Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Jadian


__ADS_3

"Maaf untuk apa, Vi?" tanya Catur.


Via terus saja bungkam dan menunduk, tak ada ucapan yang keluar dari bibirnya.


"Vi, kamu nggak mau ya?" tanya Catur dengan nafas tercekat.


"Maaf kalau aku nggak bisa nolak, aku juga ngerasa nyaman saat di dekat kamu. Kamu baik dan peduli sama aku selama ini" ucap Via masih tertunduk, sedangkan Catur tersenyum bahagia.


"Kamu serius, Vi?" tanya Catur tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Nggak ada tayangan ulang lho" jawab Via sambil tertawa.


"Dasar pelit" ucap Catur pura-pura ngambek.


"Pelit-pelit suka kan?" goda Via.


"Ih dasar, bikin gemes" jawab Catur sambil mencubit kecil ujung hidung Via.


"Awwwww, sakit" teriak Via.


"Ga mungkin sakit, di cubit pake cinta"


"Boong aja, udah jelas-jelas nyubitnya pake tangan tadi"


"Ya udah, sini tangan kirinya"


"Buat apa?"


"Mau pasangin cincin dong, masa mau di gigit"


Catur memasangkan cincin di jari manis, tangan kiri Via. Cincin tersebut sangat cocok dan berkilau.


"Makasih ya" ucap Via sambil tersenyum.


"Sama-sama, jadi mulai hari ini kita resmi jadian dong?" tanya Catur.


"Iya" jawab Via sambil tersipu.


Setelah itu mereka asyik bercengkrama dan mengobrol banyak hal.


"Vi, udah makin sore nih. Aku pamit pulang ya" pinta Catur.


"Nggak mau nunggu Kak Zein dulu?" tanya Via.


"Nggak usah deh, takutnya Kak Zein pulang malam kan" tolak Catur.


"Ya udah, kamu hati-hati ya" pesan Via.


"Cieeeeeee, ada yang khawatir" ledek Catur.


"Iiihhhhhhh kamu mah, aku kan nggak mau sampai kamu kenapa-kenapa. Nanti yang ada aku yang di tuduh ga bisa jagain kamu" ucap Via.

__ADS_1


"Kebalik, Sayang. Di sini yang harusnya jagain itu aku, bukan kamu" sangkal Catur.


"Udah manggil Sayang aja" protes Via.


"Wajar donk, aku kan pacar kamu dan aku memang sayang sama kamu" jelas Catur.


"Iya deh iya, selain itu kita saling menjaga bukan hanya sepihak yang menjaga" jelas Via.


"Uuuhhhhhhh pinter anak Mami. Ya udah aku pamit pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa kabarin aku aja. Aku siap 24 jam buat kamu" pesan Catur.


"Dokter atau polisi nih yang siap 24 jam?" ledek Via.


"Lebih dari itu" jawab Catur.


"Mami aja nggak 24 jam siaga buat aku" sangkal Via dengan raut yang sedih.


"Kamu nggak boleh gitu, Sayang. Mami mu itu sibuk kerja juga demi kamu, kamu harus ngertiin kondisinya ya" pesan Catur sambil menggenggam kedua tangan Via, mencoba menguatkan di saat sedih.


"Iya, aku ngertiin. Tapi kenapa aku harus dapat kasih sayang dan rasa peduli justru dari orang lain yang nggak ada hubungan darah dengan ku, daripada Mami yang jelas-jelas Ibu kandung ku. Contohnya Mbok Asih, dari kecil selalu ada buatku, ngasih makan, mandiin, nemenin main, ngelonin saat mau tidur bahkan saat sakit pun yang sibuk justru Mbok Asih, bukan Mami" ucap Via sambil terisak, menahan sesak di dadanya.


"Aku paham kondisi kamu saat ini, tapi coba deh berfikir yang dewasa. Untuk menjadi Single mother itu nggak semua wanita sanggup, justru kamu beruntung punya Mami yang kuat. Sanggup menjadi Ibu sekaligus Kepala keluarga di rumah ini. Tetap menjaga, menyayangi, mengayomi serta menafkahi anak-anaknya" jelas Catur agar Via tidak bersedih lagi.


"Bahkan hingga kini, kesetiaan yang dimiliki Mami kamu sungguh luar biasa. Di usia yang terhitung muda, memiliki karir yang bagus serta tubuh yang ideal dan cantik, namun tidak sedikitpun membuka pintu hati untuk lelaki lain" lanjut Catur.


Via semakin terisak mendengar penjelasan dari Catur. Ia bahkan tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana beratnya perjuangan seorang Ibu yang membesarkan anaknya tanpa pasangan. Mungkin selama ini ia terlalu egois, tidak ingin memiliki bapak tiri namun membiarkan sang Mami kesepian dan berat menanggung derita seorang diri.


Melihat Via menangis membuat hati Catur terenyuh. Diraih nya perlahan tubuh Via, di sandarkan nya di dada bidang nya. Catur mencoba memberikan kenyamanan serta perlindungan di saat rapuh melanda kekasihnya.


Via terus menangis di dalam pelukan Catur. Hanya elusan di punggung Via yang dapat di lakukan oleh Catur agar Via nyaman.


"Mulai sekarang ada aku, ceritain aja semua yang kamu rasakan tanpa harus di tutupin" ucap Catur.


"Kamu jangan merasa kesepian, masih ada Kak Zein, Mbok Asih, aku serta semua teman-teman kamu" lanjut Catur.


Setelah agak mendingan, Via melepaskan pelukannya dari Catur. Catur dengan sigap menyeka air mata yang membanjiri pipi chubby milik Via.


"Cantik-cantik kok cengeng sih, malu donk sama usia. Masih muda tapi gampang nangis dan ngeluh, Mami aja udah berumur tapi tetap kuat, nggak pernah ngeluh lho" jelas Catur yang membuat Via kembali tersenyum.


"Nah gitu donk senyum, pokoknya selama aku ada di samping kamu, aku nggak akan biarkan air mata kamu menetes sedikit pun" jelas Catur lagi.


"Makasih ya untuk segalanya" ucap Via sambil memeluk Catur kembali.


"Ehhhh ngapain peluk-peluk lagi, nggak boleh tau" ucap Catur sambil menjauhkan tubuh Via dari tubuh nya.


"Kok nggak boleh?" tanya Via heran.


"Bukan mahramnya" jawab Catur singkat.


"Tadi kenapa malah narik tubuh aku untuk di peluk?" tanya Via kesal.


"Tadi kan emergency" sangkal Catur.

__ADS_1


"Alasan aja, apanya yang emergency?".


"Ya saat seseorang sedang rapuh, maka ia butuh pelukan untuk menenangkan diri serta meredam emosi. Jadi aku hanya mempraktikkan teori yang pernah ku baca di buku" jawab Catur sambil tertawa.


"Huh dasar, biasaan aja ngeles" jawab Via sambil mencubit pinggang Catur yang membuat Catur menggeliat kegelian.


Saat keduanya tengah bercengkrama, Zein masuk ke kamar Via.


"Wah kayaknya seru banget nih, sampai ngucapin salam tapi nggak ada yang jawab" ucap Zein sambil berjalan ke arah mereka berdua.


"Eh maaf Kak, nggak dengar beneran" ucap Catur merasa bersalah.


"Santai aja boy" jawab Zein sambil menepuk pundak Catur dan duduk di sisi kanannya.


"Kakak udah selesai nganterin mereka?" tanya Via ke Zein.


"Alhamdulillah udah, semua kakak anterin sampai depan pintu rumahnya. Nggak lupa kakak pamitin ke orang tua mereka karena udah ngizinin untuk nginep di sini" jelas Zein.


"Oh syukur Alhamdulillah kalau gitu" balas Via.


"Kalian bahas apa sih?, ketawa nya terdengar sampai bawah loh" tanya Zein sambil melirik ke arah Via dan Catur bergantian.


"Banyak hal, Kak. Catur ini loh ngomongin hal lucu-lucu makanya aku ketawa mulu"


"Oh, pantesan ketawanya kenceng banget"


"Oh ya Kak, aku pamit pulang dulu ya" pinta Catur.


"Loh kok pamit pulang?" tanya Zein.


"Aku dari tadi pamit tapi kata Via nunggu Kak Zein dulu" jelas Catur.


"Aku kan baru sampai, masa langsung pulang. Belum sempat ikutan ngobrol loh" tahan Zein agar Catur menunda untuk pulang.


"Iya, nanti lain kali aja ya Kak. Nggak enak sama Mamaku, izin nya nggak lama" jelas Catur ramah.


"Oh ya udah kalau gitu, lain kali di tunggu ya untuk ngobrol bareng nya" pinta Zein sambil tersenyum.


"Pasti Kak, nanti aku akan main lagi kok".


"Ya udah kamu hati-hati" jawab Catur.


"Vi, aku pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh biar bisa main lagi" ucap Catur kepada Via.


"Iya, makasih udah mau jengukin ya" balas Via sambil tersenyum.


"Kakak keluar dulu ya, nganterin Catur ke depan" pamit Zein ke Via.


"Iya Kak" jawab Via diiringi dengan anggukan kecil.


Catur meninggalkan Via seorang diri di dalam kamar untuk pergi mengantarkan Catur ke depan.

__ADS_1


__ADS_2