
Kini hanya tinggal Jorell dan Mazaya berdua di ruang tamu. Jorell masih merasa cemburu akan interaksi antara Mazaya dan Liam. Ia pun jadi tanpa sadar bertanya.
"Sepertinya kau dekat sekali dengan Liam."
"Ya kami kan berteman," jawab Mazaya.
"Tapi, dulu kau tidak begitu padaku? Kau selalu cuek, dan jutek. Kenapa sama dia kau terlihat ramah sekali?" tanya Jorell bertubi-tubi.
"Jangan bilang kau cemburu?" tebak Mazaya.
"Iya, aku memang cemburu."
Deg!
Hati Mazaya jadi berdebar-debar. Ia tidak menyangka Jorell akan mengiyakan tebakannya.
"Sudahlah, jangan bahas itu. Lebih baik kau pulang juga. Aku ingin istirahat."
"Benar kau mau mengusirku dari sini? Tidak menyesal?"
Mazaya mengangguk.
"Oke, aku pulang dulu. Semoga cepat sembuh. Dan setelahnya kau masih ada hutang padaku."
"Iya, aku ingat. Tidak perlu kau ingatkan terus!"
Jorell pun pulang dari rumah Mazaya. Mazaya merasakan kesunyian setelah Jorell pergi. Ia bahkan menarik napasnya beberapa kali.
Sampai Mazaya tidak sadar kalau adiknya sedari tadi sudah ada disana memperhatikan interaksi antara kakaknya dan Jorell yang baru dikenalnya. Ia tahu, jika sepertinya ada sesuatu diantara kakaknya dan laki-laki itu.
"Kak," panggil Mario yang sudah berdiri di belakang Mazaya.
"Hm?" jawabnya sambil menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanyakan saja."
Mario pun lalu duduk di samping kakaknya. Ia menghadapkan wajahnya menatap sang kakak.
"Jawab yang jujur ya kak! Laki-laki tadi sebenarnya siapa? Kenapa sepertinya terlihat perhatian sekali pada kakak. Rasanya tidak mungkin jika hanya sekedar rekan kerja. Tatapannya saja bukan seperti ke teman tapi seperti ke orang yang dicintai."
Mazaya menarik napasnya perlahan. Haruskah iya jujur ke adiknya? Haruskah?
"Dia rekan kerja sekaligus mantan kekasih kakak," jawab Mazaya yang akhirnya memutuskan untuk jujur pada adiknya.
"Lalu, kenapa kalian putus? Apa kakak tidak mencintainya lagi?" tanya Mario lagi.
Mazaya hanya terdiam. Ia tidak harus menceritakan semuanya pada adiknya kan? Iya hanya tak ingin adiknya jadi banyak pikiran karena harus memikirkan masalahnya juga.
"Mungkin sudah tidak cocok. Lagipula semuanya sudah berakhir Rio."
Mario menelisik ucapan kakaknya itu. Ia merasa kakaknya sedang berbohong. Tapi, ia tidak ingin menanyakannya lagi. Mungkin ada alasan kenapa kakaknya tidak mau bercerita. Namun, ada kalanya ia juga ingin diandalkan oleh kakaknya.
"Iya, pulangnya jangan malam-malam.
Mario mengangguk.
*
*
Mario berjalan dengan tangan yang berada di saku celananya. Ia terus memikirkan kakaknya yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Ia bahkan sampai sekarang tak tahu alasan kenapa kakaknya pindah ke tempat yang sekarang. Padahal kalau dipikir-pikir lebih nyaman di tempat yang sebelumnya. Tapi, ia pun tak bisa terus berada disana sendirian. Karena kakaknya adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki sekarang.
Rupanya, di perjalanan, ia pun melihat Liam yang sedang duduk di bawah pohon sambil memejamkan matanya. Dengan mode jahilnya, ia mengagetkan Liam hingga laki-laki itu terkejut dan terbuka matanya.
"Dor!!"
__ADS_1
"Astaga! Haish!! Kau ini mengagetkan saja Rio!" kaget Liam.
"Hehe, habis kakak ngapain tiduran disini? Kalau mau tiduran kan tinggal pulang saja ke rumah dan rebahan di ranjang."
"Huh! Masalahnya aku tidak bisa tidur."
"Lah, barusan apaan coba?"
"Aku hanya memejamkan mata saja sambil merasakan udara segar disini."
"Oh, begitu."
Mario pun jadi ikutan duduk di sebelah Liam. Ia bahkan membuang napasnya perlahan. Liam sedikit keheranan dan langsung bertanya ada Mario.
"Kau kenapa? Ada masalah di sekolah?"
Mario menggeleng.
"Apa aku terlalu muda untuk tahu masalah orang dewasa?"
"Kenapa bertanya begitu?"
"Soalnya Kak Mazaya tak pernah berbagi masalahnya padaku. Terkadang aku merasa kehadiranku tidak berguna sama sekali untuk kakak. Padahal dia selalu aku andalkan dalam hal apapun."
Liam mengerti apa yang dicurahkan oleh Mario. Ia pun bisa saja berpikiran hal yang sama seperti Mario. Tapi, di sisi lain, ia juga tahu, pasti Mazaya hanya ingin memperlihatkan sisi kuatnya di hadapan sang adik. Karena kalau dia lemah, siapa yang akan jadi penguat di antara keduanya.
Liam menepuk pundak Mario pelan-pelan.
"Tidak berbagi masalah denganmu bukan berarti kau tidak berguna atau tidak bisa diandalkan oleh kakakmu. Tapi, mungkin dia memiliki caranya sendiri untuk memecahkan masalahnya. Jadi, daripada terus memikirkan hal itu. Lebih baik kau belajar yang rajin supaya kakakmu bangga padamu."
*
*
__ADS_1
TBC