Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 16 - Pergi tanpa pamit


__ADS_3

Mazaya menangis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia akhirnya menangis. Putusnya hubungan dengan Jorell membuat hatinya terluka. Tapi akan lebih terluka lagi jika ia tetap meneruskannya.


Tangisan itu bahkan sampai terdengar dan diketahui oleh Mario.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kakak menangis? Padahal selama ini aku selalu melihat sisi kuatnya. Tapi, sekarang? Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan berpindahnya kita?"


Mario hanya mampu menerka-nerka tanpa mau bertanya. Karena kakaknya pasti tidak akan pernah menjawabnya. Kakaknya itu pintar sekali berbohong soal perasaanya. Bahkan terkadang, Mario tidak bisa membedakan antara kakaknya sedang senang atau bersedih. Tapi kali ini, ia tahu kalau kakaknya sedang bersedih dan rapuh.


*


*


Keesokan harinya, Mazaya mengejutkan semua karyawan di perusahaan terutama staf tim desainnya sendiri karena tiba-tiba saja mengundurkan diri. Joseph lah yang menemukan surat pengunduran diri itu di meja kerja Mazaya.


Jorell merampasnya dan membacanya. Hal itu juga membuat Jorell bertanya-tanya.


"Rel, apa kau sebelumnya sudah tahu kalau Mazaya akan mengundurkan diri? Jujur aku kaget sekali," tanya Joseph.


"Mazaya bahkan tidak bilang apapun mengenai pengunduran dirinya padaku."


"Apa kalian ada masalah? Kalian bertengkar?" tanya Joseph tiba-tiba.


"Dia meminta putus dariku."


Jawaban Jorell itu, langsung membungkam mulut Joseph. Ia tak mau berkata apapun lagi karena takut Jorell akan bersedih.


"Kalau Mazaya mengundurkan diri, bagaimana dengan nasib tim kita? Siapa yang akan menggantikannya? Kenapa sih dia suka sekali mengejutkan orang? Kenapa juga tidak berpamitan kalau ingin keluar? Apa memang selama ini kita tidak pernah dianggap sebagai rekan kerjanya? Huh! Aku sedih sekali!"


Stefani menumpahkan isi hatinya di depan Jorell dan Joseph. Joseph sih setuju-setuju saja dengan ucapan Stefani.


Berbeda dengan Jorell, laki-laki itu justru malah pergi ke ruangan direktur. Ingin menanyakan kebenarannya.


"Kak!" panggil Jorell.


"Benar Mazaya mengundurkan diri? Apa dia ada bicara sesuatu pada kakak?" tanya Jorell.


"Aku bahkan tidak tahu apa pun. Aku juga kaget ketika melihat surat pengunduran dirinya ada di meja kerjaku dari manajer personalia. Bahkan yang anehnya adalah, ketua tim desain yang baru sudah ditunjuk oleh petinggi perusahaan. Terlihat seperti Mazaya sudah merencanakan semua ini dari lama," ungkap Jefrey.

__ADS_1


Jorell menghela napas kasar. Ia langsung saja menghubungi Mazaya lewat telepon. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya Mazaya sudah mengganti nomor ponselnya.


"Aku bahkan tidak bisa menelponnya. Nomornya sudah tidak aktif."


"Kenapa kau terlihat sangat sedih Mazaya keluar, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari aku?" tanya Jefrey.


Jorell pun menceritakan semuanya pada sang kakak. Tentang dirinya dan Mazaya yang berpacaran dan semalam baru saja putus, tapi Jorell tidak mau mengganggap bahwa mereka sudah putus.


Jefrey terkejut bukan main. Ia tidak menyangka adiknya bisa menaklukan wanita dingin seperti Mazaya. Tapi, kenapa tiba-tiba meminta putus dan esok harinya mengundurkan diri? Jefrey jadi menerka-nerka semuanya. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada sang ibu.


Apa mama tahu hubungan Jorell dan Mazaya? Apa mama yang merencanakan semua ini?


Jefrey jadi menuduh mamanya sendiri. Tapi ia tidak bisa langsung mengatakan kecurigaannya itu pada Jorell. Ia akan memastikannya terlebih dahulu.


"Kalau sudah putus, terima saja. Mungkin Mazaya bukan yang terbaik untukmu. Sudah sana kembali bekerja!"


Jorell pun keluar dari ruangan kakaknya dengan wajah yang lesu. Ia tidak bisa berpikir apapun sekarang. Bahkan jika disuruh bekerja, mungkin hasilnya akan berantakan.


Tak lama kemudian, ada sebuah pengumuman diangkatnya Joseph sebagai ketua tim desain yang baru. Joseph merasa senang sekaligus sedih. Senang ketika naik jabatan dan sedih karena ia harus menggantikan Mazaya secepat ini adalah Mazaya baru saja mengundurkan diri.


"Harusnya kau yang diangkat jadi ketua timnya Rel. Meski kau masih baru, tapi dilihat dari kemampuan, kau jauh lebih layak daripada aku," ucap Joseph.


"Tidak, kau lebih pantas mendapatkannya," jawab Jorell menanggapi.


Setelah itu, Jorell duduk di kursinya sambil melihat list pekerjaan yang harus ia lakukan. Tapi, ia hanya menggerak-gerakkan mouse saja tangan membuat goresan apapun di komputernya.


Hingga waktu pulang kerja pun tiba, Jorell langsung bergegas pergi dari perusahaan dan mencari Mazaya di kontrakannya. Namun, hasilnya nihil.


Kontrakan Mazaya itu sudah kosong tak berpenghuni. Kata pemiliknya, Mazaya sudah pergi pagi-pagi sekali ketika langit masih gelap. Ketika Jorell bertanya pergi mana pada si pemilik kontrakan, si pemilik menjawab tidak tahu.


Jorell terus mencari Mazaya ke tempat biasa mereka bertemu, di mulai dari restoran, taman kompleks, taman bermain hingga pasar malam. Dan Mazaya tidak ada disana. Semuanya seperti sudah direncanakan oleh Mazaya dengan matang-matang.


"Kau pergi kemana Mazaya? Kenapa kau tega sekali padaku? Meminta putus lalu pergi meninggalkanku! Bahkan kau tidak mengatakan apapun sebelumnya padaku! Pergi tanpa pamit seenaknya! Wanita kejam! Kau kejam sekali!"


Walau begitu, Jorell sangat mencintai Mazaya. Ia bahkan menangis di jalanan. Untung saja hujan turun, jadi Jorell bisa menutupi kesedihannya dengan hujan. Hujan datang seolah-olah tahu kalau dia membutuhkannya.


"Arghhhh!"

__ADS_1


Jorell berteriak di jalanan. Hatinya sangat sakit. Dadanya sesak sekali menerima kenyataan ini. Bahkan Jorell berjalan tak tentu arah. Tatapannya kosong, langkahnya terseok-seok dan akhirnya berhenti di sebuah jembatan.


Tubuh Jorell melemas, ia terduduk di jembatan sambil memeluk lututnya di derasnya air hujan.


"Mazaya,"


Nama itu terus menerus disebut oleh Jorell. Hingga akhirnya penglihatannya terasa kabur dan Jorell jatuh pingsan.


*


*


Di sebuah kota kecil, Mazaya sedang menata barang-barang di rumahnya bersama Mario. Mereka bekerja sama untuk membaut hunian baru mereka jadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.


Sesekali, Mario menanyakan keadaan kakaknya.


"Apa kakak baik-baik saja?"


"Ya, kakak baik-baik saja. Kakak malah senang bisa pindah kesini. Susananya nyaman dan tidak terlalu padat seperti di kota besar."


Tapi, aku tidak melihat kesenangan itu di mata kakak. Aku malah melihat kesedihan disana. Tolong jujur padaku kak! Aku ingin kau juga bisa mengandalkan aku! Seperti aku mengandalkan mu!


Mario berteriak di hatinya dan meminta sang kakak untuk mengandalkannya.


"Aku harap kakak tidak berbohong."


Kata itulah yang dipilih oleh Mario. Dan berhasil membuat Mazaya terdiam. Wanita itu malah pergi untuk merapihkan barang-barang lain yang agak jauh dari Mario.


"Kau bahkan memilih untuk menghindar kak daripada menceritakannya padaku. Apa aku memang tidak bisa diandalkan?"


Mazaya menjauh dari Mario. Ia tidak ingin adiknya tahu kalau dirinya berbohong dan sebenarnya hatinya sedang rapuh. Ia hanya ingin memperlihatkan sisi kuatnya pada sang adik. Ia ingin Mario juga kuat menghadapi semuanya.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2