
Beberapa hari kemudian, kaki Mazaya sudah sembuh. Oleh karena itu Mazaya sudah mulai bekerja lagi dan tidak berada di dalam rumah terus-menerus.
Di kantor cabang, Mazaya selalu melakukan tugasnya dengan baik, meskipun para karyawan lain memandangi dirinya dengan tidak suka. Mazaya tak terlalu memperdulikan hal itu. Yang paling ia butuhkan adalah uang untuk memenuhi segala kebutuhan hidup ia dan adiknya. Cek yang dulu diberikan oleh Margareth sudah ia cairkan untuk melunasi hutang ayahnya dan membayar tunggakan kontrakan yang lama serta membayar uang sekolah adiknya di sekolahnya yang lama.
Sepulang dari kerjanya, Mazaya berjalan sendirian. Hidupnya seperti dikejar-kejar oleh waktu. Ia pun duduk di bangku pinggiran jalan untuk menenangkan dirinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan memperlihatkan nama yang tertera di layar ponselnya.
"Lagi dimana?" tanya orang yang tersambung dengan sambungan telepon.
"Di tempat umum," jawab Mazaya.
"Kenapa sendirian?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Mazaya langsung melihat ke area sekitarnya. Ia bisa pastikan bahwa Jorell ada di dekatnya.
Benar saja, Jorell kini sudah ada di depannya dengan sambungan telepon yang sudah di matikan dan Jorell memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya.
Jorell langsung duduk di samping Mazaya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Jorell.
"Harusnya yang bertanya itu aku, kenapa kau langsung duduk tanpa minta izin dariku?"
"Haruskah?"
__ADS_1
Mazaya memutar matanya malas. Ia malas sekali menjawab pertanyaan Jorell.
"Nanti malam kita akan pergi ke suatu tempat. Alamatnya akan aku kirimkan lewat pesan," ucap Jorell.
Mazaya sedikit mendengus.
"Kau masih ada hutang padaku. Tapi karena aku harus kembali ke kota asalku. Nanti malam mungkin adalah pertemuan akhir kita. Tapi, aku akan tetap kesini untuk menagih janji hutangmu yang tersisa sampai lunas."
"Cih! Itu namanya nanti malam bukan pertemuan akhir kita," sanggah Mazaya.
Jorell tersenyum kecut.
"Tapi, tetap saja, aku tidak tahu kapan aku akan kesini lagi. Bisa dalam jangka waktu satu bulan, dua bulan atau bahkan satu tahun."
Jorell menanggapi ucapan Mazaya.
"Kau mencoba mengatur-atur hidupku?" tanya Mazaya dengan tatapan sinis nya.
"Hanya tidak ingin orang yang kau kencani nantinya terluka. Karena aku yakin kau bahkan sampai sekarang belum bisa melupakanku. Sama seperti aku yang belum bisa melupakanmu," ucap Jorell dengan mudahnya.
Mazaya tidak merespon apapun. Ia sangat takut ia akan menjadi egois dan memikirkan dirinya sendiri. Padahal ia sudah tahu, jika berharap pada orang yang tidak selevel dengannya, akhirnya pun akan sama juga. Disuruh pergi dan menghilang.
Daripada terus dipojokkan dengan pernyataan yang lebih menjerumus ke perbincangan hati, Mazaya memilih untuk berdiri dan meninggalkan Jorell duduk disana sendirian.
Jorell menatap kepergian Mazaya itu dengan rasa sedih di hatinya.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kau menyakiti dirimu sendiri? Egois untuk kebahagiaan diri sendiri tidak apa-apa. Karena aku pun ingin egois jika tidak memikirkan perasaan mamaku. Aku ingin kita berjuang untuk mendapatkan restu darinya. Tapi, kau memilih untuk menyerah. Haruskah aku tetap berjuang sendirian? Atau aku harus merelakan mu pergi begitu saja dengan luka ini?"
Jorell bermonolog sendirian disana. Laki-laki itu pun pergi dari sana menuju ke tempat dimana ia menginap.
*
*
Mazaya sampai di rumahnya dengan wajah yang sudah tertekuk. Mario yang sudah pulang sekolah pun melihat raut wajah kakaknya itu. Ia sebenarnya penasaran ingin bertanya. Tapi, sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat. Alhasil ia hanya bisa berpamitan untuk pergi bermain bersama teman-temannya.
Mazaya masuk ke dalam kamarnya dan memikirkan perkataan Jorell yang akan pulang ke kotanya. Rasa sedih menjalar di hatinya. Ada rasa tidak rela, karena ia masih menginginkan kehadiran Jorell di sisinya.
Meski selama ini Mazaya selalu bersikap cuek dan ketus pada Jorell setelah bertemu kembali. Ia merasa senang juga karena sering bertemu dengan Jorell karena alasan mengembalikan hadiah. Setidaknya ia memiliki kenangan yang baru lagi bersama Jorell. Ia akui ia sedikit egois tentang itu.
Ia jadi teringat ketika dulu meninggalkan Jorell tanpa mengatakan apapun. Pasti sangat menyakitkan bagi laki-laki itu. Karena Mazaya yang akan ditinggal meski Jorell sudah bicara pun terasa sedihnya.
Seketika, Mazaya jadi merasa bersalah. Namun, rasa bersalahnya itu tak mampu ia utarakan ke Jorell. Ia tak mampu mengucapkan kata maaf pada laki-laki yang sudah ia tinggalkan itu.
Ia hanya bisa mengutarakan kata maafnya di dalam kamarnya sambil menangis.
"Maaf, maafkan aku, hiks ... "
*
*
__ADS_1
TBC