
Malam harinya, Jorell dan Mazaya sudah berada di sebuah restoran dengan desain outdoor dilengkapi dengan gemerlapnya lampu berwarna kuning disana. Keduanya duduk saling berhadapan.
Mazaya menekuk wajahnya karena ia memikirkan harga makanan yang pastinya mahal disana. Apalagi tempatnya bagus.
"Kenapa kau terlihat tidak senang bertemu denganku?" tanya Jorell yang mengetahui raut wajah Mazaya yang terlihat menekuk.
"Tidak," jawab Mazaya.
"Tadi aku sudah memesan berbagai menu makanan untukmu. Aku yakin kau akan suka."
"Ya."
Tak lama kemudian, pelayan pun mengantarkan makanan pesanan dari Jorell. Ia begitu terkejut ketika Jorell memesan banyak makanan.
Ini mah bukan beberapa tapi banyak sekali. Harus bayar pakai apa aku nantinya?
Mazaya meneguk ludahnya sendiri.
Apa bisa pakai jasa cuci piring? pikirnya lagi.
"Mari makan," ucap Jorell dengan senyum manisnya.
Mazaya pun makan dengan tidak berselera. Jorell bisa melihat itu dan ia pun langsung menanyakannya.
"Makanlah dengan tenang. Kulihat dari tadi wajahmu kelihatan gelisah."
Bagaimana bisa aku makan dengan tenang? Aku memikirkan total uang yang harus aku keluarkan setelah memakan semuanya? Kalau saja bukan aku yang harus bayar, aku pasti makan tanpa peduli siapa orang yang ada di hadapanku. Tapi ini?
"Siapa bilang?" ucap Mazaya yang tidak mau mengaku.
Jorell tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tenang saja, kali ini aku mentraktir mu. Kau tidak usah cemas masalah biaya untuk semua makanan ini."
Lega.
Itulah yang dirasakan Mazaya. Ia pun kemudian langsung makan dengan lahap. Hal itu membuat Jorell tersenyum lagi.
Kau lucu sekali kalau terlihat gelisah, hihi. Tapi terlihat lebih lucu kalau kau makan dengan lahap.
Setelah melakukan makan malam bersama, keduanya pergi ke tepi pantai untuk menikmati udara pantai di malam hari.
Berjalan beriringan tanpa adanya tangan yang saling bertautan. Sama-sama terdiam hanya terdengar suara gulungan ombak di lautan.
Jorell berhenti berjalan. Karena itu pula Mazaya pun jadi ikut berhenti.
Jorell menatap wajah Mazaya begitu intens hingga membuat Mazaya gugup dibuatnya. Namun, wanita itu berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Mazaya," panggil Jorell dengan lembut.
"Hm?" jawabnya.
Jantung Mazaya seketika seperti berhenti berdetak. Lalu seperti akan meledak seketika. Harusnya ia bahagia kan bisa mendengarkan ungkapan cinta lagi dari Jorell? Tapi, rasa bahagianya kini terkalahkan oleh rasa takutnya.
"Kita sudah putus."
Itulah tanggapan dari ungkapan cinta dari Jorell.
"Aku tahu," jawab Jorell.
"Tapi memangnya kenapa kalau sudah putus aku mengatakan aku mencintaimu? Boleh-boleh saja kan?"
Mazaya terdiam sesaat. Memang benar soal perasaan tidak bisa dipaksakan. Kalau ia punya keberanian, ia juga pasti akan mengungkapkan rasa cintanya pada Jorell. Tapi, lagi-lagi kewarasannya kembali. Kalau ia dan Jorell tidak bisa bersama. Karena ada penghalang yang sangat tinggi untuk keduanya bersatu.
__ADS_1
"Kalau aku masih chat atau menelpon mu. Jangan diabaikan. Jangan ganti nomor lagi."
"Iya," jawab Mazaya dengan ketusnya.
Jorell tersenyum senang karenanya. Mereka pun duduk di tepian pantai dengan alas kaki sebagai tempat duduknya.
Melihat bintang-bintang di langit yang gemerlap dengan ditemani oleh bulan yang belum bulat sempurna.
Setelah lama menikmati suasana pantai, keduanya pun pulang ke rumah masing-masing.
*
*
Baru saja menjatuhkan tubuhnya di ranjang, Jorell langsung menerima telepon dari kakaknya.
"Rel, kapan kau pulang? Sepertinya mama mulai curiga. Aku harap kau segera pulang. Atau mama bisa berbuat lebih kejam dari sebelumnya."
"Iya kak, besok aku akan pulang. Tenang saja."
"Huh! Syukurlah, aku sudah hampir jantungan tadi."
"Tenang saja. Makasih ya kak. Karena kakak sudah bantu aku."
"Iya sama-sama. Cepatlah tidur. Dan jangan lupa untuk pulang."
"Iya."
Sambungan telepon pun terhenti. Jorell bangun dari posisinya dan mengganti pakaiannya serta membasuh tangan, kaki juga wajahnya lalu setelahnya ia langsung tidur.
*
__ADS_1
*
TBC