Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 10 - Ingin kubawa pulang saja dia!


__ADS_3

Paginya di kantor, Jorell datang dengan wajah yang lesu. Ia tidak bisa tidur semalaman karena saking senangnya.


Tapi wajah lesu itu jadi berbinar ketika Mazaya datang dan tersenyum tipis padanya. Meski sangat tipis, ia bisa melihat senyuman itu.


Hah? Aku tidak salah liat kan? Dia tadi tersenyum kan? Iya kan? Aaaa.


Jorell sampai menepuk-nepuk pipinya takut yang tadi hanyalah khayalan belaka.


"Awww!" Jorell merintih sakit.


Joseph dan Stefani yang baru saja datang dibuat keheranan dengan tingkah Jorell yang sangat aneh di pagi hari.


"Kau ini kenapa Rel? Pagi-pagi tepuk-tepuk pipi? Ada nyamuk?" tanya Stefani.


Jorell menggeleng kemudian duduk ke tempat kerjanya.


Ia mengambil ponsel yang ada di sakunya dan mengirimkan pesan ke Mazaya.


Selamat pagi 😊 Aku sampai lupa mengucapkan itu padamu tadi.


Setelah itu Jorell fokus pada pekerjaannya sampai dia tidak tahu kalau ada balasan dari Mazaya.


Hingga waktu makan siang pun tiba, Mazaya sama sekali tidak keluar dari ruangannya. Jorell terus mengamati Mazaya dari luar.


"Ayo, kau mau ikut makan siang bersama kita tidak?" ajak Stefani.


"Eum, sepertinya hari ini tidak dulu. Aku ingin makan di luar saja," tolak Jorell.


"Baiklah, kalau begitu kita duluan."


Jorell pun mengangguk.


Laki-laki itu melihat ke ponselnya. Ada satu pesan dari Mazaya.


Selamat pagi juga ☺️


Aaaaa,


Jorell berteriak di dalam hatinya. Ingin rasanya ia jumpalitan sekarang juga. Mazaya benar-benar tidak bisa ditebak. Jorell mengumpulkan keberanian untuk masuk ke dalam ruangan Mazaya.


"Kau tidak makan siang?" tanya Jorell.


"Kau sendiri? Kenapa masih disini? Tidak makan siang juga?"


Bukannya bertanya Mazaya malah balik tanya.


Membuat Jorell jadi menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Mau makan bersama di luar?" ajak Jorell.


Mazaya menoleh lagi dan mengangguk.


Aaaaa,


Hati Jorell berteriak lagi. Ajakannya bersambut kali ini. Ia tidak perlu banyak omong atau memaksa Mazaya seperti biasanya.


Keduanya kini sudah berada di restoran terdekat dari perusahaan. Mazaya memesan makanan yang pedas dan Jorell pun menyamakan pesanannya dengan Mazaya tanpa memerhatikan apa yang dipesan Mazaya.


Saat makanan yang dipesan sudah datang, Jorell hanya bisa meneguk ludahnya sendiri.


Poor Jorell! Makanya kalau kesenangan jangan kelewatan. Sampai tidak sadar apa yang Mazaya pesan. Bagaimana kau bisa menghabiskan makanan ini? Bahkan warnanya sungguh merah merona?


Jorell mengejek dirinya sendiri di dalam hati.


Mazaya sudah menyendok makanan untuk ke sekian kalinya. Sementara Jorell, ia masih terus menatap makanannya itu.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Mazaya.


"Ah, masih panas, aku tidak terlalu suka dengan makanan yang masih panas," jawab Jorell.


"Oh, aku kira kau tidak suka pedas. Makanya kau terus diam dan melihatnya saja tanpa disentuh," celetuk Jorell.


Benar! memang aku tidak suka pedas dan tidak bisa makan makanan pedas. Mungkin setelah makan ini aku bisa akan sering bolak-balik ke toilet.


Pedas!!!!


Lidah Jorell rasanya kelu. Bahkan keringat sudah mulai bermunculan di dahinya.


"Benar suka pedas? Kalau tidak suka, kau bisa pesan saja menu lain," saran Mazaya.


"Tidak usah."


Jorell berusaha untuk menelan makanan pedas itu ke dalam perutnya.


Selesai makan, mereka berdua pun kembali ke kantor. Di saat Mazaya masuk ke ruangannya, Jorell terbirit-birit pergi ke kamar mandi karena sudah tidak tahan ingin buang air besar.


Demi Mazaya, ia rela melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Makanan pedas yang ia benci karena bisa membuat perutnya kesakitan sampai berhari-hari.


*


*


Jam pulang kerja pun tiba, Mazaya keluar dari ruangannya dan mengajak Jorell untuk pulang bersama. Hal itu membuat Stefani dan Joseph menganga tidak percaya. Bahkan keduanya sampai cubit-cubitan takut salah mendengar.


"Jo, apa Mazaya kerasukan jin ya? Kenapa sekarang dia jadi ramah ke Jorell?" bisik Stefani.

__ADS_1


"Entah, aku tidak tahu," balas bisik Joseph.


"Ah, ayo!" jawab Jorell yang menyetujuinya.


Keduanya pun pulang bersama dengan berjalan kaki. Sesekali Mazaya melihat ke langit, ke kanan dan kirinya. Seolah menikmati waktunya. Tidak seperti biasanya yang menatap lurus ke depan.


Mazaya sadar, apa yang dia lakukan selama ini salah. Menghindar dan membatasi diri dari orang lain malah akan membuat dirinya terlihat jahat dan kejam.


Perkataan Jorell kemarin, membuat hatinya terketuk dan ingin berubah sedikit demi sedikit sifatnya itu. Sesuai dari apa yang dikatakan Jorell, Mazaya akan bersikap baik dimulai kepada Jorell. Karena laki-laki inilah yang tak pernah pergi meski selalu ia cueki.


"Aku harus mempersiapkan diri lebih baik lagi agar tidak terkaget-kaget dengan perubahanmu. Tidak bisakah kau memberi tanda dulu?" ucap Jorell yang sedikit ngawur.


Mazaya menatap lekat-lekat wajah Jorell.


Ya Tuhan! Matanya indah sekali! Aaaaa, lama-lama aku bisa gila! Kembalikan saja Mazaya jadi bongkahan es lagi. Kalau mencair membuatku meleleh-leleh tak karuan.


Jorell jadi kelimpungan sendiri menata hatinya yang jedag-jedug. Sikap Mazaya yang cuek saja mampu menembus hatinya, apalagi sikap Mazaya yang mulai ramah padanya.


Habislah kau Jorell!


Keduanya pun berjalan-jalan lebih dulu di luar sebelum kembali ke kontrakan masing-masing.


"Makasih ya. Ternyata kau benar. Dengan bercerita ke orang lain dan tidak memendamnya sendirian, hati menjadi lega. Setidaknya aku sudah sedikit melepaskan luka itu meski tidak akan pernah bisa melupakannya di dalam hidupku."


"Kenangan baik ataupun buruk semua akan berharga. Dari kenangan baik kita akan terus senang ketika mengingatnya. Dari kenangan buruk, meski sakit, kita bisa ambil pelajarannya dan tidak kita lakukan di masa depan."


"Ternyata kau bijak juga ya. Aku kira kau hanya hanya pria yang banyak bicara tapi kosong isinya," ucap Mazaya hingga membuat Jorell sedikit kesal.


"Kau juga. Kukira kau begitu dingin hingga tak mampu didekati. Rupanya, kau tak sedingin itu dan buktinya kita bisa berjalan berdua seperti ini."


Mazaya tersenyum tipis mendengarnya.


"Kalau senyum itu jangan tipis-tipis. Yang lebar sekalian. Biar keliatan manisnya."


Benar saja, Mazaya tersenyum sangat lebar.


Aaaaa, sial! Aku kan tadi mengucapkan itu tidak berpikir kalau Mazaya akan melakukannya. Tuhan! Ingin kubawa pulang saja dia!


Semenjak hari itu, Jorell dan Mazaya jadi semakin dekat. Berangkat kerja bersama, makan siang bersama, sampai pulang kerja pun bersama. Malah terkadang mereka masih bertemu juga di luar jam kerja.


Kedekatan mereka itu sampai diketahui oleh Stefani dan Joseph. Awalnya kedua orang ini merasa aneh, tapi lama-lama terbiasa juga. Lagipula, dengan berubahnya sikap Mazaya, bisa menguntungkan juga pikir Stefani.


Tapi semua itu tetap tidak berlaku jika urusan pekerjaan. Mazaya tetaplah mazaya yang profesional dengan pekerjaan. Jika jelek katakan jelek, jika bagus makan katakan bagus.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2