Teman Tak Kasat Mata

Teman Tak Kasat Mata
Dimensi Lain


__ADS_3

Akibat dari pukulan di bagian kepala depannya, Haris jadi tak sadarkan diri dan mengalami luka yang cukup serius.


"Ayo tusuk bagian perutnya, lalu ambil darah pakai ini" ucap pria berjubah hitam yang memegang balok mengulurkan wadah seperti mangkuk yang terbuat dari tanah liat.


Pria berjubah hitam itu langsung menusuk perut Haris hingga mengeluarkan darah. Darah segar mengalir dari perutnya, dengan sigap si pria langsung menadahkan mangkuk untuk mengambil darah. Setelah merasa cukup, dia langsung meletakkannya di meja terdekat.


"Bagaimana mungkin mereka bertindak sekejam itu?" batin Via.


"Ayo bantu pakaikan lagi seragam putihnya" ucap Pria yang memegang balok.


Mereka langsung memakaikan seragam dan membersihkan ruangan untuk menghilangkan jejak. Ruangan kembali bersih, sedangkan Haris di letakkan di atas meja yang sudah di lapisi dengan plastik agar darahnya tidak mengotori lantai lagi.


Ting..Ting...Ting...Ting...


Lonceng berbunyi sebanyak empat kali, sebagai tanda jika semua siswa harus berkumpul di lapangan. Kaki Via melangkah untuk melihat kebawah, di bawah semua siswa sedang bersiap untuk berbaris sesuai anjuran ketua kelas.


Di bawah semua sibuk dengan berbaris, bahkan semua wali murid pun ikut berbaris karena hari ini adalah kelulusan siswa SMP N NUSA BANGSA. Guru-guru dan kepala sekolah pun telah berbaris, Via hanya menatap dari lantai dua.


"Jadi seperti itu kronologi pembunuhan Haris?" batin Via sambil menitikkan air mata.


Riuh terdengar tepuk tangan dan ucapan selamat telah berhasil membuyarkan lamunan Via. Dari atas, dia menyaksikan betapa bahagia wajah-wajah wali murid serta siswa yang berprestasi. Kini, dia melihat bagaimana ekspresi dirinya ketika maju ke depan lapangan untuk berbaris dengan siswa-siswa yang berprestasi.


"Kenapa aku harus menyaksikan peristiwa menyakitkan ini" batin Via.


"Sreeeeetttttt".


Bunyi pintu di dorong, Via langsung membalikkan badannya. Terlihat dua pria berjubah hitam sedang membopong tubuh Haris yang terluka. Dengan susah payah mereka mengayunkan tubuh itu, hingga membuangnya ke bawah.


"Aaaaawwwwww".


Teriak Via sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Di bawah pun tidak kalah histeris. Tubuh Haris telah terjatuh dan membentur lapangan yang telah di semen sehingga mengakibatkan sebagian tubuhnya hancur.


Setelah menjatuhkan tubuh Haris, kedua pria berjubah hitam itu langsung pergi begitu saja. Keduanya berjalan ke arah ruangan kepala sekolah yang berada di paling pojok, mereka masuk setelah membuka pintunya.


"Kok mereka masuk ke ruangan kepala sekolah dan bisa ada kunci ruangan kepala sekolah di mereka?" gumam Via.


Via hanya terdiam tanpa bisa berbuat apapun, kedua orang berjubah hitam itu tidak dapat dikenali karena memakai penutup wajah.


"Vi, bangun Sayang" ucap Catur sambil menepuk pelan pipi Via.


Via mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya, kepalanya terasa berat dan jantungnya berdetak kencang. Keringat dingin mengucur dari kedua pelipisnya. Dia berusaha bangun, namun gagal karena tenaganya telah terkuras.


Dia mengedarkan pandangannya, merasa pusing dan aneh. Saat ini, dia tertidur di pangkuan sang kekasih dan dikelilingi oleh keempat temannya.


"Kita masih di bawah pohon mangga?" tanya Via.


"Iya, tadi tiba-tiba kamu pingsan" ucap Catur.


"Kamu kok pingsannya mendadak sih, bikin khawatir tau" sungut Novi.


"Hey, kalau pingsannya izin dulu itu namanya akting" jawab Dira sengit.


"Iya tau, tapi kan ini Via pingsan dadakan tanpa kita ketahui penyebabnya" balas Novi tak mau kalah.


"Udah-udah, jangan debat lah" Bunga menengahi.

__ADS_1


"Sebaiknya kita harus segera meninggalkan tempat ini, sebelum ada orang memergoki kita semua" ajak Dirga.


"Sayang, ayo kita kembali ke tenda" ucap Catur kepada Via.


Via hendak beranjak dari pangkuan Catur, namun tiba-tiba kembali terduduk. Kepalanya masih pusing dan kakinya tidak mampu menopang berat tubuhnya.


"Jangan paksain, aku gendong kamu aja ya" tawar Catur.


"Tapi.." belum selesai Via melanjutkan ucapannya, Catur dengan sigap membopong tubuhnya.


"Diem, jangan banyak gerak. Nanti kalau kebanyakan gerak, aku jatuhin nih" ancam Catur sambil tersenyum.


"Emangnya ikhlas ngejatuhin aku?" tanya Via sambil cemberut.


"Nggak lah, kan aku sayang sama kamu, jadi mana mungkin tega ngejatuhin" jawab Catur sambil mencium pipi gembul Via.


"Uhhhhh cari kesempatan dalam kesempitan" sungut Via.


"Nggak apa-apa, dikit doang" bisik Catur.


Mereka terus berjalan menuju tenda, dengan langkah terburu karena khawatir kepergok pihak sekolah. Tanpa mereka sadari jika ada sepasang mata yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka.


"Hallo, saya minta kamu untuk mengawasi keenam bocah itu. Jangan sampai mereka mengacaukan rencana ku" ucap wanita separuh baya yang memakai jaket Hoodie berwarna hitam.


"Kalian jangan sampai mencampuri urusanku, jika masih ingin menghirup udara" gumamnya dengan sorot mata yang tajam.


"Hey kalian dari mana saja?" tanya Riki ketika melihat Dirga dan lainnya masuk ke tenda.


"Ada sedikit urusan. Ada apa?" Dirga balik bertanya.


"Ada perlu apa Bu Melati mencari kami?" tanya Bunga.


"Mau mastiin kalau tugas kita selesai atau belum" jawab Riki.


"Tugas kita selesai semua, tinggal mengikuti jadwal yang sudah di bagi. Malam ini kita akan mengadakan pengajian untuk doa bersama agar arwah almarhum Haris bisa tenang, lalu ada pembakaran api unggun. Kita sudah menyiapkan kayu bakar serta beberapa jagung untuk santap malam sambil bergadang" jelas Dirga.


"Iya, aku pamit dulu ya karena mau main ke tenda adik kelas di ujung" ucap Riki sambil berlalu.


Via berbaring didalam tenda, tenda sengaja dibuka agar dia dapat melihat dan ikut mengobrol dengan teman-temannya yang duduk di depan tenda.


"Gimana rencana kedepannya?" tanya Catur.


"Belum tahu nih, yang lain ada ide nggak?" tanya Dirga ke arah Bunga, Novi dan Dira.


"Cari data-data mengenai semua korban" usul Novi.


"Hey, mengenai siswi misterius itu gimana?" tanya Bunga.


"Itu harus diselidiki, sepertinya si arwah mau membantu kita" ucap Dirga.


"Malam ini ada acara pembacaan doa untuk arwah almarhum Haris, kita akan membagi tugas untuk mencari data dan sebagian pergi ke gudang" usul Catur.


"Setuju" ucap Novi.


"Aku tau, kita harus ke perpustakaan yang di dekat tangga naik. Di sana menurut Pak Anggi terdapat semua data-data sekolah. Kita akan mencari data siswi misterius itu, lalu mencari informasi kematiannya" usul Dira.

__ADS_1


"Gimana kalau kita bertiga yang akan ke perpustakaan itu. Kau dan Via yang ikut aku ke sana" jelas Catur ke arah Dira.


"Baiklah, kita persiapkan alat-alat untuk masuk ke perpustakaan itu" jawab Dira.


"Kalian harus membawa senter karena di sana gelap, selain itu harus mempunyai kunci perpustakaan agar bisa masuk dengan mudah" jelas Novi.


Saat tengah asyik membicarakan rencana yang mereka susun, tiba-tiba ponsel Catur berdering tanda ada yang menelpon.


"Hallo, Assalamualaikum" sapa Catur setelah menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Walaikumsalam" jawab penelpon.


"Ada apa, Nek?" tanya Catur lembut.


"Kakekmu ingin berbicara" jawab diseberang.


"Hallo, Assalamualaikum" sapa sang Kakek.


"Hallo, walaikumsalam, Kek" jawab Catur.


"Kau lagi dimana cucuku?" tanya Kakeknya.


"Lagi di sekolah, ikut perkemahan, Kek".


"Tadi Kakek sudah lihat foto yang kau kirimkan, di mana letak sesajen itu?".


"Dibawah pohon mangga belakang sekolah, Kek".


"Itu bukan sesajen biasa".


"Maksud nya gimana?".


"Menurut yang Kakek lihat, ada seseorang yang melakukan ritual pemujaan untuk menumbalkan seseorang dengan bersekutu terhadap jin" jelas Kakeknya Catur.


"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Catur bingung.


"Kakek akan segera ke sana, kalian dalam bahaya" jelas Kakeknya Catur.


"Terimakasih, Kek".


"Jangan tinggalkan sholat, perbanyak zikir dan mintalah pertolongan kepada Allah SWT" pesan Kakeknya Catur.


"Insyaallah Kek" jawab Catur singkat.


"Ya sudah, assalamualaikum" panggilan di akhiri.


"Walaikumsalam" jawab Catur lalu mengantongi ponselnya lagi.


"Ada apa, Bro?" tanya Dirga ketika melihat ekspresi murung Catur.


"Seseorang telah melakukan persugihan, sesajen yang kita temui itu adalah bentuk pemujaan terhadap jin. Kita harus berhati-hati lagi, karena kita dalam bahaya" ucap Catur sambil memandang satu persatu temannya.


"Bagaimana Kakek mu bisa tau?" tanya Novi tak percaya.


"Kakekku adalah seorang Kiayi di daerah Jawa Timur, tepatnya di Pacitan. Jadi wajar jika beliau paham akan hal ini" jelas Catur.

__ADS_1


Hening kembali tercipta, tak ada suara apapun selain helaan nafas. Mereka bingung harus bagaimana memecahkan misteri yang ada, semuanya terasa begitu penuh dengan teka teki.


__ADS_2