
Waktu sebulan itu akan Mazaya gunakan sebaik-baiknya. Ia akan menciptakan kenangan-kenangan indah bersama Jorell. Meskipun akhirnya ia harus memberikan kenangan menyakitkan juga untuk laki-laki yang dicintainya.
Di malam yang bertaburan bintang, Mazaya dan Jorell saling bergandengan di tepi jalanan yang sepi.
Genggaman tangan itu terasa hangat sekali. Mazaya jadi tidak ingin melepasnya. Laki-laki yang sudah mengubah warna di hidupnya.
"Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya," tanya Mazaya.
"Eum, apa ya?" Jorell tampak berpikir.
"Aku hanya ingin bersamamu. Jangan pernah pergi meninggalkan aku. Itu yang aku inginkan."
Mazaya terdiam. Hal itu sangat-sangat tidak mungkin untuk ia wujudkan karena sebentar lagi ia akan meninggalkan Jorell.
Maaf.
Lagi-lagi Mazaya meminta maaf meskipun hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya.
Jika boleh ia egois, ia ingin terus bersama Jorell. Mewujudkan apa yang Jorell inginkan juga. Tapi, itu tidak bisa. Yang terpenting untuk saat ini bukanlah perasaannya.
"Kenapa diam? Kau tidak mau mewujudkan keinginanku?" tanya Jorell.
"Bukan tidak mau. Tapi hanya aneh saja. Kenapa kau tidak memintaku untuk menciummu mungkin, atau berkencan setiap waktu atau bahkan bermalam bersama. Biasanya kan laki-laki akan meminta seperti itu," ucap Mazaya.
"Karena dengan tersanggupinya permintaanku tadi. Semua yang kau katakan tadi sudah masuk ke dalamnya. Aku ingin menciummu, menghabiskan banyak waktu bersamamu," jawab Jorell dengan senyuman manisnya.
Senyumnya selalu manis. Apa mungkin ini terakhir kalinya aku melihat senyumanmu itu?
Mazaya jadi terus berpikir banyak hal.
Keduanya kini sudah tiba di restoran yang berada di tepi danau. Disana mereka bisa menikmati makan sambil melihat ikan-ikan di bawahnya.
Jorell yang memesan makanan. Laki-laki itu tidak ingin terlihat pecundang di hadapan Mazaya. Jadinya ia memesan makanan pedas.
Setelah makanan datang, keduanya mengobrol sambil menikmati waktu.
"Besok kita camping yuk!" ajak Mazaya.
"Ayo!" jawab Jorell.
Jorell merasa senang sekali ketika Mazaya mengajaknya untuk camping. Sudah lama sekali Jorell menginginkannya, tapi ia takut Mazaya akan menolak nya.
__ADS_1
*
*
Waktu berlalu, esok hari pun tiba. Mazaya dan Jorell sudah mempersiapkan segalanya untuk kebutuhan camping mereka. Rencananya, mereka akan camping di perbukitan. Untuk transportasinya, Jorell menyewa sebuah mobil untuk kesana.
Setelah semuanya sudah siap, keduanya pun pergi ke bukit. Sesampainya disana mereka langsung membangun tenda.
Ketika malam tiba, Jorell membuat api unggun untuk menghangatkan tubuhnya dan Mazaya. Ia juga memasak mie instan untuk Mazaya. Benar-benar definisi laki-laki perhatian.
"Kalau makan jangan cepat-cepat! Jadi belepotan kan?" ucap Jorell sambil mengelap bibir Mazaya yang berantakan.
Mazaya hanya tersenyum membalasnya.
Mungkin aku akan rindu perhatian kecilmu ini. Kumohon jangan benci aku!
Lagi-lagi Mazaya memohon di dalam hatinya.
Di dalam kepiluan hatinya itu, Jorell malah membantu Mazaya untuk membersihkan bekas makannya. Lalu setelah itu, Jorell mengajak Mazaya untuk nonton film bersama. Posisi mereka kini tengkurap dengan tangan Jorell yang melingkar ke pinggang Mazaya. Karena cuaca dingin, keduanya pun menutupi tubuhnya dengan satu selimut.
Satu film bergenre thriller telah selesai ditonton. Namun, Jorell menginginkan untuk nonton film genre romantis.
"Kenapa? Bukankah film romantis sangat membosankan? Alur ceritanya sangat mudah ditebak dan aku juga tidak suka dengan adegan yang banyak tangisannya," ucap Mazaya sambil mendongak menatap Jorell.
"Tidak semua film romantis ada adegan menangisnya. Kau terlalu sering nonton film thriller jadinya begini sih. Sekali ini saja, kita lho sedang berkemah. Suasana sudah mendukung. Cuaca sudah mendukung. Masa kau tidak? Ayolah!"
Alhasil, Mazaya pun menyetujuinya. Meski kurang suka dengan filmnya, Mazaya tetap menonton hingga akhir. Berbeda dengan Jorell yang sangat menikmati film tersebut. Namun, Mazaya tidak memperhatikan itu.
"Hoamm!"
Mazaya menguap.
"Kau mengantuk?" tanya Jorell.
"Mungkin, rasanya, mata ini berat sekali untuk terus terbuka," jawabnya.
"Ya sudah, ayo kita tidur."
Jorell membenarkan posisi Mazaya jadi terlentang. Ia menaruh ponsel yang tadi mereka gunakan ke dalam tas. Kemudian ia berbaring di samping Mazaya dengan satu selimut yang sama. Jorell memiringkan badannya menatap Mazaya.
"Kau tahu tidak, kalau kau itu sangat cantik dan berkarisma?"
__ADS_1
"Tahu, kalau tidak begitu mana mungkin kau menyukainya."
Jorell tersenyum mendengarnya. Memang benar itu salah satu alasannya.
"Tapi, ada satu hal lagi yang kau tidak menyadarinya. Kau itu sangat menggemaskan," ucapnya sambil mencubit pipi Mazaya.
Mazaya mengaduh kesakitan. Sudah mengantuk, dicubit pula. Pupus sudah rasa kantuknya itu.
"Kau sengaja ya? Jahat sekali!"
"Hehe, aku ingin menciummu," ucap Jorell.
Di saat Jorell hanya mampu mengatakannya, Mazaya malah langsung mencium Jorell dengan lembutnya. Jorell agak terkejut dengan Mazaya yang tiba-tiba menyerangnya duluan. Tapi, pada akhirnya ia malah senang dan menikmatinya.
Ciuman terus terjadi hingga keluar suara-suara d*sahan. Bahkan tangan Jorell sudah masuk ke dalam hoodie yang Mazaya kenakan. Mulai mer*ba-r*ba dia gundukan sintal itu meski masih terhalangi oleh bra. Ketika akan mer*masnya, Jorell terkesiap sadar akan apa yang sudah dilakukannya.
Tubuh Jorell menjauh. Ia terus meminta maaf atas kelancangan dirinya. Padahal ia ingin menjaga Mazaya sepenuh hatinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri hanya akan melakukan sebatas ciuman saja tidak lebih.
"Maaf, aku hampir saja kelepasan. Lebih baik kita tidur sekarang."
Mazaya malah tidak mau menutup matanya. Rasa kantuknya sudah terlanjur menghilang. Tanpa memperdulikan ucapan Jorell, mazaya malah memeluk laki-laki itu dengan eratnya. Hingga Jorell hanya mampu menelan ludahnya sendiri.
Astaga! Aku bisa gila kalau begini! Mazaya kau benar-benar ya! Aku ini laki-laki normal yang bisa saja kelepasan lagi. Apalagi jika bersama wanita yang aku cintai. Ya Tuhan!
Jorell berusaha menahan semuanya. Mazaya tahu itu. Jorell adalah laki-laki baik-baik. Ia tidak mungkin melakukan hal lebih daripada ciuman. Tapi entah kenapa, di malam ini, Mazaya menginginkannya. Menginginkan sentuhan Jorell yang lebih dari sekedar ciuman. Ia ingin menghabiskan malamnya bersama Jorell. Karena waktunya sudah tidak lama lagi.
Mazaya melepaskan pelukan itu, dan mulai mengelus dada Jorell.
"Kau nakal rupanya." Mazaya tersenyum.
"Meski kau ingin, dan aku pun ingin. Aku tetap tidak akan melakukannya," ucap Jorell. Ia sudah membentengi tubuhnya dengan menahan diri.
Mazaya malah mengecup bibir Jorell berulang kali tanpa adanya l*matan. Hal itu membuat Jorell tak mampu berkedip. Jantungnya sudah berdebar-debar tak karuan.
Namun di hatinya yang paling dalam, Jorell malah merasa Mazaya berbeda tidak seperti biasanya.
Ada apa denganmu?
*
*
__ADS_1
TBC