Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 8 - Tampar terus Bu!


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, sikap Mazaya masih sama saja cuek padanya. Padahal, Jorell selalu mencari-cari cara agar bisa menarik perhatian Mazaya. Sampai Stefani dan Joseph pun merasa kasihan pada Jorell.


"Sudahlah, jangan terus-menerus memperhatikan orang yang tidak memperhatikanmu. Nanti kau capek sendiri," saran Stefani.


"Tidak apa. Aku masih punya cukup tenaga dan mental," jawab Jorell.


"Terserah mu saja Rel. Ya, walaupun aku juga tahu Mazaya adalah wanita baik-baik. Tapi, sifat dan sikapnya sungguh jauh berbeda denganmu."


"Aku tahu," jawab Jorell.


"Ya sudahlah, aku ke pantry dulu, haus sekali rasanya."


Jorell pun mengangguk.


Kini giliran Joseph yang bertanya.


"Rel, kau ini terus menerus mendekati Mazaya karena suka atau hanya penasaran saja? Karena jujur, aku masih belum bisa menyimpulkan dari sikapmu itu."


Jorell tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Joseph itu. Padahal awalnya ia hanya penasaran saja dengan wanita cuek. Tapi, lama-lama ia tertarik juga dan semakin ingin tahu dan entah kenapa sekarang wanita itu jadi objek yang selalu menarik perhatiannya dan membuat dirinya jadi semangat untuk melakukan sesuatu. Apa rasa itu sudah termasuk dengan rasa suka?


"Rasa suka bisa timbul karena penasaran kan? Mungkin itulah yang terjadi padaku," jawab Jorell.


Joseph sedikit paham. Karena ada sedikit banyak pria yang menyukai adanya tantangan untuk menaklukan wanita. Jika menaklukan wanita yang sudah menyukainya itu sangatlah mudah dan tidak ada adrenalinnya. Berbeda jika menaklukan wanita yang memang sedari awal tidak menyukainya lalu berubah menjadi menyukainya.


"Perjuangkan saja, jika kau yakin itu benar rasa suka. Dibalas atau tidaknya rasa suka itu, yang penting sudah berusaha. Urusan nanti hati kita patah dan terluka. Akan selalu ada jalan untuk menyembuhkan luka itu."


Joseph mengucapkan itu sambil menepuk pundak Jorell lalu pergi keluar dari ruangan. Ia pun setuju dengan ucapan Joseph.


"Berjuang? Ya aku harus terus berjuang mendapatkan hati wanita cuek itu."


*


*

__ADS_1


Di suatu malam, Jorell sedang berjalan-jalan di sekitar kompleks. Di sepanjang jalan, ia bisa melihat orang yang berjalan sendirian, orang yang saling bergandengan tangan, bahkan ada juga sepasang anak muda yang berciuman di tempat umum.


Jorell hanya geleng-geleng kepala dengan anak jaman sekarang. Setidaknya jika ingin berciuman, carilah tempat yang tertutup jangan di tempat umum yang bisa ditiru banyak orang.


Sesekali, Jorell memasukan tangannya ke saku hoodie yang ia kenakan karena rasa dinginnya malam sudah menusuk ke permukaan kulitnya.


Ketika ia akan pulang ke kontrakan, tepatnya di dekat gang sempit, ia mendengar seseorang ditampar dengan begitu kerasnya.


Plakk!!!


"Uh!" Jorell jadi ngeri sendiri mendengar tamparan itu.


"Pasti sakit sekali rasanya," gumam Jorell.


Karena penasaran, ia pun melihat ke gang sempit itu. Betapa terkejutnya laki-laki itu ketika tahu Mazaya lah yang ditampar. Ingin melerai dan membantu Mazaya tapi ia urungkan ketika Mazaya memanggil wanita paruh baya yang menamparnya dengan sebutan ibu.


"Tampar terus Bu! Kalau memang menamparku adalah sebuah kebahagiaanmu. Apa belum cukup selama ini aku berkorban? Apa ibu belum puas juga membuat aku jadi seperti ini? Padahal sudah aku bilang, jangan pernah temui aku lagi! Karena kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi setelah ibu memilih pergi dengan pacar ibu. Apa belum cukup Bu? Aku sudah tersiksa fisik dan mental olehmu. Belum cukup?!"


Plakk!!!


"Dasar anak durhaka!! Aku ini ibu yang melahirkan mu! Harusnya kau terus patuh padaku! Aku hanya datang untuk meminta uang padamu, tapi kenapa kau malah mencecar ku dengan semua yang terjadi di masa lalu."


"Nyatanya, semua yang terjadi di masa lalu masih terus membekas di hatiku. Lebih baik ibu pergi saja, sebelum Mario tahu kalau ibunya adalah orang yang sudah meninggalkan anaknya demi seorang laki-laki. Cih! Murahan sekali."


"Mazaya!"


"Jangan panggil namaku! Aku merasa jijik mendengarnya dari mulutmu!" tolak Mazaya.


"Cepat berikan ibu uang!" pinta ibu Mazaya lagi.


Mazaya yang sudah jengah pun memberikan segepok uang yang ada di dalam dompetnya.


"Ambil dan jangan pernah datang kembali! Jangan temui Mario dan jangan coba-coba ibu menghasutnya. Aku tidak ingin dia jadi orang seperti diriku yang memendam rasa sakit begitu dalam."

__ADS_1


Ibu tersenyum senang ketika mendapatkan banyak uang dari Mazaya lalu pergi dari hadapan Mazaya tanpa mengucapkan terima kasih.


Mazaya menarik napas perlahan untuk meredakan emosinya. Ia tidak bisa menangis karena air matanya sudah menghilang bertahun-tahun yang lalu karena seringnya ia menangis. Bahkan ketika sedih pun Mazaya hanya bisa terdiam dan merenung. Bahkan ketika bahagia pun, terkadang ia sulit untuk mengekpresikannya. Mazaya tumbuh jadi orang yang dingin karena keadaan yang memaksanya. Masa lalu yang membuatnya jadi begini.


Setelah merasakan sedikit ketenangan, Mazaya keluar dari gang sempit itu dan berjalan pelan. Namun, ia sadar, ada seseorang yang berdiri di dekat disana.


"Gawat! Mazaya sepertinya sadar aku ada disini? Apa aku harus kabur? Atau aku sembunyi saja? Atau aku menunjukkan diri di hadapannya? Pasti dia akan malu sekali kalau aku tahu kejadian ini, kan? Oh, astaga! Aku harus bagaimana ini?"


Jorell panik dan cemas dengan pilihan-pilihan itu. Sebelum akhirnya menentukan pilihannya, Mazaya sudah lebih dulu berada di depannya.


Jorell meneguk ludahnya sendiri. Ia merasa tertangkap basah dan gugup. Keringat sebesar biji jagung pun keluar saking gugupnya.


Mazaya menatap Jorell sebentar lalu ia berjalan pergi tanpa mengatakan apapun.


Hal tersebut malah membuat Jorell bingung.


"Hah? Dia pergi begitu saja? Dia tidak ingin memarahiku karena sudah menguping? Dia tidak ingin bertanya sejauh mana aku mendengarnya tadi? Hah?"


Jorell dibuat kebingungan dengan sikap Mazaya itu. Ia bahkan sampai menepuk-nepuk wajahnya untuk menyadarkan kebingungan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi.


"Bahkan tidak ada sorot kesedihan di matamu tadi. Terbuat dari apa hatimu itu Mazaya?"


Jorell bertanya-tanya lagi seolah ada Mazaya di depannya.


Dalam jarak yang cukup jauh, Jorell berjalan di belakang Mazaya. Ia memastikan supaya Mazaya bisa pulang dengan selamat.


"Sebenarnya ada masalah apa denganmu? Kenapa kau tidak akur dengan ibumu? Terlihat sekali kau sangat membenci ibumu? Astaga! Aku jadi penasaran sekali! Tapi aku masih belum ada keberanian untuk menanyakan itu secara langsung."


Setelah memastikan Mazaya sudah benar-benar masuk ke dalam kontrakannya. Jorell masih berdiri di tempat yang sama.


"Jika saja kau membolehkan aku untuk mendekat. Aku pasti akan mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara kita."


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2