Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Hasil Outopsi


__ADS_3

Pihak polisi sangat kesulitan dalam melakukan penyelidikan karena pelaku tidak meninggalkan jejak apapun. Hanya saja pelaku selalu melakukan tindakannya dengan cara yang sama. Selain itu, pihak sekolah pun keberatan jika kasus ini di angkat ke publik jadi selalu di tutup tanpa hasil sehingga menjadi misteri hingga kini.


Dua orang polisi dan seorang dokter ke rumah keluarga Haris untuk memberitahukan hasil dari autopsi kemarin.


"Selamat sore Pak" ucap Pak Polisi.


"Sore juga, ayo silahkan masuk" jawab Pak Wahyu kepada mereka.


"Begini Pak, kami ke sini akan memberitahukan hasil autopsi almarhum putra bapak" jelas Pak polisi.


"Iya jadi gimana hasilnya Pak?" tanya Pak Wahyu mendesak.


"Bi, tolong buatkan minum ya" perintah Bu Yeni kepada Bi Jum.


"Baik Bu" jawab Bi Jum.


Bu Melati langsung melangkah ke ruang tamu dimana suami dan polisi serta dokter itu berada.


"Mungkin Pak Dokter saja yang akan menjelaskan detail mengenai kematian almarhum Nak Haris" jawab Pak Polisi.


"Dari hasil autopsi di simpulkan bahwa almarhum Haris sebelum di jatuhkan dari lantai dua sekolah itu, dia sempat di aniaya hingga tewas. Terdapat bekas cekikan di leher korban serta pukulan benda tumpul di bagian kepala korban sehingga membuat luka yang menyebabkan kematian. Di duga korban meninggal dua jam sebelum di lemparkan ke bawah. Namun kami tidak menemukan jejak sidik jari pelaku di tubuh korban. Sepertinya pelaku sangat ahli dalam melenyapkan barang bukti agar perbuatannya sulit di ungkap" jelas Pak Dokter.


"Ya Allah Pa, siapa yang tega menganiaya putra kita hingga tewas. Apa salah Putra kita hingga harus di perlakukan seperti itu" ucap Bu Yeni sambil histeris karena mendengar penjelasan Pak Dokter.


"Silahkan di minum Pak" ucap Bi Jum sambil meletakkan minuman dan cemilan di meja lalu mendekati Bu Yeni.


"Sabar ya Bu, semoga pelaku nya cepat ketangkap agar bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada aparat kepolisian" hibur Bi Jum.


"Aku nggak kuat Bi, Putra ku harus tewas di tangan orang sejahat itu" balas Bu Yeni sambil terus menangis di bahu Pak Wahyu.

__ADS_1


"Udah Ma, kita dengarkan dulu penjelasannya lagi. Siapa tau kita punya cara untuk menangkap pelaku" bujuk Pak Wahyu yang berusaha tegar meskipun sebenarnya hatinya pun hancur namun jika dia tunjukkan ke hadapan sang istri lalu siapa yang akan menghibur istri tercinta nya jika semuanya rapuh.


"Kita lanjut ya Pak, Bu" ucap Pak Dokter.


"Iya Pak, silahkan" jawab Pak Wahyu sambil terus mengusap lembut punggung istri nya.


"Kami dari pihak kepolisian kemarin langsung mengsegel lokasi dengan garis police line, semua tempat langsung di adakan pengecekan namun nihil tak menemukan tanda-tanda apapun di lantai dua. Di sana juga tidak ada kayu atau balok yang tergelatak, jika memang sebelum korban di jatuhkan sempat di pukul oleh pelaku. Kami juga langsung meminta pihak sekolah untuk mengecek rekaman cctv di gedung itu namun saat di cek hanya gambar gelap dan saat kami melihat tempat cctv di pasang, ternyata telah di tutup dengan lakban hitam jadi gambar tidak terlihat di layar monitor" jelas Pak Polisi.


"Kenapa begitu sulit untuk mengungkap pelaku nya?" teriak Pak Wahyu emosi tanpa bisa di kontrol.


"Menurut keterangan, di sekolah tersebut memang selalu terjadi pembunuhan dengan cara yang sama setiap kelulusan siswa nya. Hingga saat ini selalu gagal untuk menangkap pelaku, seakan-akan pelaku telah merencanakan dengan sangat rapi agar tak terlihat jejaknya. Hal ini benar-benar membuat kami kesulitan, Pak" jawab Pak Polisi merasa bersalah.


"Terus saja usut Pak, manusia itu pasti adakalanya lengah dan tanpa di sadari meninggalkan jejak namun kita saja yang belum sadar letak jejak yang dia tinggalkan" ucap Bi Jum yang sedari tadi menyimak pembicaraan di ruangan itu.


"Tentu, kami akan terus berusaha mencari bukti agar kasus ini segera terungkap" ucap Pak Polisi mantap.


"Tidak ada, Pak, terimakasih atas kerjasama nya" ucap Pak Wahyu.


"Baiklah, kami segera undur diri, Pak, jika tidak ada lagi yang di pertanyakan" pamit Pak Polisi.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuannya, Pak" ucap Pak Wahyu sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Sama-sama" jawab Pak Polisi.


"Ibu yang tabah ya, coba lah untuk mengikhlaskan kepergian putra nya agar almarhum bisa beristirahat dengan tenang" hibur Pak Dokter.


Bu Yeni masih terdiam tanpa menjawab ucapan dari Pak Dokter ataupun dari Pak Polisi. Kehilangan putranya merupakan sebuah pukulan yang sangat berat bagi Bu Yeni.


"Kami permisi undur diri, Pak" ucap Pak Polisi sambil menjabat tangan Pak Wahyu.

__ADS_1


Pak Wahyu mengantar keluar Pak polisi dan Pak dokter. Setelah keduanya pergi, ia berjalan ke ruang tamu dan duduk di samping istrinya.


"Ma, sekarang kita harus belajar ikhlas menerima kenyataan meskipun berat. Sepahit apapun kenyataan, kita tidak bisa merubahnya lagi karena mutlak ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala. Justru, kini kita harus mengambil hikmah atas kejadian ini" ucap Pak Wahyu berusaha tegar dihadapan sang istri.


Air mata kembali merembes dari kedua pelupuk mata Bu Yeni. Susah payah mengandung sang putra selama 9 bulan, merawat serta membesarkan selama 15 tahun. Namun, kini nyawa putranya lenyap di tangan orang yang sangat keji.


Bu Yeni pilu saat membayangkan bagaimana na-eun orang tersebut menghabisi sang putra hingga tak berdaya. Setelah nyawa lenyap di tangan pelaku, si pelaku malah menjatuhkan mayat korban dari lantai dua ke lapangan.


Semakin di ingat tentang kondisi jenazah sang putra, hatinya semakin teriris sakit. Dia bisa membayangkan bagaimana sang putra menahan rasa sakit akibat perlakuan pelaku.


"Mama rindu Haris, Pa" ucap Bu Yeni dengan berlinang air mata.


"Papa juga rindu, tapi kita nggak bisa terus berlarut dalam kesedihan ini, Ma" hibur Pak Wahyu sambil mengelus pundak istrinya.


"Haris pasti kesakitan akibat perbuatan si pelaku jahanam" maki Bu Yeni.


"Sudahlah, Ma, biarkan pihak yang berwajib mengurus semuanya serta Allah akan membalas setiap perbuatan jahat manusia" ucap Pak Wahyu mencoba menghibur.


"Huuuu huuuu, kenapa nasib mu begitu sial, nak" racau Bu Yeni.


"Udahlah Ma, nggak baik berbicara seperti itu" .


"Haris kembali, Nak, Mama rindu" racau Bu Yeni dengan terisak.


"Tenang, Ma, kita istirahat dulu ya" ajak Pak Wahyu.


Bu Yeni tidak sanggup untuk berjalan karena masih shock atas kematian putra nya, jadi Pak Wahyu menggendong istrinya menuju kamar agar sang istri dapat beristirahat.


Wajar jika kedua orang tua Haris sangat terpukul dengan kematian nya karena sangat tidak wajar. Kematian yang tragis serta secara tiba-tiba membuat mereka sangat terpukul.

__ADS_1


__ADS_2