Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 21 - Sama-sama menyebalkan


__ADS_3

Pertemuan kedua pun tiba. Jorell mengajak Mazaya untuk pergi ke bukit yang dimana, disana mereka bisa melihat seluruh isi kota dari atas ketinggian.


Mazaya sesekali membuang napasnya karena cape berjalan naik terus. Bahkan lututnya terasa pegal dan ingin terus beristirahat.


"Sudah kuduga. Kau pasti setelah pulang kerja tidak pernah kemana-mana lagi. Terlihat sekali, baru juga segini udah ngos-ngosan."


"Ah, diam. Kau pun sama saja. Sama-sama ngos-ngosan," ucap Mazaya yang mengejek Jorell juga.


Setelah tenaganya terisi kembali, Mazaya mulai berjalan lagi dengan mengambil kayu kecil sebagai alat bantu berjalannya. Diikuti Jorell di belakang wanita itu.


Semua lelah, penat dan sakit di kakinya, terbayarkan dengan sempurna ketika sudah sampai di atas tebing. Cahaya lampu perkotaan yang gemerlap itu menjelma seperti bintang-bintang yang ada di langit.


Sangat indah.


Itulah penggambarannya. Bahkan rasa pegalnya seakan menghilang seketika.


"Wahhhh."


Mazaya membuka mulutnya takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Padahal ia yang sudah lama tinggal di daerah sini tapi kenapa tidak pernah menemukan tempat ini sebelumnya?


Jelas tidak, orang keluar saja jarang! Habis dari kantor, pulang ke rumah. Terus besoknya ngantor lagi, lalu di rumah lagi. Rutinitas Mazaya benar-benar hanya di kantor dan di rumah saja setiap harinya.


Jorell tersenyum senang melihat Mazaya yang sepertinya menyukai tempat yang mereka kunjungi.


"Makanya jangan di rumah terus. Sesekali keluarlah dan cari udara segar. Duniamu jangan hanya rumah dan kantor saja. Kau butuh hiburan yang lain. Seperti ini misalnya atau kembali lagi berpacaran denganku."


Mazaya tersenyum kecut mendengarnya.


Kembali lagi bersama Jorell? Sepertinya itu tidak akan mungkin. Bisa-bisa ia akan dimutasi kerja ke tempat yang lebih jauh lagi. Atau bahkan jangan-jangan ia benar-benar akan dipecat. Untuk memikirkannya saja Mazaya tidak mau. Ia masih harus membiayai sekolah adiknya hingga lulus dari perguruan tinggi.


Setelah keduanya puas melihat lampu-lampu perkotaan, mereka duduk di kursi kayu yang tersedia disana.


"Udaranya dingin ya? Apa kita turun sekarang saja?" tawar Jorell.


"Sebentar lagi. Aku masih ingin disini," ucap Mazaya.


"Baiklah."


Keduanya saling terdiam dengan suasana malam yang penuh dengan suara-suara hewan malam juga angin yang bertiup agak kencang.


Setelah puas menikmati pemandangan nya, keduanya pun turun dari sana.


Menuruni bukitnya juga penuh dengan perjuangan, apalagi ada beberapa bagian jalan yang licin, karena tadi sore sempat hujan.


"Eh, eh, awww."


Mazaya terjatuh dan berteriak kesakitan. Meski tak ada luka yang sampai berdarah, tapi badan Mazaya terasa sakit semua karena ia terjatuh sampai terduduk dengan sempurna. Bahkan pakaian yang dikenakannya pun sampai kotor.

__ADS_1


Jorell langsung sigap dengan meminta Mazaya untuk naik ke punggungnya. Ia akan menggendong Mazaya hingga sampai ke rumahnya.


"Ayo naik! Kalau aku memapah mu. Kemungkinan tengah malam atau bahkan dini hari baru sampai."


Mazaya mendengus sebal. Tapi memang kalau dipikir-pikir benar juga. Ia tidak mungkin juga berjalan ke rumah dengan dipapah terus. Jaraknya masih agak jauh. Alhasil Mazaya pun naik punggung Jorell.


Hap.


Mazaya sudah digendong oleh Jorell. Jorell tersenyum dengan senangnya. Kapan lagi ia bisa menikmati waktu sedekat ini dengan Mazaya setelah mereka putus. Rasanya Jorell ingin mengulang kembali kisahnya yang telah usai itu. Tapi, ia harus bisa menahan diri dulu. Karena kemungkinan besar jika sampai itu terjadi, Mazaya lah yang akan jadi korbannya.


"Aku tidak tahu, ternyata kau seberat ini ya! Selama disini kau makan apa sih!?"


Mazaya tidak terima dikatakan berat oleh Jorell. Ia pun memukul punggung Jorell dengan sedikit keras.


"Awww! Sakit tahu. Sudah kejam sikap, jangan kejam perilaku juga dong. Nanti dua-duanya sama-sama sakit. Memangnya kau mau bertanggungjawab?"


Mazaya langsung berhenti memukul Jorell.


"Lagian, kau menyebalkan sih!"


"Kau lebih-lebih menyebalkan Mazaya. Apa kau tidak sadar itu?"


"Cih! Intinya sama-sama menyebalkan. Supaya adil!"


Jorell tertawa kecil mendengar ucapan Mazaya tersebut. Ia merasa jadi lebih dekat ketika berbicara dengan Mazaya yang digendongnya. Bahkan deruan napas wanita itu saja, Jorell bisa merasakannya.


"Turunkan aku saja disitu. Kau tidak perlu mengantarkan aku sampai rumah. Aku akan jalan sendiri."


"Memangnya bisa?"


"Bisa lah!" jawab Mazaya dengan percaya dirinya. Namun, ketika akan menggerakkan kakinya, Mazaya malah terjatuh lagi.


"Makanya jangan kebanyakan tingkah. Sudah tahu habis jatuh, pasti kakimu terkilir juga tadi. Aku bantu papah saja sampai rumahmu."


Mau menolak pun Mazaya tidak bisa, memang kenyataannya kakinya sangat-sangat sakit.


Jorell mulai memapah Mazaya dengan berjalan pelan. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah Mazaya.


"Masuklah ke dalam, atau kau masih butuh bantuanku? Dengan senang hati aku akan memapah mu lagi."


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri dengan berpegangan pada tembok."


"Ah, baiklah. Besok kau tidak perlu berangkat kerja. Minta izin sakit saja. Kurasa kakimu itu perlu diurut."


"Hm," jawab Mazaya.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai ketemu di saat kakimu sudah baikan. Kau harus melunasi hutang jalan-jalanmu yang tersisa."

__ADS_1


Saat Jorell akan melangkah pergi, Mazaya menahannya.


"Tunggu dulu!"


"Ada apa? Kau tak ingin aku pergi? Kau masih merindukan kebersamaan kita?"


"Percaya diri sekali!"


Jorell tersenyum mendengarnya.


"Ini aku kembalikan hadiah keduamu."


Mazaya memberikan sebuah gelang emas pada Jorell.


Jorell menerimanya lalu pergi dari hadapan Mazaya.


Mazaya masuk ke dalam rumahnya sambil berpegangan pada tembok. Mario yang melihatnya langsung saja membantu sang kakak yang terlihat susah berjalan.


"Kakak kenapa? Kok bisa pakaian kakak sampai kotor begitu? Kenapa kaki kakak juga pincang begitu?" tanya Mario bertubi-tubi.


"Jatuh," jawab Mazaya.


"Astaga! Makanya hati-hati kalau jalan kak. Sudah tahu tadi habis hujan. Pasti jalanan sangat licin."


"Iya, kakak memang kurang hati-hati tadi."


"Terus kakak pulang sendiri? Tapi kayanya enggak mungkin deh, soalnya tadi aku dengar suara pria di depan. Siapa dia kak?"


"Teman," jawab Mazaya.


"Oh, apa itu Kak Liam?" tanya Mario lagi.


"Bukan," jawab Mazaya.


"Lalu siapa?" tanya Mario yang benar-benar penasaran.


"Ah, besok saja tanyanya. Kakak mau ganti pakaian dulu."


"Ya sudah, ayo aku bantu ke kamar."


Mazaya mengangguk. Ia pun dibantu ke kamar oleh Mario. Setelahnya Mazaya mengganti bajunya dengan pakaian tidur yang bercelana panjang dan baju pendek. Kemudian, ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Mulai mengingat-ingat kejadian tadi bersama Jorell. Walau tidak pergi ke tempat mahal, bahkan bisa dibilang tempat yang mereka datangi tadi adalah gratis hanya butuh tenaga dan usaha saja untuk sampai disana. Tapi, rasanya sangat membahagia sekali. Bohong jika dia katakan tidak senang. Ia bahkan berdebar-debar ketika tadi Jorell menggendong dan memapahnya.


"Aaaaa, bisa gila aku!"


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2