Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 15 - Ayo kita putus!


__ADS_3

Acara camping pun selesai. Di malam itu, tidak terjadi apapun di antara Mazaya dan Jorell. Keduanya hanya tidur bersama sambil berpelukan.


Semenjak malam itu, Mazaya jadi semakin menunjukkan rasa cintanya. Jadi, membuat Jorell bertanya-tanya.


"Kenapa aku merasa aneh dengan perubahan sikapnya ya? Harusnya aku senang kan? Itu berarti dia sangat mencintaiku? Iya kan?"


Jorell membuang jauh-jauh pikiran anehnya itu dan melakukan pekerjaannya kembali.


Di hari itu, pekerjaan tim desain sangatlah banyak, mereka sampai melewatkan jam makan siang karena dikejar-kejar oleh waktu. Namun, Jorell akan tetap jadi pacar yang baik. Ia bahkan membuatkan secangkir kopi untuk Mazaya.


Bagaimana nantinya aku bisa melupakanmu?


Mazaya menatap nanar kepergian Jorell dari ruangannya setelah mengantarkan kopi.


Tuhan, apa aku bisa? Apa aku sanggup mengatakan putus padanya?


Lalu, Mazaya fokus kembali ke pekerjaannya karena tidak ingin terganggu oleh pikiran lainnya. Hingga waktu pulang kerja pun tiba, Mazaya keluar paling akhir dari ruangan tim desain itu.


Sebagai pacar yang baik, Jorell selalu setia menunggu di depan gedung untuk pulang bersama. Tak lupa Jorell juga memberikan kue kecil sebagai cemilan untuk Mazaya. Ingin sekali rasanya Mazaya memutar waktu, Ia lebih baik tidak mengenal Jorell saja daripada harus menyakiti laki-laki sebaik Jorell.


Tangan Mazaya mulai digenggam oleh Jorell.


"Takut ilang," ucapnya.


Mazaya tersenyum masam ke arah lain. Ia menikmati genggaman hangat itu hingga sampai di depan rumahnya.


"Sana masuk! Mandi dan istirahatlah. Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk kita. Sampai bertemu besok."


Jorell mengacak-acak rambut Mazaya sebelum pergi.


Mazaya menatap kepergian Jorell sampai bayangan laki-laki itu menghilang dari penglihatannya kemudian masuk ke dalam rumah.


"Kak," panggil Mario ketika kakaknya sudah pulang bekerja.


"Hm," jawab Mazaya.


"Benar kita harus pindah dari sini? Lalu bagaimana dengan sekolahku? Kakak sudah membiayai aku mahal-mahal di sekolah favorit itu. Kalau pada akhirnya aku pindah dari sana. Rasanya perjuangan kakak sia-sia. Lalu jika kita pindah juga, bagaimana dengan pekerjaan kakak?"


"Kau tenang saja, semuanya sudah kakak pikirkan matang-matang. Tidak ada yang sia-sia untuk membiayai pendidikanmu. Mau itu di sekolah yang mahal atau tidak, jika kau mampu menyerap ilmunya dengan baik maka semuanya tidak sia-sia. Lebih baik, bereskan barang-barang mu mulai sekarang. Karena lusa mungkin kita sudah akan pindah. Mengenai pekerjaan kakak, kakak hanya dimutasi ke kantor cabang."


Setelah mengatakan itu, Mazaya pergi ke kamarnya. Namun, Mario malah memikirkan hal lain.

__ADS_1


"Kenapa kakak jadi aneh begini ya? Huh! Ya sudahlah, aku ikuti saja maunya, lagian aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kakak."


*


*


Hari telah berganti, Mazaya bertemu dengan Margareth di luar kantor ketika makan siang. Wanita paruh baya itu menagih janji pada Mazaya.


"Apa kau sudah memutuskan anakku?" tanya Margareth.


"Belum, tapi nanti malam, saya akan memutuskannya. Saya bukan orang yang ingkar janji. Jadi anda tenang saja. Bu Presdir."


"Bagus, pikirkan alasan yang logis untuk memutuskannya."


Mazaya pun mengangguk.


Pertemuan itu pun berkahir. Mazaya kembali lagi ke kantor. Ia dicecar pertanyaan oleh Jorell.


"Darimana? Aku mencari mu sejak tadi. Sudah makan siang? Kalau belum, ini makanlah. Aku belikan spesial untukmu."


Mazaya hanya mampu menjawab terima kasih. Setelah itu ia masuk ke ruangannya lagi untuk melakukan pekerjaannya. Ia membuka makanan yang diberikan Jorell padanya. Itu adalah makanan kesukaannya. Jorell selalu tahu apapun yang ia inginkan.


Terima kasih, aku suka sekali makanannya. Nanti malam kita keluar ya. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.


*


*


Malam pun tiba, Mazaya dan Jorell pergi ke taman bermain. Mereka menaiki semua wahana yang ada. Saling bercanda dan tertawa. Saling menggenggam dan memeluk. Hingga tak sadar, bahwa waktunya telah tiba. Mazaya harus memutuskan hubungan antara dirinya dan Jorell.


Di malam itu, di bawah sinar rembulan, Mazaya dan Jorell duduk di kursi. Mazaya menggenggam tangan Jorell begitu erat.


"Aku tidak akan pergi. Jadi kau tenang saja," ucap Jorell.


"Ayo kita putus!" ucap Mazaya tiba-tiba.


Jorell terkejut dan langsung menatap wajah Mazaya dengan begitu serius.


"Kau pasti bercanda. Ayolah, itu tidak lucu Mazaya."


"Aku tidak becanda. Ayo kita putus! Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya. Kau adalah anak dari pimpinan perusahaan Living Group."

__ADS_1


"Apa kau kecewa setelah tahu aku berbohong dan menyembunyikan jati diriku? Maka dari itu kau meminta putus?" tanya Jorell lagi.


"Aku sudah tahu sejak awal. Aku tahu sebelum aku menerimamu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana rasanya berpacaran dengan anak orang kaya. Makanya aku menerimamu. Tapi setelah melewatinya, rupanya tidak buruk juga."


"Kalau tidak buruk, kenapa ingin putus? Kita bisa terus berpacaran. Kau jangan terlalu fokus pada statusku, fokus saja pada hubungan kita berdua," ucap Jorell sambil mengeratkan genggaman tangannya.


"Aku tidak bisa, karena aku sudah menemukan orang yang lebih kaya darimu. Orang itu bisa membantuku untuk melunasi semua hutang-hutang keluargaku."


"Aku juga bisa."


"Aku lelah denganmu Rel. Aku bosan. Ayo kita putus!"


Jorell tertawa.


"Hahahah, putus? Kau terus mengatakan itu sejak tadi. Kalau kau bosan, katakan, apa yang tidak membuatmu bosan. Aku akan melakukannya. Tapi jangan putus. Aku tidak ingin putus darimu Mazaya. Apa kau tidak mengingat apa saja yang sudah kita lakukan bersama? Tidak ingat bahagianya kita saat bersama?"


"Aku tidak pernah bahagia dan tidak tahu bagaimana rasanya bahagia. Aku hanya berpura-pura selama ini. Jadi, daripada terus menyakitimu, lebih baik kita sudahi hubungan ini."


Jorell terdiam, ia tak bergeming.


"Aku sudah pernah tidur dengannya. Laki-laki yang jauh lebih kaya darimu," tambah Jorell.


Jorell tersenyum miris.


"Kau benar-benar ingin putus dariku?"


"Walaupun kau tidak mau, aku akan tetap menganggap kita sudah putus. Terima kasih untuk waktunya kemarin-kemarin," ucap Mazaya lalu ingin beranjak pergi dari sana dengan melepas genggaman tangan Jorell. Namun, Jorell menahannya kuat-kuat.


"Kau bahkan tidak meminta maaf padaku atas semua yang sudah kau berikan? Luka ini sangat menyakitkan Mazaya!"


"Maka dari itu. Jangan pernah memaafkan ku. Karena aku tidak akan meminta maaf. Mari kita kembali ke dunia masing-masing."


Mazaya pergi, wanita itu pergi dari hadapannya. Genggaman yang ia lakukan kuat-kuat bahkan terlepas begitu saja.


Jorell menatap nanar kepergian Mazaya itu. Tak terasa bulir-bulir cairan bening menetes dari matanya. Ia masih belum bisa menerima putusnya hubungannya dengan Mazaya.


Biarlah hari ini Jorell membiarkan Mazaya pergi dan tak mengejarnya. Tapi esok hari, Jorell akan membuat Mazaya berubah pikiran dan kembali padanya.


Ia sudah tidak peduli lagi, mau mazaya sudah tidur dengan laki-laki lain kek. Banyak hutang kek, tapi yang pasti Jorell hanya ingin Mazaya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2