
Di kantor hari itu, Jorell sudah 4 kali masuk ke ruangan Mazaya. Hal itu membuat Joseph dan Stefani bertanya-tanya.
"Apa Jorell membuat kesalahan sampai harus sering-sering ke ruangan Mazaya?" tanya Stefani.
"Entah, aku malah merasa sepertinya bukan karena pekerjaan."
Joseph malah memikirkan hal lagi.
"Jangan-jangan keduanya sudah ... "
Joseph tak melanjutkan lagi ucapannya. Stefani mulai mengerti apa yang diucapkan Joseph.
"Wah, kalau memang itu benar. Luar biasa! Aku speechless sekali."
Stefani tak mampu menyembunyikan raut wajah terkejut dan tak percayanya. Seorang yang kaku, cuek dan berkata-kata kejam seperti Mazaya bisa ditaklukan oleh Jorell yang banyak bicara dan sangat baik.
Sementara dua orang yang mereka bicarakan, malah sedang asik membicarakan pekerjaan.
"Direktur bilang, design gambar mu bagus. Apalagi permintaan klien yang mendadak minta dibuatkan animasi pendek pun sangat disukai oleh klien. Jadi, dia ingin kau yang membuatkan animasi company profile kita," jelas Mazaya.
"Aku sih mau mau saja melakukannya. Asalkan setelah itu kita pergi jalan-jalan bersama," jawab Jorell.
"Bedakan antara pekerjaan dan hubungan kita. Ini urusan umum bukan pribadi."
"Ya, aku tahu. Pokoknya ketika aku sudah menyelesaikan animasinya. Kau harus meluangkan waktu untuk jalan-jalan bersama."
"Iya, kalau direktur langsung menyukainya."
"Oke, sepakat," ucap Jorell sambil tersenyum.
Jorell kelaut dari ruangan Mazaya dengan senyum yang masih mengembang. Hal itu tak luput dari penglihatan Stefani dan Joseph.
Joseph langsung menggoda Jorell.
"Cie, cie, yang senyum-senyum dari ruangan pacar," ledek Joseph.
Langkah Jorell langsung dipercepat dan meminta Joseph untuk menutup mulutnya. Ia bahkan tidak menyangkal hubungannya dengan Mazaya yang sudah jadi sepasang kekasih.
"Jangan keras-keras, nanti Mazaya mendengarnya. Kalau dia nanti malu-malu kucing gimana?"
"Cie yang khawatir sama pacarnya."
Kali ini yang meledek adalah Stefani. Jorell sih biasa saja mau diledek bagaimana pun. Hanya saja ia khawatir Mazaya yang tidak nyaman mendengarnya. Wanita itu selalu bersikap profesional layaknya ketua tim jika di kantor kecuali ketika makan siang.
"Kalau ketahuan Mazaya, kalian dimarahi lho!"
Keduanya langsung membungkam mulutnya dan kembali bekerja. Jorell terkekeh pelan melihat kelakuan dua teman kerjanya itu.
Jorell melakukan tugasnya untuk membuat animasi company profile. Ia memulai dengan membaut story board nya terlebih dulu. Lalu memulai mengeksekusinya langsung di aplikasi pembuat animasi. Ia berencana untuk membuat animasi sederhana namun menarik perhatian penonton.
__ADS_1
Hari demi hari Jorell curahkan untuk membuat animasi itu. Ia bahkan berusaha sangat keras dengan harapan bisa jalan-jalan bersama Mazaya. Padahal sebenarnya, meski tanpa hal itu pun, Mazaya mau jalan-jalan bersama.
Hingga di hari ke 14, animasi yang dibuat Jorell pun telah selesai dikerjakan. Ia memperlihatkannya ke direktur yang adalah kakaknya sendiri. Direktur setuju dan tersenyum senang karena kinerja Jorell yang sangat bagus.
Jorell pun masuk ke ruangannya dengan perasaan bahagianya. Ia langsung berteriak akan mentraktir teman kerjanya nanti malam untuk makan dan minum bersama.
"Hore!!!" sorak Joseph dan Stefani bersamaan. Rasa bahagia pun muncul di wajah Joseph dan Stefani. Kapan lagi kan bisa minum-minum secara gratis.
*
*
Malam pun tiba, mereka bertiga sudah tiba di restoran yang sudah ditentukan oleh Jorell. Jorell memesan banyak sekali makanan dan minuman hingga membuat Stefani dan Joseph ternganga.
Gila! Mahal semua! teriak Stefani di dalam hatinya.
"Silakan dinikmati. Kalau kurang, nanti bisa pesan lagi," ucap Jorell.
"Ah, tidak-tidak ini sudah banyak sekali. Lagipula kita tidak enak nantinya kau harus mengeluarkan banyak uang," ujar Stefani.
"Tenang saja, aku dapat kupon gratis makan sampai 1 juta disini."
"Hah?"
Hal itu membuat Stefani dan Joseph ternganga lagi.
"Bagaimana bisa? Kau dapat darimana? Aku juga mau!" sahut Joseph.
Mereka pun menikmati makanan dan minuman yang ada hingga perut mereka pun membuncit.
"Sering-sering ya Rel, haha" ucap Joseph diakhiri dengan tawanya.
Jorell hanya tersenyum menanggapinya.
"Ngomong-ngomong kenapa Mazaya tidak diajak?" tanya Stefani.
"Kalian tahu sendiri bagaimana dia. Jadi aku melakukannya secara terpisah. Setelah ini aku akan pergi bersama Mazaya."
"Haduh! Yang mau berkencan matanya mulai berbinar!" goda Joseph.
"Sudah kiss kiss belum?" tanya Joseph.
Jorell hanya tersipu malu. Karena memang sampai saat ini ia belum pernah melakukan ciuman bersama Mazaya. Keduanya hanya sering jalan bersama dan saling bergandengan tangan.
Melihat raut wajah Jorell yang tersipu, Joseph malah mengira Jorell sudah melupakan ciuman.
"Cie, cie."
Setelah puas menggoda Jorell, Joseph dan Stefani pulang duluan. Sementara Jorell, ia membayar semua pesanan tadi dengan uangnya. Ia hanya berbohong di hadapan teman kerjanya kalau ia memenangkan kupon berhadiah. Supaya mereka tidak curiga sama sekali.
__ADS_1
Lalu, Jorell pergi dari restoran ke sebuah taman di dekat kontrakan mereka. Disana lah ia dan Mazaya janjian untuk bertemu.
"Bagaimana makan malamnya?" tanya Mazaya.
"Seru, tapi tidak spesial karena kau tidak ada," jawab Jorell.
"Mulai deh mulai."
Hanya dibalas dengan tawa kecil oleh Jorell.
Tiba-tiba Jorell menggenggam tangan Mazaya.
"Cuaca mulai dingin. Jadi aku mau menghangatkannya," ucap Jorell sambil menatap wajah Mazaya.
"Kenapa pakai jaket yang tipis? Kau bisa masuk angin nanti," tambah Jorell lagi lalu memasangkan jaket yang ia kenakan ke Mazaya.
Perlakuan Jorell manis sekali. Membuat jantung Mazaya berdebar-debar.
"Ayo duduk disana!" ajak Jorell.
Mazaya pun menurut saja.
Keduanya menikmati waktu bersama sambil terus saling menatap satu sama lain. Seolah-olah tatapan itu saling berbicara.
Mazaya jadi tersipu dan memalingkan wajahnya.
Jorell terkekeh lagi. Entah kenapa apapun yang dilakukan Mazaya terlihat sangat lucu baginya.
Angin yang berhembus. Suara-suara jangkrik yang menandai irama disana dan juga hati yang berdebar-debar menambah kesyahduan di malam itu. Entah terbawa suasana atau memang dasarnya saling menginginkan.
Wajah keduanya sudah saling berhadapan dan sangat dekat. Dekat sekali, bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan.
Pertahanan itu runtuh, sebuah ciuman pun terjadi. Ciuman yang lembut, penuh cinta dan saling mendamba. Ciuman itu berlangsung lama.
Ketika keduanya saling kehabisan napas, ciuman itu pun terhenti dengan beradunya kening keduanya. Mereka sama-sama merasa canggung dengan hati yang berdisko tidak beraturan.
Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan? Aku, aku sudah berciuman dengan Jorell? Aaaaa, ta-tapi bibirnya lembut sekali!
Mata Mazaya malah jadi terus terfokus pada bibir Jorell.
Aaaaa, akhirnya aku bisa menciumnya juga, hehe. Bibirnya enak sekali. Aku jadi ingin menciumnya sekali lagi. Tak apa kan? Hehe.
Hanya dalam hati mereka bisa saling memuji.
Hubungan yang diharapkan akan terus membaik dan tidak ada masalah sedikit pun. Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang selalu mengamati aktivitas keduanya.
*
*
__ADS_1
TBC