Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Masa Lalu


__ADS_3

Dira terus saja diam, pikirannya terusik oleh foto keenam siswi di ruangan Pak Sigit. Haruskah dia bertanya kepada Pak Anggi?. Dia terus saja menimang-nimang apakah harus bertanya atau tidak, khawatir jika bertanya dapat menimbulkan kecurigaan di guru olahraga nya itu. Namun, rasa penasaran telah mengalahkan logikanya, jadi di harus bertanya untuk mengorek tentang siswi di foto itu. Logikanya terus berputar, pertanyaan seperti apa yang harus di ajukan agar tidak menaruh curiga terhadap dirinya.


"Eemmmmmm, Pak, boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Dira memberanikan diri bertanya.


"Boleh, silahkan" ucap Pak Anggi, dia berharap agar Dira memberitahunya hal yang membuat dirinya murung setelah keluar dari ruangan sang kepala sekolah.


"Foto yang di pajang di dinding ruangan kepala sekolah adalah murid-murid yang berprestasi ya, Pak?" tanya Dira menjeda ucapannya.


"Iya, hanya murid yang berprestasi lah bisa di pajang fotonya di sana" ucap Pak Anggi.


"Tadi ku lihat ada foto enam siswi yang menang lomba Voli tingkat nasional" ucap Dira.


"Oh ya, itu terakhir kalinya sekolah kita menang dalam perlombaan olahraga tingkat nasional" jawab Pak Anggi.


"Eh tahun berapa itu Pak?" tanya Dira hati-hati.


"Lima tahun yang lalu, tapi mereka lulus empat tahun yang lalu jadi wajar jika kamu nggak kenal mereka" jelas Pak Anggi.


"Oh begitu, sekarang mereka sekolah di mana, Pak?" tanya Dira lagi.


"Kelimanya sih lanjut sekolah, berpisah nggak satu sekolah tapi sayang nya yang pegang piala itu meninggal. Kematiannya sama persis seperti teman sekelas kamu" ucap Pak Anggi yang membuat Dira menghentikan langkahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Pak Anggi heran.


"Ng..nggak apa-apa, Pak" ucap Dira terbata.


"Yakin?".


"Iya, memang nya dia meninggal saat kelulusan juga, Pak?" tanya Dira setelah menguasai kegugupan nya.


"Iya, persis seperti Haris. Di bunuh dengan cara yang sama" jawab Pak Anggi memperjelas.


"Kenapa aku jadi merasa ada yang janggal ya" batin Dira.


"Eh, masalah ini jangan ada yang tahu ya" pesan Pak Anggi.


"Kenapa, Pak?" tanya Dira sambil mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Pihak sekolah nggak mau sampai rahasia tentang kematian setiap siswa di sekolah ini menyebar".


"Iya, saya nggak akan nyebarin kok".


"Bagus".


"Oh ya Pak, kenapa sekarang udah nggak kirim siswa mengikuti lomba antar sekolah, kecamatan atau bahkan nasional?" tanya Dira mengalihkan perhatian agar Pak Anggi tidak mencurigai dirinya yang sedang mengorek informasi mengenai siswi itu.


"Belum cocok saja untuk di kirim, harus latihan maksimal agar bisa menang dalam pertandingan" jawab Pak Anggi.


"Ya udah Pak, makasih ya udah nganterin ke atas. Saya izin mau ke tenda untuk bantuin teman-teman" pamit Dira.


"Ya, silahkan" jawab Pak Anggi singkat.


Dira berjalan tergesa-gesa menuju ke tendanya yang terletak paling ujung. Tenda mereka berdekatan dengan lapangan bola Voli dan bersebrangan dengan lapangan sepak bola. Di dekat lapangan sepak bola terdapat kebun sayuran milik sekolah.


SMP N Nusa Bangsa memang sering melakukan cocok tanam, memanfaatkan lahan sekolah yang cukup subur. Ada berbagai tanaman seperti bunga, sayuran dan buah. Di belakang kelas pun terdapat lahan kosong, sesuai dengan urutan kelas masing-masing telah di petak untuk di tanam. Kelas Via mendapat tugas menanam kacang tanah, hasil selama beberapa bulan itu berbuah. Setelah berbuah, satu kelas langsung memetik hasil tanaman mereka selama ini. Tak jarang, mereka langsung mengolah dan memasarkan produknya untuk penilaian mata pelajaran Wira usaha.


Setelah tiba di dekat tenda, terlihat Dirga, Bunga, Novi dan Via sedang duduk santai sambil makan cemilan. Tidak ada obrolan apapun, setidaknya Via tak lagi menangis.


"Vi, aku mau nanya sesuatu sama kamu" ucap Dira sambil mendaratkan bokongnya di samping sang sahabat.


"Vi, ini mengenai siswi yang beberapa kali kau lihat" seru Dira.


Sontak saja, semua yang berada di situ melihat ke arah Dira. Mereka semua penasaran, mengapa justru kini Dira akan membahas mengenai siswi misterius tersebut.


"Apa maksud mu, Dir?" tanya Novi mengerutkan keningnya.


"Vi, please dengerin aku. Aku benar-benar minta maaf kalau udah nyakitin perasaan kamu tapi aku ga berniat untuk ga percaya atau apapun itu. Aku ada info, tapi belum tau pasti kebenarannya" jelas Dira sambil memegang tangan Via.


"Yuk kita obrolin di dalam tenda aja, takut ada yang dengar" saran Dirga sambil beranjak masuk ke tenda kelompok Via.


"Coba kamu ceritakan ke kita, apa maksud mu!" pinta Bunga kepada Dira.


Dira mulai menceritakan semuanya secara detail, saat dirinya di ruangan Pak Sigit hingga obrolan rahasianya dengan Pak Anggi.


"Kita belum mendapatkan data diri siswi misterius tersebut" ucap Catur ketika menyimak obrolan mereka.

__ADS_1


"Untuk mendapatkan data dirinya, kita harus mencari sendiri" ucap Bunga lirih.


"Dimana?" tanya Dirga.


Semuanya terdiam dalam pikiran masing-masing, bagaimana cara untuk mendapatkan data diri siswi misterius itu.


"Tapi, apakah kalian yakin jika siswi misterius itu adalah orang yang sama dengan yang ada di foto ruangan kepala sekolah dan siswi yang mati secara tragis itu?" tanya Dira bimbang.


"Apakah Via harus memastikan nya dengan cara menyelinap masuk ke ruangan itu?" tanya Catur.


"Harus, sepertinya memang Via ke ruangan kepala sekolah dan melihat langsung agar kita tidak membuang-buang waktu mencari informasi untuk hal yang belum jelas menjadi cara menyembunyikan permasalahan ini" ucap Dirga tegas.


"Gimana caranya aku bisa keruangan kepala sekolah?" tanya Via.


"Aku ada ide" ucap Dira riang.


"Apa?" tanya Bunga dan Novi bersamaan.


"Aku pura-pura saja ke ruangan kepala sekolah untuk mengubah jenis pekerjaan ayahku yang sekarang bukan sesuai dengan KTP nya" ucap Dira tersenyum.


"Baiklah, aku mengerti" ucap Via sambil mengangguk.


"Ayo kita ke sana sekarang" ajak Dira sambil mengulurkan tangannya agar Via segera bangkit dari tempat duduk nya.


Via berjalan beriringan dengan Dira menuju ke ruangan kepala sekolah, mereka berjalan tergesa-gesa. Kaki kecil mereka melangkah dengan cepat, agar sang kepala sekolah masih di ruangannya.


Mereka memasuki ruangan yang ada tangga nya menuju ke lantai atas, saat melewati tangga, ternyata perpustakaan dokumen sekolah terbuka.


"Dir, kayaknya di dalam ada orang ya?" tanya Via menghentikan langkah kaki Dira.


"Eh, iya, tadi ruangan ini masih terkunci kok" jelas Dira.


"Ayo masuk, kita cek dulu ruangan nya" ajak Via.


"Duh, jangan deh. Aku takut" jawab Dira gemetar sambil menahan tangan Via yang akan menariknya masuk ke perpustakaan.


"Udah, kamu tenang aja, kita cuma pastiin siapa yang ada di ruangan ini" jelas Via.

__ADS_1


Dira pun mengikuti saran Via untuk masuk ke perpustakaan. Ruangan yang gelap tanpa pencahayaan, membuat ruangan itu terkesan angker.


__ADS_2