Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 7 - Es nya masih membeku


__ADS_3

Kedatangan Mazaya di kantor terlihat oleh Jorell. Laki-laki itu pun langsung menghampiri Mazaya dan menodong Mazaya dengan banyak pertanyaan.


"Kenapa mau izin tidak bilang padaku? Padahal kontrakan kita dekat. Lalu kau izin ada urusan apa? Sepertinya penting sekali. Sampai-sampai panggilan dariku saja kau abaikan. Bahkan pesanku pun tidak ada satu pun yang kau balas."


"Tidak ada alasanku untuk menjawab pertanyaan itu," jawab Mazaya lalu berjalan masuk ke ruangannya.


"Aih, kukira hatinya sudah mencair. Ternyata bongkahan es nya masih membeku. Huh!"


Jorell menghela napasnya. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya sambil terus mengintip ke ruangan Mazaya. Ia benar-benar selalu dibuat penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu. Sikapnya yang cuek, dingin dan tak tersentuh itu membuatnya semakin tertarik dan terus ingin mendekat.


Waktu pun berlalu. Jorell sudah menunggu Mazaya di depan gedung. Ketika wanita itu keluar, Jorell mengajaknya bicara.


"Tidak bisakah kita saling membantu satu sama lain? Tidak bisakah kau mempercayai aku dan mengganggap aku ini ada?"


Mendengar hal itu, membuat Mazaya jadi menoleh dan menatap Jorell.


"Memangnya siapa yang mengganggap kau tidak ada?"


"Kau," jawab Jorell.


"Dengan alasan apa kau langsung menyimpulkan itu semua?"


"Kau selalu menghindari aku jika bukan tentang pekerjaan. Kau bahkan selalu cuek seolah-olah kita tidak saling mengenal," jawab Jorell.


Mazaya menarik napas perlahan.


"Bersikap cuek bukan berarti tidak menganggap kehadiran seseorang. Tapi itu adalah caraku agar tidak terlalu sering berinteraksi berlebihan dengan orang. Karena bagiku, hal yang seperti itu tidak penting dan buang-buang waktu. Apa sampai sini kau sudah paham?"


Jorell sebenarnya tahu. Ia hanya ingin Mazaya juga tahu, bahwa dirinya ada dan selalu ada untuk Mazaya. Tidak bisakah ia percaya sedikit saja padanya? Setidaknya jika ada hal mendesak lagi ke depannya, ia bisa diberitahu dan tidak dibuat penasaran terus-menerus.


"Kukira harusnya kau sudah paham," ucap Mazaya lalu berjalan pergi dari Jorell.


"Kenapa susah sekali ingin dekat denganmu? Aku harus apa lagi?"


Jorell pun akhirnya pergi dari sana dengan melalui jalan yang berbeda. Tentunya, ia akan pulang ke rumahnya untuk makan malam bersama mama dan kakaknya.


*


*

__ADS_1


Sesampainya di rumah dengan menaiki taksi. Jorell membayar taksinya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Laki-laki itu berjalan masuk ke rumahnya yang gerbangnya sudah dibuka oleh satpam penjaga karena melihat Tuan Muda mereka datang.


"Selamat datang Tuan Muda. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melihat anda. Pasti nyonya sangat senang melihat kedatangan anda."


Jorell tertawa kecil. Lalu membalas sapaan satpamnya.


"Lama gimana? Waktu aku pulang dari London kan kita bertemu. Bahkan jangka waktunya hanya beberapa bulan yang lalu, belum ada setahun. Jadi belum lama."


"Haha, iya Tuan Muda benar."


"Kalau begitu aku masuk ya pak. Terima kasih sudah membukakan pintunya."


Si satpam pun mengangguk sambil melihat tuan mudanya berjalan menuju pintu masuk rumah.


Dengan langkah biasa, Jorell masuk ke dalam rumahnya dengan membuka pintu rumahnya. Ia berjalan melewati ruang tamu lalu pergi ke ruang makan di dekat dapur.


Disana, tidak ada siapa-siapa. Wajar juga tidak ada siapa-siapa, memang waktu makan malam belum tiba saatnya. Jorell pergi kesana untuk mengambil air mineral dingin dalam kulkas. Rasanya ia harus sekali. Tak lupa ia juga membawa sedikit cemilan yang ada di atas kulkas.


Setelah itu, Jorel pergi ke ruang keluarga. Ia langsung menyalakan televisi dan menonton serial drama yang ada. Walaupun agak kurang suka, Jorell tetap menontonnya karena tidak ada lagi tayangan yang lain. Ia tidak suka nonton berita, tidak suka nonton acara olahraga. Yang ia suka adalah nonton kartun, anime dan sejenisnya.


Jorell mencoba menonton drama itu hingga akhir. Sampai waktu makan malam pun tiba. Terdengar suara mamanya menanyakan dirinya pada pelayan.


"Bi Sum, apa kau sudah melihat Jorell datang?"


"Oke."


Margareth pun langsung menuju ke ruang keluarga. Benar saja, Jorell ada disana dengan posisi duduk bersandar di ujung dinding dengan beberapa cemilan yang ada di depannya.


"Kenapa sudah pulang tidak bilang?" tegur Margareth.


Jorell menoleh ke sumber suara dan melihat mamanya yang ada di depan pintu.


"Maaf, aku kira mama akan tahu dengan sendirinya. Tapi aku hanya ingin mengingatkan mama satu hal. Aku bukan datang untuk pulang ma. Aku datang untuk memenuhi ucapanku kemarin. Karena kemarin aku tidak bisa datang untuk makan malam bersama. Jadi, untuk malam ini aku putuskan untuk datang. Tapi setelah itu, aku juga akan pulang ke kontrakan."


Terdengar helaan napas kasar dari Margareth.


"Baiklah, ayo kita makan bersama. Pasti kakakmu juga sudah ada di meja makan sekarang."


Suasana makan malam kala itu sangatlah sepi. Tidak ada obrolan apapun di dalamnya. Karena itulah aturannya. Hanya terdengar suara sendok, pisau dan garpu yang sedikit beradu.

__ADS_1


Selesai makan malam, barulah diperbolehkan untuk bersuara.


"Sampai kapan kau akan terus ada di tim itu? Mama sudah memberikan waktu untukmu. Tapi, mama juga tidak bisa jika terus mengikuti semua permintaanmu. Perusahaan butuh seorang pemimpin."


Jorell paham dan mengerti. Tapi, ia tetap saja pada egonya yang tidak ingin menjadi CEO dalam waktu dekat ini.


"Sampai aku bosan," jawab Jorell.


Jefrey pun jadi ikut-ikutan bicara.


"Sudahlah ma, kalau Jorell tidak mau jangan dipaksakan. Lagipula aku masih mampu menghandle semuanya. Biarkan dia menikmati waktu dan kerjanya di tim itu. Lagipula dengan adanya dia disana membuat semua pekerjaan yang berurusan dengan design grafis jadi cepat selesai dan klien pun suka dengan hasilnya. Dan karena itu juga, perusahaan kita jadi banyak mendapatkan klien baik dari dalam maupun luar."


Ya, kakaknya memang paling pengertian. Selalu tahu apa yang Jorell inginkan. Ia bersyukur memiliki kakak seperti Jefrey.


"Huh! Baiklah. Mama tidak akan memaksa lagi. Sebenarnya mama mengajakmu untuk makan malam kemarin karena ingin menyampaikan satu hal pada kalian. Mama ingin menjodohkan salah satu dari kalian dengan anak rekan bisnis mama."


Jorell terkejut. Walaupun ia sudah pernah berpikir bahwa hidupnya pasti akan terus diatur-atur oleh mamanya. Tapi ia tidak sampai berpikir jika kisah cintanya pun akan demikian.


Yang lebih mengagetkannya lagi adalah kakaknya justru malah menawarkan diri untuk dijodohkan dengan rekan mama itu.


"Biar aku saja yang dijodohkan dengan rekan mama itu. Aku kan anak pertama, jadi lebih baik anak pertama menikah lebih dulu."


"Baiklah kalau begitu. Mama akan segera memberitahu ke rekan mama," ucapnya lalu pergi meninggalkan meja makan.


Sementara dua bersaudara itu masih duduk disana. Jorell menatap lekat-lekat ke wajah kakaknya.


"Benar kau tidak masalah dijodohkan kak?" tanya Jorell memastikan.


"Tidak, lagipula aku sudah tahu. Pasti mama akan menjodohkan kita berdua dengan orang pilihan mama. Lagipula aku masih sendiri dan tidak sedang menyukai siapa pun. Jadi tidak ada salahnya menerima perjodohan itu," jawabnya.


"Huh!" Jorell menarik napasnya perlahan.


"Mungkin kalau aku, aku akan menolak perjodohan, jika mama melakukannya lagi."


"Aku tahu, maka dari itu, carilah pasangan yang sekiranya mama akan suka dengan orangnya, begitu pula dengan latar belakang keluarganya," saran Jefrey.


Jorell tersenyum kecut. Ia sudah menemukan orang yang mampu menarik perhatiannya. Namun, orang itu tidak dalam kondisi status sosial yang sama dengannya. Apa jadinya jika ia terus melawan arus? Apa akan ada perdebatan?


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2