
Udara pagi begitu sejuk, tetesan embun di pagi hari masih menyisakan jejak nya di dedaunan. Mentari perlahan mulai menyembul dari kediamannya. Bunga-bunga dengan aneka warna sedang bermekaran, menghiasi taman di depan sekolah.
"Akhirnya pagi ini kita bisa kembali ke tempat dimana tiga tahun kita mengenyam pendidikan" ucap Via sambil menghirup udara segar dan menghembuskannya perlahan.
"Iya, kayaknya nanti kita bakal kangen dengan suasana sekolah ini" lirih Dira.
"Tentu, di sekolah ini lah kita di pertemukan dan menjalin persahabatan" jawab Via tersenyum.
"Menemukan sahabat yang baik dan saling mengerti satu sama lain itu nggak mudah, tapi alhamdulilah kita bisa saling mengisi kelebihan dan kekurangan satu sama lain" jelas Dira sambil memeluk Via, sahabat satu-satunya.
Ketika mereka sedang larut dalam pelukan, tiba-tiba datang Dirga dan Catur.
"Kalau pelukan, ngajak-ngajak dong, Sayang" goda Catur.
"Kok kamu ada di sini, pakai baju Pramuka juga?" tanya Via kaget karena Catur, kekasihnya itu bukanlah siswa SMP Nusa Bangsa.
"Kan aku udah janji sama kamu, aku akan ikut bantu menyelesaikan misteri ini" jawab Catur mantap.
"Makasih ya, maaf merepotkan".
"Aku sama sekali enggak merasa direpotkan kok sama kamu, udah seharusnya aku bantuin kamu karena kamu adalah orang yang spesial di hati aku" jelas Catur sambil menggenggam tangan Via.
"Pagi-pagi udah gombal aja" seru Dira.
"Tau nih, kita malah dikacangin. Dasar bocah bucin" ledek Dirga.
Via dan Dirga hanya mesem-mesem mendengar ledekan kedua teman mereka.
"Oh ya, ini kertas daftar nama kelompok serta jadwal kegiatan perkemahan sekarang. Coba kalian baca dulu, aku mau bantuin yang lain bikin tenda di sana" tunjuk Dirga ke arah lapangan.
"Baiklah, kami akan membaca jadwal di kertas ini dulu, nanti kami menyusul ke lapangan" ucap Via.
"Nitip sahabat ku ya, tolong kalian jaga dengan baik" pesan Dirga sambil tertawa.
__ADS_1
"Nggak kebalik nih yang jagain?" tanya Dira sambil menahan senyum.
Dirga berjalan ke arah lapangan untuk membantu teman-temannya mendirikan tenda.
"Apa rencana mu?" tanya Dira ke arah Catur.
"Sejauh ini belum ada, cuma aku penasaran dengan gudang yang ada di dalam mimpi Via" jawab Catur.
"Aku nggak tau pasti, apakah mimpi itu ada kaitannya dengan gudang di sekolah ini dan kematian Haris atau tidak" jelas Via.
"Sepertinya sekarang kita harus menuju lapangan. Menurut jadwal yang tertera di kertas ini, sebentar lagi akan berkumpul untuk mendengarkan pengarahan dari kepala sekolah" jelas Dira setelah membaca kertas yang diberikan oleh Dirga.
Mereka bertiga berjalan ke arah lapangan. Setelah tiba di lapangan, Via merasakan jika ada sepasang mata yang sedang mengawasi gerak-gerik nya. Mata Via tertuju pada gudang sekolah yang selalu terkunci dan tidak pernah terbuka sedikit pun.
Di depan gudang tersebut berdiri seorang siswi memakai baju olahraga berwarna ungu terong. Rambut sebahu dengan poni depan. Via merasa aneh dengan siswi yang berdiri di sana, tanpa seorang teman dan menatap dirinya sangat lama.
Siswi misterius itu kemudian berjalan ke samping gudang, menuju belakang kelas laboratorium. Di belakang laboratorium itu terdapat deretan kamar mandi dan WC siswa.
"Siapa anak itu?" tanya Via lirih.
"Itu, yang sedang berjalan ke arah belakang laboratorium" jawab Via sambil menunjuk ke arah laboratorium.
"Dari tadi aku perhatiin, kamu menatap tajam ke arah gudang. Lalu, sekarang kamu bilang kalau lagi lihat siswi yang berjalan berjalan ke arah belakang ruang laboratorium. Di sana itu sepi, ga ada siswi yang berada di dekat gudang ataupun berjalan ke belakang karena semuanya telah berbaris sesuai perintah ketua kelompok" bisik Dira.
"Aku beneran lihat dengan jelas, siswi itu memakai seragam olahraga berwarna ungu terong" bantah Via.
"Mungkin kamu lagi halusinasi, kamu terlalu memikirkan mimpi mengenai gudang sekolah itu" jelas Dira.
Via terdiam dan mencerna ucapan Dira barusan, mungkin kini ia benar-benar sedang berhalusinasi.
Di depan, kepala sekolah telah berbicara di atas mimbar untuk memberitahu bahwa perkemahan ini bertujuan untuk merayakan kelulusan kelas 9 serta doa bersama agar arwah Haris dapat tenang di alam sana. Via hanya melamun tanpa menyimak dengan jelas penjelasan dari kepala sekolah.
"Guys, Alhamdulillah kita satu team" teriak Novi girang.
__ADS_1
"Bagus, ini akan mempermudah kita dalam menjalankan misi" jawab Dirga sambil merampas kertas yang di pegang oleh Novi.
"Udah ada yang punya ide nggak untuk misi kita saat ini?" tanya Bunga kepada teman-temannya.
"Belum nemu ide" jawab mereka serempak.
"Menurut schedule, kita mengadakan perkemahan selama 2 malam 2 hari. Itu artinya kita akan pulang lusa, jadi ada 2 malam yang akan kita gunakan untuk mencari informasi" jelas Dirga sambil memahami schedule yang tertera di kertas.
"Malam ini ada kegiatan doa bersama dan pembakaran api unggun, sedangkan untuk besok malam adalah jurit malam" jelas Dirga lagi.
"Lalu siang hari nya apa kegiatan kita?" tanya Bunga.
"Hari ini hanya ada persiapan pendirian tenda serta, memasak, serta mencari kayu di kebun belakang sekolah" jelas Dirga.
"Aku ada ide" ucap Catur tiba-tiba.
"Apa?" tanya mereka serempak.
"Kita bagi tugas, jadi dua bagian untuk siang sampai sore ini. Kelompok pertama, aku, Via dan Dira akan bergerak menuju ke arah gudang serta ke lantai atas. Kelompok kedua, Dirga, Bunga, dan Novi membantu mendirikan tenda, mencari kayu serta mempersiapkan masakan. Apa kalian setuju?".
"Ide bagus, tapi di kelompok ini ada 3 siswa lagi yang bergabung dengan kami. Apa yang harus kita lakukan agar mereka tidak curiga?" tanya Dirga.
"Tiga orang laki-laki itu tugas kan saja mengambil air untuk memasak serta kayu bakar di kebun belakang sekolah. Berhubung tenda untuk kelas sembilan adalah tenda pribadi kecil yang di peruntukan hanya 4 siswa jadi tidak terlalu sulit mendirikan nya" perintah Catur.
"Oke, aku harap kita harus berhati-hati dalam menjalankan tugas. Jangan sampai ada yang curiga" ucap Via berharap.
"Harus, karena sampai saat ini jangan sampai ada yang mengetahui niat kita untuk mencari informasi mengenai kematian Haris. Bisa-bisa kita kena marah pihak sekolah ataupun orang tua masing-masing karena sejauh ini belum di ketahui pelaku serta tingkat bahaya misi kita ini" pesan Catur.
Dua puluh meter dari tempat mereka berbincang, terlihat tiga orang siswa, mereka adalah Agus, Riki dan Joni. Mereka bertiga satu tenda dengan Dirga.
Ke empat lelaki itu kemudian mendirikan tenda, sedangkan Bunga dan Novi sibuk membantu agar bisa menata peralatan yang mereka bawa selama perkemahan.
Catur telah siap dengan seragam Pramuka komplit dengan atribut Pramuka, untuk menghindari kecurigaan siswa dan guru, dia mengenakan jaket serta masker yang menutupi sebagian wajahnya. Semua itu di lakukan agar dapat membantu sang pujaan hati tercinta.
__ADS_1
Setelah memastikan penampilan nya tidak di curigai sebagai siswa luaran, dia dan Via serta Dira bergegas mengamati gudang sekolah untuk mencari informasi tentang misteri yang membuat jiwa penasaran nya menggebu.