
Minggu pagi adalah rutinitas yang paling di gemari oleh Via untuk jogging bersama dengan kakaknya, Zein selalu pulang tiap akhir pekan demi sang adik tercinta.
"Ayo Kak, kita jogging di sekitar kompleks sekalian bawa satu sepeda" ucap Via ketika masuk ke dalam kamar kakaknya.
"Kamu aja gih duluan kebawah sekalian bawa sepeda, biar kakak yang lari" perintah Zein.
"Oke kak, kita izin dulu nggak sama Mami?" tanya Via.
"Emang Mami masih ada di rumah?" tanya Zein.
"Masih di kamar, katanya nanti pergi nya jam sembilan" jelas Via.
"Ya udah biarin saja, takutnya Mami masih tidur. Nanti kita malah mengganggu istirahat nya" pesan Zein.
"Ya udah, Via ambil sepeda dan tunggu di depan ya, Kak" ucap Via sambil berlalu meninggalkan Zein.
Udara pagi di sekitar kompleks ini memang terasa sangat sejuk dan cocok untuk olahraga pagi. Lingkungan yang asri dengan pepohonan yang rindang serta taman-taman kecil dengan berbagai bunga yang indah.
Mereka terlihat sangat menikmati momen saat bersama, sepasang adik kakak yang sangat akur. Bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah menikmati masa pacaran.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sang surya telah menyinari bumi dengan teriknya yang menyengat di permukaan kulit. Via menyadari jika hari beranjak siang dan mereka harus segera kembali ke rumah, karena akan diadakan kerja kelompok siang ini jam sebelas di rumahnya.
Saat tengah asyik bersepeda, Via di bonceng oleh Zein, tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di depan mereka. Pintu mobil tersebut terbuka dan keluar lah seseorang dari dalam sana.
"Hy Via" sapa Bunga ketika turun dari mobil.
"Hy juga Bunga" balas Via datar. Sebenarnya Via adalah tipe orang yang ramah dan bahkan sangat humoris, namun ia tak menunjukkan di hadapan orang-orang, hanya keluarga nya saja lah yang tau sifat dan karakter nya.
"Wah abis olahraga ya?" tanya Bunga.
"Iya nih, biar tetap bugar dan sehat" jawab Zein sambil tersenyum, sedangkan Via hanya terdiam.
"Asyik ya kalau bisa olahraga bareng pacar, selain bugar dan sehat juga bisa membina hubungan dengan baik" ucap Bunga sambil melirik tangan Via yang melingkar di leher dan memeluk Zein dari belakang.
"Oh tentu donk" jawab Zein paham akan maksud dari Bunga.
"Pagi banget kesini nya?" tanya Via kepada Bunga.
"Iya nih maaf, kalau agak siang ga ada yang nganterin aku nya kesini. Mobil mau di pake sama keluarga untuk ke rumah kerabat. Makanya aku terpaksa ke sini jam segini" ucap Bunga sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Ada apa ini?" tanya Zein bingung.
"Mau belajar kelompok Kak" ucap Via.
"Oh ya udah, yuk pulang soalnya makin panas. Nanti tuan putri bisa gosong nih" ledek Zein sambil tertawa dan Via pun tertawa sambil mengeratkan pelukannya.
Ada rasa iri yang menyelimuti hati Bunga, dia berfikir jika Zein adalah kekasih Via. Zein yang tampan, bertubuh atletis, serta humoris membuat ada perasaan lain di hati Bunga. Bunga kembali masuk ke dalam mobil dan mengikuti Via dan Zein bersepeda, Bunga mengikuti dari belakang sehingga bisa melihat dengan jelas bagaimana bahagianya adik kakak tersebut. Bunga belum tahu jika Zein adalah kakak Via, bukan kekasih Via.
Rumah yang besar serta mewah yang menjadi tempat tinggal Via Dia berpikir bahwa Via adalah orang yang paling beruntung karena selain berasal dari orang yang kaya, dia juga cantik serta berprestasi di sekolah.
"Kok pacar kamu ikut masuk ke dalam kamar mu?" tanya Bunga kepada Via yang membuat Zein tergelak.
"Jadi kamu mengira kalau aku itu pacarnya Via gitu?" tanya Zein kepada Bunga.
"Iya, kalian pacaran kan? bunga berbalik bertanya kepada Zein yang membuat Zein semakin tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Polos banget sih, kita mah saudara kandung" jawab Zein tersenyum.
"Oh, pantesan akrab banget" jawab Bunga tersenyum.
Siang hari semua telah berkumpul di rumah Via, mereka semua akan membuat kerajinan tangan yaitu sulam. Mereka kerja dengan khusyuk, agar pekerjaan mereka segera selesai. Meskipun sekali-kali mereka sambil bercanda dan tak terasa hari telah sore.
"Guys, masih ada waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Kira-kira enaknya kemana ya?" tanya Novi kepada teman-temannya.
"Nonton bioskop" jawab Bunga.
"Makan-makan" usul Via.
"Nikmati sunset di tepi danau" usul Dirga sambil melirik Bunga.
"Ide bagus tuh menikmati sunset sambil bawa cemilan" jawab Novi melihat ke arah temannya satu-persatu.
"Ya udah jadiin lah, kapan lagi kan kita bisa pergi main bareng" pinta Agus yang sejak tadi diam.
Mereka pun sepakat untuk pergi ke danau mengendarai sepeda motor. Dirga berboncengan dengan kekasihnya, Bunga. Novi membonceng Via, sedangkan Agus membawa motor sendirian.
Di tepi danau mereka menggelar karpet untuk duduk, cemilan dan kamera canon mereka keluarkan dari ransel milik Agus. Mereka terlihat sangat bahagia, saling potret untuk mengabadikan kenangan bersama di tepi danau.
"Udah jam lima lewat nih, enaknya nikmatin sunset di tengah danau sambil mendayung" usul Dirga.
"Ide brilian, Sayang" jawab Bunga cepat.
Tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, mereka langsung menuju ke tempat penyewaan perahu.
"Ternyata asik juga ya naik perahu" celetuk Via.
"Iya dong, makanya sering-sering ikut sama kita. Jangan cuma bisanya diam dalam rumah mulu. Sekalinya main malah sama Kakaknya" sindir Dirga.
"Udah-udah, kalian berdua itu nggak ada capeknya debat mulu. Dari pada debat nggak guna, mendingan kita semua foto bareng mumpung cuacanya bagus untuk mengabadikan momen kita ini. Suatu saat momen seperti inilah yang akan kita kenang dan tentunya bakal dirindukan ketika kita semua telah berpisah" ajak Agus.
"Kaya mau pisah selamanya aja sih" jawab Bunga.
Proses foto-foto dengan berbagai macam gaya, terkesan sangat natural dengan senyum dan tawa kebahagiaan meliputi wajah mereka. Wajah polos seperti tanpa beban, bahkan Via terlihat enjoy menikmati momen saat ini dan berhasil melupakan kesunyian yang selama ini membelenggu hari-harinya.
Ketika berjalan ke parkiran untuk mengambil motor dan segera pulang karena hari menjelang malam, matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam dan terbit disebabkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi.
"Vi, kamu terlihat lebih bahagia ketika senyum menghiasi pipi mu" ucap Bunga.
"Emang biasanya enggak ya?" tanya Via.
"Biasanya di sekolah kamu terlihat menutup diri dari lingkungan dan hanya akan berteman dengan Dira. Wajahmu terlihat kaku, tanpa gurat-gurat senyum yang menghiasi" jelas Bunga.
Tetaplah tersenyum meskipun kesedihan menyelimuti hari-harimu" pinta Bunga lagi.
"Semoga saja" balas Via singkat.
"Ayo cepat ke sini, hari semakin gelap" teriak Dirga ke arah Bunga dan Via.
"Iya, Sayang" balas Bunga sambil bergegas menghampiri kekasihnya.
"Coba kamu pikirkan ucapanku tadi, nikmatilah masa muda kita, bukan dengan kesedihan" pinta Bunga sambil menepuk pundak Via.
__ADS_1
Mereka meninggalkan danau yang telah menjadi saksi awal mulanya perubahan terbaru pada diri seorang remaja yang kurang kasih sayang dari keluarga seperti Via.
*Di Rumah*
"Assalamualaikum, Kak, Via pulang" teriak Via ketika masuk kedalam rumah.
"Den Zein di atas, di kamar non Via" jelas Mbok Asih.
"Ngapain di kamarku, Mbok?" tanya Via.
"Nggak tau, Non" jawab Mbok Asih.
"Mami udah pulang belum, Mbok?" tanya Via.
"Belum, Non" jawab Mbok Asih singkat.
"Ya udah, aku ke atas dulu ya, Mbok" pamit Via.
"Iya Non" balas Mbok Asih.
"Hay Kak" Sapa Via ketika memasuki kamarnya.
"Duh Adik Kakak sekarang udah gede ya, bisa main sampai jam segini" ledek Zein.
"Iya Kak, maaf" ucap Via sambil menelengkupkan kedua tangannya.
"Kemana aja tadi, cerita donk" pinta Zein sambil menepuk tempat duduk di sampingnya untuk meminta Via duduk di sampingnya.
"Tadi sih seru Kak, kita pergi ke danau" ucap Via sambil memperhatikan Zein yang tengah bermain game.
"Terus yang bikin serunya apa donk?" tanya Zein tanpa mengalihkan pandangannya dari play station miliknya.
"Makan cemilan dan mengobrol di tepi danau, lalu kita menikmati senja dengan mendayung ke tengah danau. Foto-foto dengan panorama alam yang indah, Kak" jelas Via tersenyum.
"Wow, menarik sekali ya" jawab Zein sambil memandang ke arah Via.
"Iya kak, selain itu ternyata Bunga juga orangnya asyik, nggak seburuk yang aku pikirkan" ucap Via jujur.
"Emang kamu mikirnya kaya gimana?" tanya Zein tak mengerti.
"Ya awalnya aku kira anak-anak yang di kota itu akhlak nya buruk, pergaulan pun bebas tanpa memperhatikan adab" jelas Via.
"Via sayang, dengerin Kakak ya. Via kan udah gede, udah bisa bedain mana yang baik dan yang buruk jadi harus tau bahwa nggak semuanya orang kota itu rusak pergaulannya. Namun, kita memang harus waspada dalam menentukan teman untuk bergaul, karena banyak yang mengikuti pergaulan temannya. Kalau ketemu teman yang baik, kita jadi ikutan baik, tapi kalau kita ketemu teman yang membawa pergaulan buruk, kita ikutan hancur" jelas Zein menasehati adiknya.
"Siap Kak" jawab Via singkat.
"Ya udah sana mandi, biar istirahat gih" perintah Zein.
"Bentar lagi kak" ucap Via.
"Mandi dulu, nanti makannya. Badan udah bau kaya nggak mandi selama sebulan" ledek Zein sambil menutup hidungnya.
"Wangi ya" sungut Via.
"Apanya yang wangi, kaya bau bunga rafflesia gitu" ucap Zein sambil terkekeh melihat wajah Via cemberut karena ledekan nya.
__ADS_1
"Kakak tuh yang kaya raflesia" jawab Via sambil melemparkan bantal ke wajah Zein.
Hanya Zein lah yang selalu memperhatikan dan mengajak Via bercanda. Zein selalu berusaha menjaga serta membahagiakan adik semata wayangnya.