Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 23 - Cemburu


__ADS_3

Kini dua laki-laki itu sudah berada di dalam rumahnya. Duduk saling berhadapan. Sementara Mazaya duduk di kursi yang berbeda juga. Suasana di dalam rumah itu seolah berada di dalam ketegangan. Bagaimana tidak? Kedua laki-laki itu saling menatap dengan sangat tajam. Membuat Mazaya terus-menerus menghela napasnya.


"Kalau kalian terus saling menatap tajam begitu. Lebih baik pulang saja!"


"Eh, jangan dong!" ucap keduanya bersamaan.


Keduanya pun jadi bersikap biasa saja. Itu supaya tidak diusir pergi lagi oleh Mazaya.


Jorell memberikan buah tangan juga untuk Mazaya. Mazaya menerimanya.


"Bagaimana kakimu sudah lebih baik?" tanya Jorell yang penuh kekhawatiran.


"Cih! Sok perhatian," cibir Liam yang sebenarnya merasa jadi obat nyamuk disana.


Mazaya menatap tajam ke arah Liam lalu Liam memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Lumayan, memarnya juga sudah tidak terlalu kebiruan seperti semalam."


"Syukurlah kalau begitu. Kalau besok masih sakit, minta izin lagi saja."


"Tidak, besok aku akan berangkat kerja," jawab Mazaya.


"Jangan sok kuat," sahut Liam lagi.

__ADS_1


Mazaya menatap Liam tajam lalu memalingkan wajahnya lagi.


"Siapa yang sok kuat? Orang memarnya sudah tidak terasa sakit lagi," balas Mazaya menanggapi.


"Kalau perlu bantuan untuk jasa antar. Aku siap jadi supir mu," tawar Liam.


"Tidak perlu. Aku masih bisa sendiri."


"Ih, lagi sakit saja kau masih suka keras kepala ya! Heran aku tuh!"


"Bodo!"


Interaksi antara Mazaya dan Liam membuat hati Jorell terasa sesak. Bahkan keduanya terlihat sangat akrab sekali. Liam juga begitu perhatian pada Mazaya. Jorell bisa melihat kalau laki-laki itu menyukai Mazaya. Apa jadinya jika Mazaya juga menyukai Liam dan tidak mencintainya lagi? Hanya membayangkannya saja sudah membuat hati Jorell sakit dan sesak. Sepertinya ia harus bisa membuat Mazaya goyah kembali di pertemuan selanjutnya. Karena Jorell ingat, dia tidak punya banyak waktu untuk tetap berada disana. Jika terlalu lama, kasihan juga kakaknya yang menggantikan dirinya. Ia juga takut mamanya lama-lama akan tahu lagi dan malah membuat Mazaya benar-benar menghilang dari jangkauannya lagi.


Tak lama kemudian, Mario pulang dari sekolahnya. Ia sedikit terkejut ketika melihat dua pria tampan berada di dalam rumahnya. Kalau Liam, ia sudah tahu. Tapi laki-laki yang satunya? Mario tidak tahu siapa dia.


"Ah, iya. Salam kenal Kak Jorell. Aku Mario adiknya kak Mazaya."


"Salam kenal juga," jawabnya sambil tersenyum.


Liam tersenyum miring. Ia merasa lebih unggul dari Jorell karena lebih mengenal keluarga Mazaya daripada Jorell. Padahal statusnya hanya teman yang mencintai Mazaya. Sementara Jorell? Ia adalah mantan yang masih mencintai Mazaya.


Setelah perkenalan itu, Mario pergi ke kamarnya untuk berganti baju.

__ADS_1


"Ck! Katanya mantan kekasih. Tapi, adik Mazaya saja baru kenalan barusan. Cih! Kalian ini benar-benar pacaran tidak sih dulunya? Aneh!"


Baik Jorell dan Mazaya langsung terdiam. Bukannya tidak ingin menceritakan atau mengenalkan tentang keluarga. Tapi, memang dulu Mazaya tak tersentuh sama sekali. Begitu juga Jorell yang masih menyembunyikan identitasnya yang anak orang kaya.


"Nah, kan? Sekarang malah pada diam-diam saja. Hih! Aku jadi tambah heran! Ya sudah aku pulang dulu. Cepat sembuh ya."


Mazaya pun mengangguk. Liam sedikit mendengus karena hanya dibalas anggukan saja. Padahal dia ingin mendengarkan perkataan Mazaya seperti, "Iya makasih Liam. Hati-hati di jalan ya."


Tapi, memang dasarnya Mazaya, mana mungkin wanita dingin itu mengatakan hal seperti itu padanya. Sebelum benar-benar pergi, Liam mengacak-acak rambut Mazaya dulu. Lalu menghilang dari sana dan menimbulkan kecemburuan yang amat dalam ke Jorell. Interaksi keduanya benar-benar membuat Jorell tak tahan. Ingin sekali ia mematahkan tangan itu. Tapi, jika diingat lagi. Memangnya dia siapa? Sudah mantan kan?


Huh!


Jorell menarik napasnya dalam-dalam.


Tak beda jauh di sisi Liam, sebenarnya laki-laki itu pun merasakan cemburu yang teramat sangat. Meski Mazaya tidak memperlihatkan rasa cintanya pada Jorell, tapi ia tetap saja bisa lihat tatapan cinta yang diberikan Mazaya pada Jorell.


"Ternyata, merelakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Huh!"


Liam berjalan di jalanan yang sepi dengan angin yang berhembus menusuk-nusuk ke kulitnya. Di kesendirian nya itu, Liam terus menghela napas dan mencoba untuk tidak memikirkan Mazaya. Karena sepertinya mau sekeras apapun usahanya. Hati Mazaya tak akan pernah jadi miliknya. Tapi untuk merelakan pun ia tidak bisa.


Jadi ia sekarang hanya bingung mau bagaimana?


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2