Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 9 - Jadikan aku sebagai sandaranmu


__ADS_3

Esok harinya, ketika di depan gedung, Mazaya dan Jorell saling berpapasan. Seperti biasa Mazaya akan bersikap cuek tanpa menyapa. Membuat Jorell jadi menarik napasnya.


Hari berlalu begitu saja, hingga waktu pulang kerja pun tiba. Jorell sengaja menunggu Mazaya di depan gedung untuk bicara dengan Mazaya.


Ketika melihat wanita itu muncul, Jorell memperlihatkan senyum manisnya dan hendak menyapa. Namun, Mazaya melengos begitu saja.


"Mazaya, tunggu!" ucap Jorell sedikit berteriak.


Ketika sudah berjalan beriringan, tanpa persetujuan dari Mazaya, Jorell menarik tangan wanita itu dan membawanya ke suatu tempat. Mazaya pasrah saja kali ini.


Setibanya di sebuah danau kecil dengan banyak pohon-pohon besar disana. Jorell memulai obrolan dengan permintaan maafnya.


"Maaf, kemarin aku menguping pembicaraanmu. Tapi, sungguh! Awalnya aku tidak tahu kalau itu kau! Dan saat tahu itu kau aku jadi tidak ingin beranjak dari sana!" ucap Jorell jujur.


Mazaya belum mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Ia malah menatap lurus ke depan dengan melempar kerikil ke dalam danau.


"Kau terlalu ikut campur urusan orang lain. Anggap saja, kemarin kau tidak melihat dan mendengar apapun. Aku akan memaafkannya jika kau bisa melakukan permintaanku."


Mazaya mengeluarkan suaranya.


Jorell mendengus sebal, ia jadi ikut-ikutan melempar kerikil ke dalam danau.


"Daripada aku harus berpura-pura tidak melihat dan mendengar kejadian semalam. Lebih baik kau ceritakan saja semuanya padaku. Aku akan jadi pendengar yang baik untukmu. Masalah jika dipendam terlalu lama akan jadi penyakit. Dengan bercerita, setidaknya bisa sedikit membuat hatimu lega. Apa tidak bisa?" ucap Jorell menawarkan diri untuk mendengarkan segala keluh kesah Mazaya.


Mazaya terdiam begitu lama. Selama itu juga Jorell terus memandangi wajah Mazaya. Wanita yang tingginya hanya sepundaknya ini terlihat tegar di luar namun rapuh di dalam.


Terdengar helaan napas kasar dari Mazaya. Mungkin saja wanita itu sedang berpikir keras antara cerita atau tidak ke pria yang ada di sampingnya. Pria yang selalu mendekati dirinya meskipun ia selalu mencuekinya.

__ADS_1


"Wanita semalam adalah ibu kandungku," ucap Mazaya memulai cerita. Awalnya Jorell sedikit terkejut, namun ia tetap mendengarkan tanpa ingin memotong cerita Mazaya.


"Dia adalah seorang ibu yang kejam setelah kematian ayahku. Sejak itu, ketika aku menangis atau menginginkan sesuatu, aku selalu dipukul hingga terdapat memar di tubuhku. Puncaknya, ketika ibu memiliki kekasih. Kekasihnya tidak menginginkan aku dan adikku untuk hidup bersama dengan mereka. Ibu pun menyetujuinya. Aku menangis dan memohon untuk membawa kami berdua bersama ibu. Namun, ibu malah membenturkan kepalaku ke dinding kamar mandi sampai berdarah. Kemudian dia pergi dari hidup kami berdua dengan meninggalkan luka yang mendalam dan hutang yang begitu banyak. Aku yang saat itu baru lulus SMA dan adikku yang masih berusia 8 tahun. Aku harus berusaha sekeras mungkin untuk menghidupi kebutuhan kami berdua. Aku juga kadang kewalahan untuk mencari-cari alasan keberadaan ibu jika adikku bertanya. Lambat laun, adikku tak pernah lagi menanyakan tentang ibunya. Proses demi proses kami lewati berdua dengan banyaknya cobaan. Hingga aku sudah sampai di titik ini, tiba-tiba ibu muncul lagi dan meminta uang padaku. Apa dia layak dikatakan sebagai seorang ibu? Ibu mana yang menelantarkan anaknya demi laki-laki lain? Ibu mana yang datang hanya untuk meminta uang tanpa bertanya kabar sedikit pun tentang anaknya? Ibu mana yang datang memberikan luka baru untuk anaknya setelah bertahun-tahun mencoba melupakan masa pahit itu? Luka lama saja belum mengering malah ditambah luka baru. Menyedihkan sekali!"


Mazaya bercerita dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bahkan air mata pun tidak menetes. Padahal apa yang diceritakan Mazaya sangat-sangat menyakitkan menurut Jorell.


Apa hatimu sudah mati? Bagaimana bisa kau menceritakan masa lalu mu dengan ekspresi seperti itu? Sesakit itukah?


"Pasti setelah mendengar cerita aku tadi, kau bisa paham kenapa aku jadi begini. Orang yang seharusnya melindungi ku dan aku percayai. Justru jadi orang yang menyakiti aku begitu dalam. Lalu siapa yang harus aku percayai jika sudah begitu? Tidak ada kan? Makanya aku membatasi diri dalam pergaulan juga berinteraksi dengan orang. Karena memang tak ada yang bisa aku jadikan sandaran. Hanya diriku sendiri sandaran yang bisa aku andalkan," tambah Mazaya lagi.


Jorell masih diam, ia menunggu Mazaya menyelesaikan ceritanya. Setelah tak ada kalimat yang keluar dari mulut Mazaya. Jorell mulai menanggapi cerita Mazaya.


"Aku tidak akan mengatakan apapun tentang ceritamu tadi. Aku cukup tahu dan mengerti bahwa keadaan lah yang membentuk karaktermu," ucap Jorell lalu menghela napas, "Bagaimana rasanya setelah mengeluarkan isi kepalamu itu? Lega kan?"


Mazaya hanya menoleh dan tak memberikan jawaban.


"Aku paham kenapa kau susah mempercayai orang lain. Tapi, mau sampai kapan kau akan terus sendiri tanpa bantuan orang lain? Mau sampai mati? Bahkan ketika mati saja nantinya. Tidak mungkin kita bisa masuk dengan sendirinya ke dalam liang lahat itu. Pelan-pelan saja, tidak usah mempercayai orang sepenuhnya. Di mulai dari aku, percayalah kalau aku tidak akan menyakitimu."


"Jadikan aku sebagai sandaran mu untuk sekarang. Sandaran untukmu berbagi suka maupun duka," ujar Jorell lagi.


Mazaya malah berdiri tanpa menjawab ucapan Jorell itu. Ia berjalan pelan-pelan lalu menoleh dan menatap ke Jorell yang kebingungan dengan tingkahnya.


Sebuah senyuman manis Mazaya perlihatkan pada Jorell. Lalu setelahnya wanita itu pergi.


Jorell hanya bisa terbengong-bengong.


"Apa maksud senyuman tadi? Apa dia mau mulai mempercayai aku? Dia mau menjadikan aku sebagai sandarannya? Ah! Mazaya! Kenapa kau misterius sekali sih! Tinggal bilang iya atau katakan sesuatu kek! Supaya aku tidak memikirkan yang aneh-aneh!"

__ADS_1


"Tapi senyumnya manis sekali. Bahkan itu pertama kalinya Mazaya senyum manis padaku. Aaaa! Mazaya kau membuat aku gila!"


Yang tadinya terbengong-bengong jadi tergila-gila oleh Mazaya. Wanita itu pintar sekali memporak-porandakan hati Jorell.


*


*


Sesampainya di kontrakan, Jorell meraih ponselnya bermaksud untuk mengirim pesan ke Mazaya.


Mazaya kau sudah sampai rumah kan? Tega sekali meninggalkan aku sendirian 🙃


Tak lama Jorell pun mendapatkan balasan dari Mazaya.


Iya. Tega? Tega itu kalau kau tidak tahu jalan pulang lalu aku tinggalkan.


"Aih, wanita ini benar-benar ya, menguras emosi sekali. Untung cinta."


Dasar wanita tidak punya hati! Aku menangis nih di pojokan 😭


Balasan pun kembali Jorell dapatkan.


😂


Satu emot tertawa dari Mazaya, membuat senyum Jorell mengembang. Pria itu malah membayangkan bagaimana wajah Mazaya yang tertawa seperti emot yang wanita itu kirim pasti cantik sekali.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2