via terkejut, menatap sangat dalam untuk memastikan jika apa yang kini di lihat oleh nya tidak salah.
Sorang siswi memakai seragam olahraga berwarna ungu terong dengan list putih sedang tersenyum memegang piala, rambut nya sebahu dengan lesung pipi di sebelah kiri menambah manis wajah mungilnya. Siswi yang beberapa kali muncul di sekolah ini sekarang bisa di lihat dengan jelas di dalam bingkai foto tersebut.
Via terpesona oleh senyum bahagia yang terpancar dari wajah siswi misterius itu. Namun, ketika tatapan Via semakin dalam, tiba-tiba saja foto tersebut mengalami hal aneh. Terdapat darah yang mengalir dari kedua matanya yang membentuk genangan.
Sontak Via terkejut dan refleks menjerit sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Pemandangan yang sangat aneh dan mengerikan itu membuat napasnya memburu dengan cepat.
"Astaga" pekik Via sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ada apa Vi?" tanya Dira merasa aneh.
Via hanya menunjuk ke arah foto yang di pajang di dinding, tepat di belakang mereka duduk. Dira langsung memutar badan untuk melihat ada apa di belakang mereka yang membuat sahabatnya kini seperti begitu ketakutan.
"Di belakang nggak ada apa-apa" jelas Dira bingung.
"Di foooottoo" ucap Via terbata-bata.
Dira sekali lagi menolah ke belakang dan melihat langsung ke foto, namun sedikit pun tidak menemukan keanehan di sana.
"Ini kertas nya, coba di isi dengan teliti agar tidak salah" pesan Pak Sigit mengagetkan Dira.
"Baik, Pak" jawab Dira sambil menerima kertas yang di sodorkan oleh Pak Sigit.
Dira pura-pura mengisi biodatanya, sedangkan Pak Sigit tidak memperhatikan kedua siswinya karena sibuk dengan laptopnya.
"Ini Pak, sudah selesai" ucap Dira setelah beberapa menit pura-pura menulis.
"Insyaallah, Pak. Sudah saya cek kok" jawab Dira.
"Baiklah terimakasih" ucap Pak Sigit.
"Kami pamit undur diri, Pak, mau ke tenda lagi" jawab Dira sambil menjabat tangan Pak Sigit.
Dira dan Via bergegas keluar ruangan, keduanya tidak sabar untuk menyampaikan berita penting ini agar teman-temannya dapat memikirkan ide dalam menyelesaikan misi.
"Kamu tadi lihat apa sih?" tanya Dira kepada Via.
Via terus terdiam, bingung menjelaskan karena dia yakin sekali jika Dira pasti tidak akan mempercayai ucapannya. Dira berada di ruangan yang sama dan ketika diminta untuk melihat ke arah bingkai foto tersebut, dia tidak melihat hal aneh apapun. Itu artinya, dirinya seorang lah yang bisa melihat hal-hal ghaib.
"Menurut mu, apa mungkin aku ini bisa melihat hal-hal ghaib?" tanya Via menghentikan langkah kaki Dira.
"Indigo gitu?" tanya Dira balik.
"He eh" jawab Via sambil mengangguk.
"Nggak lah, kamu tau kan kalau indigo pasti bisa lihat hantu, pocong, kuntilanak, jin, tuyul serta hantu lainnya" sanggah Dira.
"Di rumah aku beberapa kali melihat Mr. Pose dan di sekolah ini siswi yang telah mati dengan tragis pun tak luput dari penglihatan ku" gumam Via.
__ADS_1
"Iya juga ya, tapi kalau memang kamu indigo seharusnya kan bisa melihat arwah nya Haris juga dong?" tanya Dira lagi.
"Entahlah, pusing aku. Yuk kita cepat-cepat ke tenda biar ngasih tau mereka info ini" ucap Via.
Mereka bergegas kembali agar segera tiba di tenda.
Di tenda, keempat temannya sedang asyik bercanda. Menikmati momen kebersamaan dan melepas tawa, terlihat mereka sedang berusaha rileks agar tidak terlalu memikirkan permasalahan yang sedang di hadapi.
"Gimana?" tanya Novi ketika melihat kedua temannya kembali.
"Sebaiknya kita bicarakan di dalam tenda" ajak Dira.
Semua memasuki tenda dan duduk melingkar.
"Berita apa yang kalian bawa?" tanya Dirga.
"Mungkin Via saja yang bisa menjelaskan nya" jawab Dira melirik sahabatnya.
Yang dilirik hanya terdiam membisu, ada keraguan yang menyelimuti perasaan via. Dia terlalu takut jika teman-temannya tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh nya.
"Sayang, kok diam aja" tanya Catur sambil memegang dagu sang kekasih dan mengangkatnya.
"Kamu kenapa, cerita sama aku" ucap Catur lembut.
"Aku khawatir kalian nggak akan percaya dengan ucapanku" jawab Via sambil tertunduk.
"Kita semua percaya kok, Vi. Kamu jangan berpikir seperti itu, disini semua nya akan jujur dan saling membantu agar masalah ini segera terselesaikan" ucap Bunga bijak.
"Kalian yakin mempercayai apapun ucapanku?" tanya Via kembali memastikan.
"Tentu, jadi jangan ragu ya" jawab Dira cepat sambil tersenyum lembut.
"Baiklah, aku akan menceritakan semua yang kulihat di ruangan Pak Sigit tadi" jawab Via mantap.
"Saat Dira menunjukkan bingkai foto yang berisi keenam siswi memakai seragam olahraga berwarna ungu terong sedang memegang piala, aku langsung teringat dengan siswi yang beberapa kali ku lihat" jelas Via sambil menjeda ucapannya dan menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku yakin banget kalau anak itu sama persis dengan yang ku lihat, berambut sebahu, namun saat bertatapan dengan ku ketika di samping gudang, terlihat wajahnya yang dingin tanpa ekspresi serta sorot mata yang begitu tajam sehingga membuatku bergidik ngeri. Ku pandangi foto itu sangat lama untuk memastikan jika aku tidak salah menilai, ternyata di luar dugaan ku. Dari kedua matanya mengalir darah segar, dan bola matanya bergerak melotot kearah ku sehingga aku tersentak kaget. Aku takut sekali" jelas Via sambil menangkupkan kedua tangan di wajahnya dan menangis.
"Jangan nangis, tenanglah, aku akan selalu membantumu" ucap Catur sambil menyenderkan kepalanya sang kekasih di bahunya.
"Anehnya, aku nggak melihat hal yang aneh di foto itu ketika Via bilang lihat ke foto" ucap Dira.
"Jadi, hanya Via yang bisa melihatnya?" tanya Bunga.
"Ya, dan Via ketakutan sekali, tapi untungnya Pak Sigit tidak mencurigai kami" jelas Dira.
"Satu persatu bukti telah kita temukan, saatnya kita mencari bukti yang lainnya agar bisa mengungkap kasus ini" ucap Dirga bersemangat.
"Kira-kira apa yang harus kita lakukan?" tanya Catur.
"Belum tau, nanti kita pikirkan bersama. Sekarang, saatnya kita menyiapkan makan siang karena perutku sudah lapar sekali. Dalam kondisi lapar begini, otak mana bisa berfungsi dengan baik" jawab Dirga yang di sambut tawa oleh semuanya.
__ADS_1
"Ayo kita siapkan makan siang" ajak Bunga sambil bangun dari tempat duduknya dan keluar dari tenda.
Bunga, Novi dan Dira sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak, sedangkan Dirga dan Riki sibuk membuat tungku untuk memasak. Ini pertama kalinya mereka mengikuti perkemahan karena sebelumnya tidak di izinkan oleh orang tua masing-masing.