Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Anak Baru


__ADS_3

Pagi ini kelas IX B ramai karena kedatangan siswi baru, dia pindahan dari kota. Penampilannya modis dengan rok biru di atas lutut serta seragam putih yang menggunakan rompi berwarna biru juga, seragam dari sekolah yang lama masih dia kenakan.


Wajahnya imut, dengan hidung mancung serta kulit berwarna putih. Rambutnya panjang, di kuncir kuda dengan kunciran yang unik ada pernak perniknya. Dia memakai sepatu kets dengan kaos kaki yang pendek sehingga tak terlihat atau memang dia tidak menggunakan kaos kaki sehingga kaki jenjang miliknya terlihat sangat indah. Postur tubuh kira-kira setinggi 150 cm membuatnya terlihat sangat ideal dan sempurna.


Semua mata memandang kagum ke arah anak baru yang kini berdiri di depan kelas di samping Bu Siti selaku wali kelas. Bu Siti mempersilahkannya untuk memperkenalkan diri.


"Selamat pagi anak-anak" sapa Bu Siti.


"Pagi Bu" jawab siswa serempak.


"Hari ini kita kedatangan anak baru, pindahan dari kota. Coba perkenalkan dirimu, nak" pinta Bu Siti padanya.


"Baik Bu, terimakasih" ucapnya sambil tersenyum.


"Hallo teman-teman, perkenalkan namaku Bunga. Aku pindahan dari Jakarta, di sini ikut orang tuaku" jelas Bunga memperkenalkan diri.


"Hallo Bunga" jawab kami serempak.


"Semoga aku bisa bergabung dengan kalian semua dan mohon untuk menerima keberadaan ku di antara kalian" ucap Bunga ramah.


"Tenang Bunga, ada Abang Dirga" jawab Dirga lantang dan di sambut teriakan teman-teman lainnya.


"Huuuuuuuuuuu" teriak semua teman-teman sekelas.


"Bunga, kamu silahkan duduk di belakang Via" perintah Bu Siti.


"Iya, terimakasih Bu" jawab Bunga sopan sembari tersenyum ramah.


Bunga berjalan menuju ke arah bangku kosong yang berada di belakang Via, sambil tersenyum ramah ke semua teman-teman di kelas.


"Hy, aku Bunga" sapa Bunga sambil mengulurkan tangan kepada Via.


"Aku Via" jawab Via singkat sambil tersenyum simpul.


"Senang berkenalan denganmu, semoga kita menjadi teman ya" ucap Bunga berharap.


"Iya, semoga saja" jawab Via singkat.


"Baiklah anak-anak, perkenalannya cukup sampai di sini saja dan kita akan melanjutkan pelajaran biologi" perintah Bu Siti.


Pelajaran dimulai dan semua siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh Bu Siti. Mata pelajaran biologi selama 2 jam diisi dengan pembahasan materi perkembangbiakan pada manusia. Bel berbunyi, tanda pelajaran berakhir dan jam istirahat selama setengah jam.


*Di Kantin*


"Bu, pesen bakso dua porsi kaya biasanya ya" ucap Dira pada ibu kantin.


"Oke Neng, nanti diantar" jawab ibu kantin singkat.


"Duduk di pojok sebelah situ yuk, Vi" ajak Dira sambil menunjuk meja di pojokan kantin.


"Oke" jawab Via singkat sambil berjalan menuju meja yang dimaksud oleh Dira.


Saat mereka asyik duduk sambil menunggu pesanan datang, terlihat bunga masuk ke kantin bersama dengan Dirga. Seketika suasana di kantin jadi agak riuh, banyak yang menggoda dan membicarakan kecantikan Bunga.

__ADS_1


"Eh Vi, itu kayanya si Bunga akan jadi pacarnya si Dirga deh" bisik Dira kepada Via.


"Biarin aja, Dirga kan memang gitu suka gonta-ganti pacar. Cewek yang diincar juga yang cantik-cantik aja kan" jawab Via cuek.


"Iya, dan yang nggak pernah dipacarin sama si Dirga cuma kamu doank deh di sekolah ini. Kan banyak yang tau kalau kamu itu termasuk siswi tercantik di sekolah kita" jelas Dira.


"Aku mah ogah banget punya pacar yang otak mesum kaya si Dirga" ucap Via sambil bergidik ngeri.


"Hahhahaaaaa, benar sih tapi tampannya itu yang bikin susah nolak" ucap Dira sambil mesem-mesem.


"Dih, jangan bilang kamu suka Dirga ya" tuduh Via kepada sahabatnya.


"Enggak lah, aku tau diri aja Vi. Di sekolah kita ini banyak banget cewek cantik jadi nggak mungkin banget dia mau sama aku yang sederhana gini" jelas Dira sambil menghela nafas.


"Berarti kalau kamu di tembak sama Dirga, kamu mau donk?" tanya Via.


"Siapa sih cewek yang akan nolak kalau di sukai oleh cowok setampan Dirga?" tanya Dira balik.


"Kalau aku ogah, mau setampan apapun kalau dia nya itu suka mesum bakal aku tolak" jawab Via sengit.


"Kayaknya kamu berlebihan deh Vi, Dirga nggak seburuk yang kamu pikirin" bela Dira.


"Nggak buruk gimana, udah jelas dia itu mesum Mulu pikiran nya. Perbuatan nya juga tak kalah menjijikkan" ucap Via sambil berdecak.


"Ya udah, tapi inget ya Neng geulis, benci sewajarnya saja karena jika berlebihan dan rasa benci itu habis maka yang tersisa adalah rasa suka dan cinta. Nggak sedikit yang awal nya benci lama-lama jadi cinta loh" goda Dira yang membuat sahabatnya melotot.


"Amit-amit suka sama cowok kaya dia" ucap Via sambil mengelus-elus perut nya.


"Ishhhhhhhhhhhh" ucap Via sambil manyun.


"Udah ah debat nya, yuk makan bakso mumpung masih panas" tawar Dira ketika Ibu kantin mengantarkan bakso pesanan mereka.


Saat mereka akan memakan bakso, terlihat Dirga dan Bunga berjalan bersisian menuju meja tempat mereka makan.


"Boleh bergabung nggak?" tanya Bunga kepada kami.


"Silahkan" jawab Dira sambil tersenyum, sedangkan Via tetap fokus makan bakso miliknya.


"Udah pesen makan?" tanya Dira mencoba mengakrabkan diri.


"Sudah tadi, pesen seblak. Pengen coba makan seblak sini yang katanya enak banget" jawab Bunga sambil tersenyum.


"Iya di sini memang terkenal seblaknya enak, pakai cabai yang banyak jadi pedes biar seger" jelas Dira.


"Yuk cepet makan, jam istirahat nggak lama lagi selesai" sela Dirga ketika pesanan seblak mereka datang.


 


*Di kelas*


 


"Siang anak-anak" sapa Bu Fitri ketika memasuki kelas.

__ADS_1


"Siang juga Bu" jawab siswa serempak.


"Sudah siap belajar?" tanya Bu Fitri.


"Sudah" jawab siswa serempak.


"Oke kita berdoa dulu dan absen ya sebelum memulai pelajaran" perintah Bu Fitri.


Semua tampak khusu berdoa dipimpin oleh ketua kelas, Haris sebagai ketua kelas yang memimpin doa. Setelah doa selesai, Bu Fitri mengabsen semua siswanya.


"Kita hari ini belajar mengenai sulam, teknik menyulam dan nanti ada tugas kelompok untuk nilai praktek semester ini" jelas Bu Fitri.


"Iya Bu" jawab siswa.


"Pengertian Sulaman 


Asal kata “embroidery” yang berarti sulam berasal dari bahasa latin yaitu Brustus, Brudatus, Aurobrus yang artinya keterampilan jahit- menjahit, yang kemudian menjadi kata “Broderie” dalam bahasa Prancis dan “embroidery” dalam bahasa Inggris. Menurut Wacik (2012) Sulaman adalah suatu bentuk seni atau kerajinan menghias bahan (dapat berupa kulit, kain atau bahan lainnya) dengan menggunakan benang dan jarum membentuk desain yang beragam. Jaafar (2006) berpendapat bahwa Sulaman tangan yang halus dan indah sangat tergantung pada kesabaran pembuatnya, juga pada kemampuannya memadu- padankan warna sesuai rancangannya.Selanjutnya Indira (2011) mengemukakan bahwa menyulam adalah seni atau keterampilan menghias kain atau bahan lain dengan benang atau kawat menggunakan jarum. Menyulam dapat juga dilakukan pada media kulit dengan dihiasi ornament lain, seperti mutiara, mote, atau manik- manik, dan payet" jelas Bu Fitri lantang.


"Ada beberapa jenis sulaman yaitu sulaman putih dan berwarna. sulaman yang warna benangnya sama dengan bahan/kain misalnya sulaman bayangan, sulaman inggris, metalase, dan reseliu. Sedangkan Sulaman berwarna adalah teknik menghias dengan menggunakan kain dasar dan beberapa jenis benang yang bervariasi.Yang termasuk sulaman berwarna yaitu sulaman Fantasi, Janina, jerman, tiongkok, perancis, alikasi, inkrustasi, arab, hiasan Holbein, tapiseri, asisi, merubah dan menghias corak, melekatkan benang, dan meletkan pita atau pita biku" tambah Bu Fitri.


"Sesuai tugas minggu lalu, Ibu udah suruh kalian membawa alat untuk kita praktek menyulam. Kita praktek bersama agar kalian paham teknik menyulam. Kalian bawa kan alatnya?" tanya Bu Fitri.


"Bawa Bu" jawab siswa sambil mengeluarkan alat praktek yang di tugaskan minggu lalu oleh Bu Fitri.


"Ayo keluarkan semuanya, Ibu langsung akan membagi kalian menjadi lima kelompok" jelas Bu Fitri.


"Iya Bu" jawab siswa.


"Kelompok pertama ada Haris, Ari, Yeni, Siska, dan Tika. Kelompok kedua Adi, Kiki, Bella, Sindi dan Yusi. Kelompok ketiga ada Agus, Dirga, Novi, Bunga dan Via, kelompok keempat ada Ahmad, Budi, Gina, Wati dan Zaskia. Sedangkan kelompok lima ada Raffi, Edy, Hafizah, Melly, Ocha dan Rinda. Semua siswa berjumlah 26 di kelas IX B. Tugasnya adalah kelompok satu membuat sulaman dengan tema rumah adat, kelompok dua dengan tema pemandangan kota, kelompok tiga dengan tema pemandangan desa, kelompok empat dengan tema sekolah, serta kelompok lima dengan tema wahana permainan. Sampai di sini ada yang mau bertanya kah?" tanya Bu Fitri.


"Saya, Bu mau tanya" ucap Kiki sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Tanya apa?" jawab Bu Fitri.


"Satu orang satu prakarya atau satu kelompok satu prakarya Bu?" tanya Kiki.


"Bagus pertanyaannya, jadi tugas ini untuk melengkapi ulangan harian kalian sebagai tugas kelompok. Nanti kalian cukup bikin satu prakarya untuk satu kelompok, tapi untuk tugas akhir semester nya kalian harus bikin prakarya satu orang satu dengan tema yang sudah Ibu tentukan ini ya" jelas Bu Fitri.


"Iya Bu" jawab siswa.


"Ada yang mau bertanya lagi, atau ada yang belum paham?" tanya Bu Fitri sambil menatap seluruh siswanya satu persatu.


"Cukup Bu" jawab sebagian anak.


"Baiklah, kalau ada yang belum paham silahkan saling bertanya ke sesama teman yang paham. Ibu akhiri pertemuan hari ini dengan Hamdalah".


"Alhamdulillah" ucap Bu Fitri dan Siwa bersamaan.


"Ibu keluar, kalian jangan kemana-mana. Tunggu saja guru selanjutnya dan kalau nanti gurunya belum masuk, tolong ketua kelas untuk ke kantor mencari guru piket".


"Iya Bu" jawab siswa.


Bu Fitri keluar dari kelas dan akan diganti oleh guru selanjutnya hingga jam pulang.

__ADS_1


__ADS_2