
Siang begitu terik, meskipun terasa jenuh namun tidak dapat banyak yang dilakukan oleh Via selain rebahan di kasur karena belum mampu berjalan akibat luka di kakinya.
Ting
Ada notifikasi yang masuk di ponsel milik Via, ia segera mengeceknya.
Catur
[Siang, Vi kabar nya kamu sakit ya?]
Via
[Iya, ada sedikit kecelakaan]
Catur
[Bunga udah ceritain semuanya ke aku, bentar lagi aku ke situ ya]
Via
[Mau ngapain?]
Catur
[Mau jenguk kamu lah, aku khawatir banget sama kondisi kamu]
Via
[Aku udah mendingan kok]
Catur
[Aku maksa mau jenguk kamu soalnya ga tenang kalau belum lihat sendiri kondisi kamu]
Via
[Ya udah terserah kamu deh, asal ga ngerepotin]
Catur
[Aku ga pernah merasa di repotin kamu deh, selagi aku bisa pasti aku lakuin semuanya untuk kamu]
Via
[Makasih ya]
Catur
[Sama-sama, ya udah aku siap-siap ke situ ya]
Via
[Hati-hati ya]
Catur
[Siap Ibu negara, bye]
__ADS_1
"Perhatian kecil darinya bikin aku tersentuh, bahkan Mami pun, Ibu kandung ku tak perduli saat aku mengalami musibah seperti ini. Dia bukan bagian dari keluarga ku, namun begitu perduli" batin Via.
Via terus berbaring meskipun jenuh melanda hati. Rumah mewah dengan segala fasilitas tidak membuatnya merasa bahagia. Tidak hanya lingkungan yang sepi, namun di lubuk hatinya pun terasa begitu sepi.
Satu jam lamanya ia menunggu kehadiran Catur, jarak antara rumah Catur dan Via sekitar setengah jam.
Tok...Tok...Tok....
"Non, ada tamu" ucap Mbok Asih dari luar.
"Masuk, nggak di kunci kok, Mbok" jawab Via.
"Hy, maaf agak lama karena di jalan tadi macet dikit" ucap Catur sambil tersenyum.
"Iya nggak apa-apa kok" balas Via.
"Oh ya, ini ada buah sama bunga buat kamu. Semoga kamu cepet sembuh ya, Vi" ucap Catur sambil menyerahkan parcel buah dan sebuket bunga.
"Non, Mbok tinggal sebentar ya. Mau siapin minum buat temannya" pamit Mbok Asih.
"Iya Mbok, sekalian bawain puding juga ya Mbok" pinta Via.
Mbok Asih langsung keluar menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka.
"Makasih ya udah jauh-jauh cuma untuk jengukin aku" ucap Via.
"Iya, aku justru minta maaf ga bisa datang langsung kemarin ngasih ucapan selamat atas prestasi kamu" ucap Catur.
"Ah nggak apa-apa, di jengukin gini aja aku udah seneng banget"
"Aku punya hadiah untuk prestasi yang udah kamu raih"
"Tutup mata"
"Harus ya?"
"Tentu, namanya juga surprise"
Via memejamkan matanya, sedangkan Catur mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Terlihat sebuah kotak kecil, dengan pita berwarna putih. kotak tersebut di ulurkan ke hadapan Via oleh Catur.
"Sekarang kamu buka mata deh" pinta Catur.
Via perlahan membuka matanya dan melihat kotak kado mungil di hadapannya kini. Ia bahkan kagum dan tak menyangka jika Catur akan memperlakukan nya dengan sangat spesial.
"Lucu banget bentuk nya, ada pita dan kotak nya juga mungil banget" ucap Via sambil tersenyum.
"Kamu suka?" tanya Catur.
"Suka banget" jawab Via cepat.
"Aku buka ya, semoga kamu suka sama isinya juga" jawab Catur dan hanya di balas anggukan oleh Via.
Setelah kotak terbuka, terpampang cincin berwarna silver, dengan satu mata di tengahnya. Seperti cincin tunangan atau pernikahan pada umumnya.
"Kamu tau nggak kenapa aku kasih kamu cincin?" tanya Catur sambil menatap lekat ke netra Via.
"Nggak tau, emang apa alasannya?" tanya Via heran.
__ADS_1
"Aku mau hubungan kita sama seperti cincin ini" ucap Catur.
"Kenapa harus seperti cincin ini?" tanya Via bingung.
"Vi, aku berharap banget kalau hubungan kita seperti cincin ini. Berbentuk lingkaran dan tidak ada pangkal serta ujungnya. Menerima kelebihan serta kekurangan satu sama lain, dan selalu jujur tanpa ada kebohongan. Warna silver cincin ini menandakan kesucian hubungan kita, jadi aku harap kamu jangan nodai dengan kebohongan serta pengkhianatan" jelas Catur sambil menggenggam tangan Via dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang kotak yang berisi cincin.
"Ga boleh berkhianat gimana?" tanya Via mengerutkan keningnya.
"Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk aku bahas karena kamu lagi sakit, tapi aku nggak mau ulur waktu juga untuk nahan-nahan semuanya" jawab Catur membuat Via semakin bingung.
"Aku ga ngerti kamu ngomong apa" balas Via.
"Kita kenal memang belum lama, belum saling memahami satu sama lain tapi aku ngerasa suka dan nyaman saat dengan kamu, Vi. Aku mau kamu jadi kekasih ku. Apa kamu mau untuk pacaran sama aku?" tanya Catur gugup.
Via hanya terdiam karena bingung harus jawab apa, di lain sisi ia juga merasa nyaman namun di sisi lainnya ia pun takut jika harus pacaran di usia yang terlalu muda. Di sekolahnya, hampir semua teman-teman nya memiliki pacar namun ia dan sahabat nya Dira lah yang belum berpacaran.
"Maaf Vi, aku cuma mau jujur aja sama perasaan aku. Aku tau kamu pasti bingung karena terlalu cepat untuk aku ungkapkan" ucap Catur lagi karena belum ada respon dari Via.
"Apa kamu lagi nggak bercanda?" tanya Via.
"Nggak Vi, aku benar-benar serius ngomong ini dari hati aku" jawab Catur cepat.
"Apa ucapan kamu bisa di percaya?" tanya Via.
"Tentu saja, aku benar-benar suka dari awal kita ketemu waktu itu. Bahkan kamu sendiri tau kan kalau aku juga sampai mau masuk SMA yang sama dengan kamu agar kita bisa ketemu terus. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu, makanya aku lakuin apapun biar bisa ketemu terus" Catur mencoba meyakinkan Via.
"Aku tau, makasih ya" jawab Via singkat.
Tok....Tok....Tok....
"Non, Mbok mau nganterin minum" teriak Mbok Asih dari luar.
"Masuk aja Mbok" Jawab Via.
"Ini Non minuman nya sama cemilan, dan ini juga ada puding pesanan Non Via" jawab Mbok Asih sambil meletakkan di atas nakas.
"Makasih ya Mbok" jawab Via dan Catur bersamaan.
"Iya, silahkan di minum, Den" ucap Mbok Asih kepada Catur.
"Iya Mbok, makasih ya" jawab Catur sambil tersenyum menunjukkan lesung pipi di sebelah kanan.
"Ya udah Mbok tinggal lagi ya, kalau ada apa-apa panggil Mbok aja" pamit Mbok Asih.
"Mbok di sini aja, ngobrol bareng sama kita" pinta Catur kepada Mbok Asih.
"Mbok belum selesai masak Den, nanti aja kalau udah selesai masak baru Mbok ikutan deh ngobrol nya" tolak Mbok Asih halus.
"Ya udah deh, Mbok masak aja, nanti kalau udah selesai Catur mau makan" pinta Catur sambil tertawa.
"Tenang, Den. Mbok akan masakin kalian yang spesial" jawab Mbok Asih sambil berjalan keluar meninggalkan Via dan Catur.
"Gimana Vi, apa kamu mau jadi pacar aku?" tanya Catur mengulangi pertanyaannya yang sempat terhenti karena kehadiran Mbok Asih.
"Maaf" ucap Via sambil tertunduk.
___________________________________________
__ADS_1
Menurut kalian, Via bakal nerima Catur jadi pacarnya ga sih?