Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 25 - Berandai-andai


__ADS_3

Sudah hampir seminggu, Margareth tak melihat Jorell di perusahaan. Bahkan anak itu tak juga mengunjunginya ke rumah seperti biasanya. Semenjak kepergian Mazaya, Jorell memang sudah menjadi CEO, tapi anaknya tetap tinggal di kontrakan kumuhnya. Meski begitu, biasanya setiap malam, Jorell selalu menyempatkan waktunya untuk makan malam bersama.


Karena penasaran, Margareth pun menanyakan keberadaan Jorell ke Jefrey.


"Jef, kenapa adikmu tak pernah lagi datang ke rumah? Kemana dia?" tanya Margareth.


"Jorell sedang aku tugaskan dinas ke luar kota ma. Ada beberapa kerjasama yang hanya ingin Jorell yang mengurusnya. Mungkin akan memakan waktu lama. Karena itu, dia tidak lagi datang ke rumah. Maaf, selama ini aku tidak memberitahu. Karena aku pikir mama akan tahu sendiri," jawab Jefrey.


Margareth menarik napasnya perlahan. Saking sibuknya ia mengurus tentang pekerjaan, ia sampai tidak tahu apa yang dilakukan oleh anaknya.


"Harusnya walau begitu, kau tetap memberitahukan ini pada mama."


"Iya ma. Maaf."


Setelahnya Margareth pergi ke kamarnya. Ia mengecek apakah benar apa yang diucapkan oleh anak sulungnya atau tidak. Ia merasa seperti ada sesuatu yang janggal.


Dan benar saja, setelah dicek dan dicari tahu. Memang ada satu kerjasama yang dilakukan di luar kota. Namun, bukan Jorell lah yang menanganinya. Ia merasa marah dan kesal. Ia bahkan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Sebenarnya kemana anak itu pergi?"


Margareth bertanya-tanya.

__ADS_1


*


*


Jefrey menghubungi adiknya di dalam kamarnya. Ia merasa tidak mungkin mamanya bisa percaya semudah itu padanya.


"Rel, sebaiknya kau pulang lebih awal. Aku takut mama curiga. Kau tahu sendiri seperti apa mama mu itu. Kalau ia sudah curiga. Apapun yang kita sembunyikan, pasti akan mudah di temukannya."


"Iya secepatnya aku akan pulang. Urusanku belum selesai disini kak."


"Pokoknya yang penting pulang dulu. Habis itu kau mau kesana lagi pun terserah. Yang penting mama jangan sampai mengetahui keberadaan mu disana. Bisa-bisa dia akan melakukan hal yang lebih dari ini pada Mazaya."


"Iya kak."


"Iya, terima kasih sudah memberitahukan ini padaku."


"Tentu saja."


Sambungan telepon pun berhenti. Jefrey bisa bernapas lega sekarang. Setidaknya ia sudah memperingatkan adiknya untuk berhati-hati. Karena kalau sampai ketahuan mamanya lagi, entah apa yang akan dilakukan oleh mamanya. Bisa lebih buruk atau bahkan mungkin hal yang tidak akan ia duga.


"Semoga suatu hari nanti, mama akan merestui kalian."

__ADS_1


*


*


Setelah mendapatkan informasi dari kakaknya. Tentu saja Jorell merasa kecewa. Itu artinya, ia tidak akan bisa lama berada disana. Padahal rasa rindunya selama ini belum terobati sepenuhnya. Bahkan ia jadi merasa tidak ingin pergi setelah tahu ada laki-laki lain yang terus bersama Mazaya.


"Kenapa harus begini? Kenapa kisah cintaku serumit ini? Apa tidak bisa jangan melihat seseorang dari status ekonominya?"


Jorell merasa frustasi hingga mengacak-acak rambutnya sendiri. Padahal ia sudah merencanakan semua pertemuan dengan Mazaya hingga ke 22. Namun, ternyata sepertinya pertemuan itu harus diselesaikan dengan begitu cepat.


"Andai mama tahu, Mazaya adalah wanita pekerja keras dan pintar. Harusnya mama setuju kan? Dia kan suka sekali dengan karakter wanita yang seperti itu."


Jorell mengatakan itu karena mengetahui bahwa tunangan kakaknya adalah wanita yang pintar dan pekerja keras. Bahkan tunangan kakaknya adalah seorang desainer ternama di kota nya yang sudah melalang buana ke luar negeri.


"Tidak bisakah kisah cintaku berjalan lancar saja?"


Laki-laki itu mulai berandai-andai tentang kisah cintanya yang akan bahagia di akhir. Ia bahkan sampai tidak memperdulikan ponselnya yang terus berdering memperlihatkan nama yang tertera di layar yaitu sang mama.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2