
Masakan menu makan siang mereka sangat sederhana, hanya ada mie instan, telor rebus, serta sarden. Bekal yang mereka bawa dari rumah pun semuanya hampir sama, seperti beras, telor, mie instan, sarden, kornet, serta bumbu dapur lainnya.
Setiap kelompok nya di haruskan memasak makanan tanpa meminta ke kelompok lainnya. Kelompok Via dan Dirga cukup akrab, sehingga soal masak memasak saling membantu dan ketika telah selesai memasak mereka langsung makan bersama.
"Ternyata masakan kita nggak terlalu buruk ya" celetuk Novi sambil mengunyah makanannya.
"Iya dong, aku kan jago masak" jawab Bunga dengan jumawa.
"Tanpa aku, kalian pasti ga akan bisa masak dengan hasil yang lezat begini" sangkal Dira.
Semua tertawa akibat perdebatan antara mereka. Kebersamaan seperti ini akan menjadi kenangan yang sangat berarti di dalam catatan sejarah kehidupan mereka kelak.
"Sayang, cobain deh. Ini enak tau, nggak terlalu pedas" ucap Catur sambil menyuapi Via dengan nasi yang ada sarden nya.
"Nggak ah, aku nggak suka masakan sarden" tolak Via sambil menjauhkan tangan Catur yang akan menyuapinya.
"Cobain dulu biar bisa bilang enak atau nggak nya, kalau nggak suka ya sudah jangan di terusin" Catur tetap memaksa Via.
"Oke, sesendok aja ya" Via menyetujui.
"Baiklah, buka mulut" pinta Catur.
Catur pun menyuapi Via dengan makanan yang ia makan, perhatian kecil yang di tunjukkan olehnya membuat rasa nyaman itu selalu muncul. Perhatian yang tidak pernah Via rasakan dari orangtuanya, justru kini ia dapatkan dari sang kekasih.
"Woy, inget tujuan ke sini untuk bantu menyelesaikan masalah, bukan pacaran apalagi nanti menimbulkan masalah" canda Dirga.
"Eh ganggu aja, aku ke sini itu mau bantu masalah yang lagi di hadapi oleh pacarku sekaligus memberikan rasa nyaman. Apa perhatian seperti ini salah, Bro?" jawab Catur tersenyum.
Ucapan yang dilontarkan oleh Catur mampu membuat pipi Via merona. Semburat kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
"Makasih ya, kamu baik banget ke aku" ucap Via sambil tersenyum.
"Udah seharusnya aku melindungi kamu, karena aku memang tulus mencintaimu" ucap Catur.
"Yeeee malah pacaran, udah ah mending cepetan habisin makanannya biar kita berkemas dan memikirkan ide untuk mencari informasi mengenai misteri ini" perintah Novi serius.
"Tumben ini bocah cerdas" celetuk Dirga yang membuat semuanya tertawa kecuali Novi.
"Jadi menurut mu aku selama ini bodoh begitu?" ucap Novi sambil melotot.
Pelototan yang di tunjukkan oleh Novi tak membuat Dirga ketakutan, justru tawanya semakin keras.
"Aku sama Novi akan mencuci piring bekas makan di kamar mandi" pamit Via.
"Baiklah, aku dan yang lainnnya akan tetap di tenda untuk berjaga-jaga sekaligus merapikan lokasi" ucap Bunga.
Via dan Novi bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci, kali ini suasana di sekitar kamar mandi ramai karena beberapa siswa sedang melakukan aktivitas seperti mengambil air dan mencuci piring.
Di samping kamar mandi terdapat pohon mangga yang sangat besar dan rimbun, buah nya lumayan lebat dan akan segera matang. Via terus mengamati sekeliling nya, tidak jauh dari pohon mangga terdapat kebun sepetak milik kelas IX C yang menanam jagung.
__ADS_1
Kelas IX C sedang sibuk memanen jagungnya yang masih muda agar bisa di rebus atau bakar. Kegiatan yang mereka lakukan mengundang keinginan Via agar dapat ikut serta memetik buah jagung mereka.
"Nov, aku ke sana dulu ya" pamit Via sambil menunjuk ke arah kebun jagung.
"Jangan lama-lama ya, sebentar lagi aku selesai nyuci nih" pesan Novi.
"Nggak lama kok, pengen minta beberapa aja untuk di bakar nanti malam" jawab Via sambil berlalu meninggalkan Novi bersama dengan anak-anak dari kelas lain yang sedang mencuci juga.
Via terus melangkah ke kebun jagung milik kelas IX C, kebun jagung yang tidak begitu luas namun hasilnya cukup untuk bakar-bakar malam ini. Bakar jagung sambil bermain gitar dan menyanyi di depan api unggun.
"Di, lagi panen jagung ya?" sapa Via kepada Adi si ketua kelas IX C.
"Eh, Vi, ngagetin aja. Kamu mau jagung gak?" tanya Adi.
"Boleh nih kalau di kasih" jawab Via tersenyum.
Dengan riang Via membantu Adi dan teman-temannya memetik jagung untuk di bakar dan di rebus. Ada rasa kebahagiaan yang menyelimuti, jerih payah mereka selama ini membuahkan hasil yang memuaskan.
"Vi, yang paling ujung berbatasan dengan kebun kacang hijau kelas IX D belum di petik ya" teriak Adi.
"Oke, aku yang petik ya" jawab Via.
Batang jagung yang menjulang lebih tinggi daripada tubuh Via, membuat dirinya sedikit kesulitan untuk melihat sekitar. Via berjalan sampai pada ujung kebun jagung, sekitar 20 meteran dari tempat nya berdiri terlihat dengan jelas pohon mangga yang rindang.
Sekilas tidak ada yang aneh dengan pohon mangga tersebut, dahannya yang rindang, batangnya besar, serta berbuah manis dan lebat. Ketika Via hendak membalikkan tubuhnya, tiba-tiba tercium bau kemenyan.
"Kok ada bau kemenyan di sini" batin Via.
"Bau kemenyan ini apa sama dengan tanda-tanda akan munculnya si Mr. Pose?" tanya Via dalam hatinya.
Meskipun rasa takut mulai menghinggapi pikirannya, namun rasa penasaran berhasil mengalahkannya. Pandangan kedua matanya di edarkan ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda jika ada orang membakar kemenyan ataupun kehadiran si Mr. Pose.
Kakinya melangkah menuju ke arah pohon mangga, semakin dekat dengan pohon, maka semakin kuat bau kemenyan.
"Apa mungkin kemenyan itu berasal dari pohon mangga ini?" batin Via menerka-nerka sambil terus berjalan perlahan.
Terlihat asap mengepul di balik pohon mangga yang kini tinggal delapan meteran. Rasa takut dan khawatir kembali menyelimuti hatinya. Takut jika tiba-tiba di balik pohon tersebut ada di Mr. Pose atau Mbak Kun yang sedang istirahat tidur siang.
Meskipun rasa takut itu ada, keringat dingin mulai bercucuran, namun kaki Via tetap melangkah untuk melihat ada apa di balik pohon mangga yang berada di hadapannya saat ini.
Mata Via terbelalak ketika melihat penampakan di hadapannya. Sungguh tidak bisa di percaya dengan apa yang ada di hadapannya kini.
"Siapa yang menaruh sesajen dan membakar kemenyan di bawah pohon ini" ucap Via lirih.
Terdapat sesajen yang sangat komplit, ada berbagai macam bunga, kendi, beras ketan hitam, ayam, serta di wadah yang terbuat dari tanah liat terlihat cairan darah yang mengental.
"Apakah masih ada orang yang menyembah pepohonan demi mendapatkan harta seperti di film-film dan novel?" ucap Via lirih, nyaris tak terdengar.
Via memperhatikan sekelilingnya, tidak ada tanda-tanda jika ada orang yang di sekitarnya. Mungkin orang yang meletakkan sesajen telah pergi beberapa saat sebelum dirinya datang, karena terlihat dari kemenyan yang di bakar masih mengeluarkan asap nya.
__ADS_1
"Vi, kamu udah selesai belum?" sayup-sayup terdengar suara Adi memangil namanya.
Via meninggalkan tempat itu sambil berlari menuju ke arah temannya.
"Kamu kemana saja, lama banget metik jagung nya?" tanya Adi ketika melihat Via berlari mendekat.
"Tadi habis metik ke yang paling ujung, ga jauh dari pohon mangga itu" ucap Via sambil berbalik badan dan menunjuk pohon mangga.
"ke dekat pohon mangga itu?" tanya Adi sambil menunjuk pohon mangga.
"Iya" jawab Via singkat sambil mengangguk mantap.
"Kamu nggak ke dekat pohon nya banget kan?" tanya Adi memastikan apakah Via mendekati pohon mangga itu.
"Emang nya kenapa?" tanya Via balik ketika melihat ekspresi wajah Adi.
"Nggak apa-apa sih, tapi kita hanya di larang sama Pak Sigit untuk mendekati pohon mangga itu" jelas Adi.
"Kalau kita mendekat, emang nya kenapa?" tanya Via lagi mencoba mengorek informasi lebih banyak.
"Nanti kita tergoda sama buah nya dan mencoba untuk mengambil tanpa meminta kepada si pemilik" jawab Adi sambil terkekeh.
"Huh dasar, kirain ada apa gitu. Oh ya, emang pemilik pohon mangga itu siapa?" tanya Via kepo.
"Ya si empunya kebun lah, masa punya aku" ucap Adi.
"Kirain kamu tau siapa pemilik kebunnya" jawab Via singkat.
"Nggak" balas Adi singkat sambil terus memasukkan beberapa jagung kedalam kantong plastik.
"Itu untuk siapa, Di?" tanya Kia karena melihat Adi memisahkan sebagian jagung.
"Ini buat Via, dia tadi udah bantuin kita memetik jagung" jelas Adi.
"Banyak banget itu" ucap Via ketika melihat jagung yang akan diberikan oleh Adi.
"Makasih ya, Vi. Ini untuk kalian bakar-bakar malam nanti" ucap Adi sambil menyodorkan sekantong jagung.
"Terimakasih juga ya, kalian baik banget udah mau berbagi" jawab Via sambil tersenyum lembut.
"Sama-sama. Ayo sekarang kita kembali ke depan, ke tenda masing-masing" ajak Fahri wakil ketua kelas IX C.
Via membawa jagung yang di beri oleh kelas IX C ke arah kamar mandi. Di depan kamar mandi terlihat Novi sedang berdiri menahan kesal karena Via pergi lama sekali.
"Kamu lahiran dulu di sana?" ucap Bunga pura-pura ngambek.
"Lama karena bantuin mereka metik jagung, sekarang aku bawain untuk kita bakar nanti malam" ucap Via sambil mengangkat jagung yang ada di dalam plastik.
"Oh begitu, ayo kita kembali ke tenda. Mereka pasti menunggu kita karena terlalu lama meninggalkan tenda" ajak Novi.
__ADS_1
Mereka segera kembali menuju tenda, tanpa ada obrolan sedikitpun karena di dalam benak Via masih diliputi oleh berbagai pertanyaan mengenai sesajen yang ada di bawah pohon mangga.