
Semenjak kejadian itu, mereka berlima membuat WA grup untuk membahas mengenai perkembangan misteri yang kini mereka hadapi.
Novi
[Guys ada info baru apa?]
Pesan masuk ke grup dari Novi, meskipun jiwa nya penakut, namun tingkat kekepoan nya sangat lah tinggi.
Bunga
[Belum ada info apapun]
Via
[Aku ada info]
Balas Via singkat dan berhasil membuat semua nya bertanya.
[Aku masih sering bermimpi mengenai gudang misterius di sekolah kita, sepertinya kita harus menyelidik semuanya] balas Via.
Dira
[Maaf ya teman-teman jika semenjak kelulusan kemarin, aku belum sempat menghubungi kalian karena kondisi ku sedang buruk]
Bunga
[Kondisi buruk bagaimana?]
Via
[Nomor telepon mu pun susah sekali di hubungi]
Dira
[Ceritanya panjang banget, aku bahkan sempat di ruqyah oleh eyang ku]
Dirga
[Guys, gimana kalau kita kumpul di rumah Via aja. Ada banyak hal yang harus kita bahas, aku baru aja dapat info dari sekolah. Hari ini sekolah di buka seperti biasanya, namun ada beberapa kejadian ganjil]
Novi
[Setuju, kita kumpul di rumah Via]
Bunga
[Aku juga sama, setuju]
Dira
[Kalian jemput aku ya, karena aku nggak boleh sembarangan keluar rumah]
Dirga
[Aku jemput Bunga, Novi jemput Dira. Kita kumpul di rumah Via jam tiga sore]
Via
[Oke, aku tunggu kalian]
Novi dan Bunga
[Siap]
Sambil menunggu teman-temannya datang, Via memutuskan untuk rebahan di kamarnya. Jenuh mulai di rasakan nya karena tidak ada teman mengobrol. Bolak-balik tanpa ada rasa nyaman, namun akhirnya tertidur pula.
__ADS_1
Mimpi itu kembali hadir, gudang gelap yang pengap, foto-foto, suara minta tolong, teriakan yang begitu pilu serta cengkraman di punggungnya oleh tangan yang tidak di ketahui milik siapa. Saat terbangun, cengkraman itu meninggalkan goresan di punggung Via.
Via menangis karena merasa lelah dengan teror mimpi yang terasa begitu nyata, pocong yang selalu muncul untuk minta tolong. Saat dirinya tengah menangis, tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar.
Tok...Tok...Tok...
"Non, teman-teman nya udah nunggu di bawah" ucap Mbok Asih.
"Suruh naik aja Mbok" teriak Via tanpa beranjak dari tempat tidur nya.
Tak berselang lama, teman-teman nya naik dan masuk ke dalam kamar.
"Hallo, Vi, aku kangen banget" ucap Dira sambil memeluk sahabatnya.
"Aku juga kangen banget" jawab Via sambil tersenyum.
"Gimana keadaan mu sekarang?" tanya Bunga.
"Alhamdulillah, udah mendingan sih sekarang" jawab Via sambil tersenyum.
"Kak Zein mana, Yang?" tanya Catur.
"Udah balik ke Jakarta lagi" jawab Via singkat.
"Cieeeeeee, ada yang jadian ya" ledek Dirga.
"Eh kalian kapan jadian?" tanya Novi kepo.
"PJ nya mana nih?" tanya Bunga.
"Apaan itu?" tanya Catur mengernyitkan dahinya.
"Pajak jadian"
"Ya udah nanti aku traktir kalian semua sebagai hadiah atas hubungan kami" ucap Catur.
"Udah diem, sekarang kita bahas permalasahan yang sekarang" ucap Dirga serius.
"Ada permasalah apa emang nya, Ga?" tanya Catur kepada Dirga, sahabat nya.
"Udah Bro, kamu nyimak aja" jawab Dirga.
Catur hanya mengangguk tanda mengerti, lalu semua nya terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Coba Vi ceritakan, ada hal misterius apa yang terjadi?" pinta Dirga.
Kemudian, Via, mulai menceritakan semua yang di alami oleh nya akhir-akhir ini setelah kematian, Haris. Bahkan mimpi di gudang sekolah, teror pocong serta arwah Haris yang selalu menjerit kesakitan dan gentayangan.
"Benar dugaan aku kan, ada yang nggak beres" gumam Dirga.
"Aku lebih parah dari kamu, Vi" ucap Dira lirih, sontak membuat semuanya melirik ke arah Dira.
"Apa maksud mu?" tanya Via.
"Selepas kelulusan kita, aku kan sampai pingsan gitu. Di rumah, aku tak sadarkan diri hampir tiga jam, ketika sadar pun aku selalu teringat dengan jenazah Haris" ucap Dira sambil menghembuskan nafas berat, lalu melanjutkan ceritanya.
"Keluarga ku mengira itu wajar, mungkin shock jadi selalu kebayang. Namun, keesokan harinya justru bayangan Haris terlihat dengan jelas. Arwah nya gentayangan, bahkan bukan cuma aku yang lihat. Kalian tau kan, adik sepupu ku yang cowok, kelas dua SMP itu satu tongkrongan dengan Haris, dia pun selalu melihat arwah Haris yang menyeramkan. Wajah yang hancur, darah segar mengalir di pelipis nya serta setengah badan hancur, tulang belulang nya sebagian keluar, dan jalan terseok-seok karena kaki nya patah" jelas Dira sambil mengingat sosok yang datang beberapa hari belakangan.
"Lalu?" tanya Novi tak sabar karena Dira menjeda cerita nya.
"Keluarga ku lalu memutuskan untuk meruqyah ku di seorang Kiayi di kampung Nenek. Yang lebih mengejutkan nya lagi, ternyata menurut Pak Kiayi, arwah Haris itu gentayangan karena di jadikan tumbal oleh seseorang" jelas Dira lagi.
Semua terdiam sibuk mencerna serta menghubungkan setiap kejadian yang mereka alami.
"Berarti si Mr. Pose bukan Haris dong?" tanya Via sambil menatap satu persatu teman nya.
__ADS_1
"Siapa itu Mr. Pose?" tanya Novi.
"Pocong yang meneror kita waktu itu, aku nggak mau nyebut pocong karena takut kebayang, jadi sesuai permintaan readers ku beri nama saja agar unik dan tidak terlalu horor" jelas Via sambil cengengesan.
"Ada-ada saja, Vi".
"Lalu siapa dong sosok Mr. Pose tersebut?".
"Masih misteri, kita belum mengetahui semuanya".
"Oh ya, kalian udah tau belum mengenai adik kelas yang kesurupan hari ini setelah melihat arwah Haris di lantai dua, tepatnya di depan ruang guru" tanya Dirga kepada teman-temannya.
"Nggak tau tuh" jawab Novi sambil mengangkat bahunya.
"Kalian harus janji nggak boleh cerita sama siapapun ya" pinta Dirga.
"Oke janji" jawab mereka serempak.
"Ada seorang siswa yang merasa aneh dengan kejadian itu, setelah pihak polisi menggaris lokasi. Tempat di mana tubuh Haris terjatuh itu banyak sekali darah, sehingga beberapa guru menyuruh siswa untuk menyiram menggunakan air sabun agar tidak tercium bau anyir. Seorang siswa nekat mengambil jeruk nipis di kebun belakang sekolah, kemudian memotong serta memeras air nya untuk di campur ke air sabun yang akan di gunakan menyiram bekas darah di lapangan. Konon, jika darah orang mati karena kecelakaan atau apapun jika di siram dengan perasan jeruk nipis akan kesakitan dan gentayangan. Aku sih nggak tau pasti dengan pemikiran siswa tersebut, apakah dia hanya iseng atau justru punya niat lain" jelas Haris lalu terdiam.
"Lalu maksud mu, Haris bisa gentayangan akibat perbuatan anak itu yang menyiram bekas darahnya menggunakan air yang di campur dengan perasan jeruk nipis?" tanya Via.
"Nggak tau pasti nya sih, tapi hari ini sekolah di gempar kan oleh berita jika beberapa siswa melihat penampakan arwah Haris di sekolah. Seorang siswa yang kesurupan mengerang kesakitan, suara nya persis seperti suara Haris" jelas Dirga lagi.
"Apa ini semua ada kaitan nya dengan mimpi mu, Vi?" tanya Bunga ke Via.
"Menurut ku sih berkesinambungan, sepertinya ada rahasia di sekolah itu yang belum terpecahkan" ucap Catur yang sedari tadi menyimak obrolan mereka.
"Benar sekali, Bro. Apalagi setelah di ketahui jika korban yang berjatuhan setiap tahun nya seorang siswa, selalu di bunuh dengan cara yang sama serta dalam waktu yang sama, yaitu kelulusan sekolah" jelas Dirga.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Via.
"Kita harus bisa memecahkan misteri ini, karena kita nggak mau kan kalau di teror setiap hari oleh arwah nya dan pocong jelek itu" usul Dirga.
"Aku nggak mau, takut ah" ucap Novi sambil menggeleng kan kepalanya.
"Kalau nggak mau, mau sampai kapan kita semua di teror terus?" tanya Dirga kesal.
"Tapi ini bahaya Bro, berurusan dengan makhluk tak kasat mata sangatlah sulit. Salah sedikit justru nyawa kita yang lenyap" pesan Catur.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluar nya, bukan untuk kita hindari. Menghindar itu bukan solusi" jelas Dira bijak.
"Kalau kita sama-sama mencari tau misteri ini, tentu kita semua bisa" ucap Bunga semangat.
"Yang lain gimana?" tanya Dirga melihat teman nya satu persatu.
"Aku siap" jawab Via mantap.
"Aku juga mau" jawab Dira tersenyum.
"Aku selalu ikut, asal bisa sama kamu terus, Sayang" jawab Bunga.
"Aku akan berusaha membantu, kalau kalian butuh bantuan ku" jawab Catur ketika Dirga menatap nya.
kini, tatapan mata Dirga tertuju kepada Novi yang hanya terdiam. Novi berusaha menolak untuk ikut karena takut, namun ia sadar tidak akan terus-terusan di teror oleh pocong.
"Ya udah deh, aku ikut aja" ucap nya lesu.
"Oke, semua nya setuju akan mencari tau misteri yang ada. Nanti kalau ada ide langsung kita runding kan" jelas Dirga.
"Kira-kira ada yang udah punya ide nggak?" tanya Bunga.
Semua menggelengkan kepala, tanda tidak memiliki ide.
"Acara kelulusan kita akan di rayakan dengan perkemahan dua hari lagi, acara ini di hadiri oleh kelas tujuh, delapan, dan sembilan yang lulus. Kita semua harus mengikuti perkemahan ini, aku yakin akan ada petunjuk di sana nanti" jelas Dirga.
__ADS_1
"Baik lah" jawab mereka serempak.