
Setelah jenazah di lakukan outopsi, jenazah langsung di mandikan dan di kafani. Jenazah langsung di antar ke rumah, setelah melalui proses penyelidikan.
Duka di alami oleh keluarga besar Pak Wahyu karena harus kehilangan putra bungsunya dengan cara yang tragis. Kehilangan satu-satu putra begitu mengguncang jiwa Pak Wahyu, bahkan saat menyaksikan peristiwa itu, Pak Wahyu sempat syok dan di larikan ke Rumah sakit akibat darah tinggi yang beliau derita.
Rumah yang megah berada di kawasan elit itu kini di hadiri oleh para pelayat. Biasanya, hanya ada seorang ART dan security serta Haris dan adiknya yang berusia tujuh tahun. Orang tua Haris adalah seorang bos yang memiliki perkebunan teh sehingga jarang sekali untuk berkumpul di rumah.
Beberapa guru dan siswa SMP N Nusa Bangsa mengikuti pemakaman, Zein, Bunga, Via, Dirga dan Dira pun ikut serta.
Hanya tangis pilu yang terdengar dari keluarga Haris, tak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan.
"Pak, Bu, kami selaku jajaran guru di SMP N Nusa Bangsa mengucapkan duka cita yang mendalam atas insiden ini. Kami minta maaf atas kelalaian dalam menjaga siswa-siswi kami. Kasus ini telah dilimpahkan kepada pihak yang berwajib karena dalam penyelidikan kami sebagai guru kurang memahami" ucap Bu Melati sebagai guru BK sekaligus adik kepala sekolah.
"Terimakasih" ucap Pak Wahyu singkat.
"Pa, kenapa harus anak kita yang mengalami semua ini?. Apa salah dari Haris sampai dia harus kehilangan nyawanya dengan cara yang tragis?" tanya Bu Yeni, Ibu nya Haris.
"Sabar ya Ma, Papa juga belum tau motif dari pembunuhan ini" jawab Pak Haris sambil memeluk erat istrinya.
"Bangun Nak, Mama nggak sanggup tanpa mu. Mama janji akan selalu ada di rumah dan nggak akan ninggalin Haris lagi" ucap Bu Yeni sambil terus menangis dan memukul gundukan tanah yang di penuhi berbagai macam kelopak bunga.
"Sudah Bu, saya tahu perasaan Ibu yang pasti terluka namun ini semua takdir yang telah di tentukan oleh Allah SWT" ucap Bu Melati sambil mengelus pundak Bu Yeni.
"Anda tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang Putra dan kepergiannya terlalu cepat, bahkan kematiannya disebabkan oleh orang lain yang sangat jahat" balas Bu Yeni emosi sambil menepis tangan Bu Melati yang sedang mengelus pundaknya.
"Saya pun pernah mengalaminya" ucap Bu Melati sambil terisak.
__ADS_1
Semua hanya diam menyimak pembicaraan keduanya di depan pusara Haris. Para pelayat telah pulang dan hanya meninggalkan orang tua Haris, Bu Melati, Pak Sigit, Bu Acha, Bunga, Dirga, Novi, Via serta Zein. Rasa penasaran lah yang membuat Zein terus mengikuti proses pemakaman karena dia sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres.
"Dulu, di tahun 1985, anak saya pertama kali nya jadi korban pembunuhan tersebut. Putri semata wayangku merenggang nyawanya tepat di lantai dua dan jatuh ke bawah. Satu-satunya harta yang ku miliki harus pergi untuk selamanya dengan cara yang sangat mengenaskan di depan mataku. Akibat dari kejadian itu, aku mengalami trauma yang sangat mendalam bahkan sempat untuk mengakhiri hidup dengan cara menenggak racun. Namun sayangnya, aksi ku di ketahui oleh kakak ku yaitu Pak Sigit, kepala sekolah SMP N Nusa Bangsa kini" jelas Bu Melati sambil menangis mengingat kejadian pahit 23 tahun silam.
"Sabar Bu, turut duka cita. Saya nggak tau kejadian dulu yang menimpa Putri Ibu" ucap Bu Acha menenangkan Bu Melati.
Bu Acha adalah wali kelas IX B, beliau mengajar di SMP N Nusa Bangsa Belum genap setahun jadi belum tau jika setiap tahunnya akan ada insiden seperti kemarin.
"Berarti pelaku pembunuh itu adalah orang yang sama selama 23 tahun ini" gumam Zein yang membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Apa maksud mu?. Apakah kau mengetahui sesuatu mengenai hal ini?" tanya Bu Melati sambil menatap tajam ke arah Zein. Zein bergidik ngeri melihat tatapan dari Bu Melati.
"Maaf Bu, saya nggak tau apa-apa. Hanya saja sempat sedikit mengetahui jika setiap tahunnya selalu ada korban pembunuhan dengan cara yang sama. Berarti tidak menutup kemungkinan bahwa pelakunya adalah orang yang sama" jelas Zein.
"Benar juga, kita harus selidiki dari kasus pertama. Data-data dari kasus pembunuhan pertama, jadi kita bisa tau apa motif dari pembunuhan itu" sela Bunga lantang.
"Kalian itu bocah ingusan, bocah seperti kalian mana mungkin bisa menyelidiki kasus seperti ini" sungut Pak Sigit sambil melotot ke arah Dirga.
"Pihak kepolisian saja tidak mampu menemukan bukti dalam kasus ini, jadi bagaimana mungkin kalian yang hanya anak SMP bisa membantu mencari pelakunya" balas Bu Melati sinis.
"Kita akan mencoba mencari cara Bu, Pak, asalkan kita semua bekerja sama dalam kasus ini. Mau sampai kapan kasus ini berlanjut, udah banyak sekali korban berjatuhan dan tidak menutup kemungkinan nantinya tidak akan ada lagi siswa yang mau bersekolah di SMP itu karena takut menjadi korban pembunuhan. Saya akan membantu memecahkan misteri yang ada di sekolah ini" jawab Zein mantap.
"Sekolah itu nggak akan tutup, bahkan setiap tahun nya selalu bertambah yang akan mendaftarkan diri untuk bersekolah. Saya ingat kan juga sama kalian, jangan salahkan saya jika nanti ada sesuatu yang buruk menimpa kalian karena sudah mencoba mencari tahu penyebab nya" ancam Pak Sigit sambil pergi dari pemakaman.
"Bapak berharap kalian benar-benar bisa mencari tahu tentang misteri kematian dari putra saya, karena orang tersebut harus di beri ganjaran atas perbuatannya yang kejam selama ini" harap Pak Wahyu sebagai orang tua Haris yang merasa sangat terpukul atas kepergian Putra sulungnya.
__ADS_1
"Insyaallah Pak, kami akan usahakan" jawab Novi sambil tersenyum.
"Yuk Bu kita pulang saja karena hari sudah mulai gelap, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan" ajak Bu Acha kepada Bu Melati dan Bu Yeni.
"Ayo" balas Bu Melati sambil memapah Bu Yeni.
Saat mereka semua berjalan menuju ke mobil, tiba-tiba Via terjatuh.
"Awwwww" pekik Via saat tersungkur.
"Ya ampun Dek, ayo bangun" perintah Zein sambil mengulurkan tangannya.
Saat Zein menarik tangan Via, terasa sangat berat karena seperti ada yang menahan tubuh Via. Zein terus saja menarik namun seperti nya sulit sekali.
"Kaki ku seperti ada yang menahannya, Kak" teriak Via yang membuat semua orang berjalan di depan mereka berhenti dan melihat ke arah mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Bu Acha sambil berjalan ke arah mereka.
"Nggak tau nih Bu, tadi saat jalan tiba-tiba Via terjatuh. Saat Zein coba bantu berdiri tapi sepertinya ada yang menahan tubuhnya" jelas Zein.
"Ya udah, ayo Vi bangun" perintah Bu Acha.
"Susah Bu, kaki Via kayak ada yang tarik juga" jelas Via yang membuat orang di sekitar semakin bingung.
Zein terus mencoba menarik kembali tangan Via, namun semakin kuat Zein menarik maka semakin kuat pula tarikan dari kaki Via seperti di tahan oleh seseorang. Via mencoba untuk menurunkan kaos kaki nya yang panjang karena cengkraman di kakinya menimbulkan rasa sakit dan perih.
__ADS_1
"Ya ampun, kulitnya menghitam dan berdarah" pekik Novi heboh karena melihat keanehan itu.