Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 28 - Beradu mulut


__ADS_3

Setelah pertemuan terakhir di acara makan malam itu, Mazaya tak pernah lagi melihat Jorell. Bahkan sudah lebih dari dua bulan lamanya. Jorell yang bilang akan menghubunginya dengan memberi pesan atau menelpon pun tak pernah ada satu kali pun. Mazaya jadi merasa kehilangan lagi. Ia pun hanya bisa menghela napasnya saja.


Di kala kehilangan itu, Liam lah yang selalu ada untuk menghibur Mazaya. Walaupun Liam tahu, cintanya memang tak akan pernah dibalas. Tapi rasa sayangnya sangat tulus, ia tidak bisa melihat Mazaya yang terus bersedih berkepanjangan.


*


*


Di rumah, setiap harinya Jefrey selalu beradu mulut dengan sang mama sepulangnya Jorell dari bertemu dengan Mazaya.


"Ma, sudahlah, sudahi ini semua. Apa mama tidak kasihan melihat Jorell yang sekarang tidak terlihat seperti manusia? Dia terlihat seperti robot yang selalu melakukan rutinitas yang sama setiap harinya!"


"Itu malah lebih bagus, jadi adikmu lebih fokus pada perusahaan daripada memikirkan wanita miskin itu," jawab Margareth.

__ADS_1


"Semua ini salahku, Ma. Aku yang menyuruh Jorell datang kesana. Aku yang merencanakan pertemuan mereka. Meski Jorell sebenarnya sudah tahu dimana keberadaan Mazaya. Dia selalu menahan dirinya karena masih menghormati mama sebagai mamanya. Tapi sekarang? Mama malah membuat Jorell seperti bukan dirinya sendiri! Mama membatasi ruang geraknya. Menyita ponselnya, bahkan mengawasi apapun kegiatannya!"


Jefrey tak mampu lagi menahan semua kekesalannya dan kemarahannya pada sang mama. Ia merasa kasihan pada adiknya yang terus dikendalikan seperti robot.


"Kenapa jadi kau yang marah? Jorell saja tidak membatah satu pun perintah mama. Dia tenang-tenang saja tuh," balas Margareth lagi.


"Itu karena dia terlalu menyayangi mama. Lebih mementingkan mama di atas kebahagiannya sendiri. Dia lebih memilih melakukan apa yang mama suruh, agar mama tidak melakukan hal buruk lagi ke Mazaya!"


"Memangnya mama melakukan hal buruk apa? Mama kan hanya membuang apa yang tidak perlu. Lagipula mama juga masih memberikan dia pekerjaan di perusahaan kita."


"Aku tidak tahu lagi, gimana caranya membuka pikiran mama. Tapi, mama harus ingat satu hal, di keluarga kita membutuhkan orang seperti Mazaya yang pekerja keras dan tidak mudah ditindas. Sangat cocok sekali jika bersanding dengan Jorell meski berasal dari keluarga yang tidak sepadan dengan kita. Mazaya orang yang berbakat, mama pasti tahu itu karena aku tahu, mama membiarkannya masih ada di perusahaan kita karena mempertimbangkan bakatnya. Mama tidak mau rugi, tapi tidak mau membuangnya jauh-jauh juga."


Margareth tak menjawab ucapan Jefrey karena memang apa yang diucapkan anaknya ada benarnya. Ia memang tidak mau rugi dengan membiarkan orang yang berbakat jatuh ke perusahaan lain.

__ADS_1


"Omong kosong macam apa itu!"


Margareth menjawab seolah apa yang diucapkan Jefrey salah.


"Ma, sekali lagi aku minta, tolong jangan batasi ruang gerak Jorell. Biarkan dia memilih sendiri seperti apa jalan hidupnya. Ia sudah dewasa dan bisa memilih yang terbaik untuknya. Jangan mama atur-atur begini."


"Tidak akan ada yang bisa melanggar semua ucapan mama. Apa yang mama putuskan untuk kalian. Itulah yang terbaik."


Margareth kemudian pergi meninggalkan Jefrey dan berjalan melewati kamar anak keduanya yang tidak tertutup rapat.


Semenjak Jorell diawasi sang mama, Jorell memilih untuk tidak pernah pergi kemana pun selain ke kantor. Sepulang dari kantor, pasti Jorell akan menghabiskan waktunya di kamarnya. Percuma saja pergi, karena itu akan membuat situasi bertambah buruk. Makanya Jorell memilih untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Bahkan ia keluar kamar pun ketika makan saja. Sudah seperti pangeran yang di kurung di dalam rumah.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2