Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 20 - Ide cemerlang


__ADS_3

Sesekali Mazaya menengok samping kanan dan kirinya. Takut ada orang lain yang mendengarkan ucapannya. Namun, ia justru melihat Jorell yang menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman.


Laki-laki itu perlahan mendekat dan tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya.


"Udaranya sangat dingin ya? Tapi kau malah memakai pakaian yang tipis."


Ketika hendak memakaikan jaketnya ke tubuh Mazaya, Mazaya menolaknya.


"Tidak usah, aku tidak merasa dingin sama sekali."


Alhasil, Jorell pun tidak memakaikannya. Keduanya saling terdiam lama hingga akhirnya Jorell membuka obrolan kembali.


"Aku pikir kau benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan. Rupanya kau hanya dimutasi kerja ke kantor cabang. Licik sekali mamaku. Sudah menyakitimu tapi masih saja memanfaatkan mu."


Jorell mengatakan itu dengan tenang tanpa berapi-api. Ia teringat kembali bahwa dia di kota itu tidak akan lama dan harus kembali ke kotanya. Mungkin ia bisa meminta cuti beberapa hari lagi. Tapi apa yang bisa membuatnya bertemu Mazaya tiap harinya? Rasanya tidak mungkin, jika ia harus beralasan kebetulan saja bertemu disana. Tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Selama waktu yang ada ia akan menggunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya.


"Karena kita sudah putus. Bisakah kau kembalikan semua yang aku berikan padamu?"


Mazaya mengangkat alisnya keheranan. Ia memikirkan apa yang telah direncanakan oleh laki-laki di depannya ini.


"Aku akan mengembalikan semua hadiah yang kau berikan padaku besok," jawab Mazaya.


"Aku ingin kau mengembalikannya dengan cara jalan bersamaku dan membawa hadiah itu satu persatu."


"Kau gila ya? Hadiah darimu ada lebih dari 20," ucap Mazaya yang tidak percaya dengan apa yang diucapkan Jorell.


"Ah, begitukah? Rupanya banyak sekali," ucapnya sambil tersenyum tipis kesenangan.


"Ya lakukan saja sebanyak hadiahnya. Lagi pula hanya jalan-jalan sekitar kompleks juga tidak apa-apa," usul Jorell. Namun kemudian Jorell berucap lagi. "Tapi, sepertinya hadiah yang aku berikan padamu mahal-mahal kan harganya? Rasanya tidak setimpal jika hanya jalan-jalan sekitar kompleks kan? Bagaimana jika aku saja yang menentukannya tapi kau yang membayarnya?"


Mazaya jadi kesal sendiri. Ia seolah-olah dipermainkan oleh Jorell. Padahal tinggal memberikan hadiahnya saja secara langsung pasti akan lebih mudah.


"Banyak mau sekali. Tinggal terima langsung semuanya saja apa susahnya?"


"Tinggal menuruti semua keinginanku saja apa susahnya? Kau kan dulu membuat aku terluka. Jadi bayarannya adalah itu. Sebagai biaya kompensasi dari luka yang kau buat untukku."


"Cih! Perhitungan sekali."


"Namanya juga pebisnis. Segala sesuatu harus diperhitungkan," balas Jorell.


Alhasil dengan sangat terpaksa, Mazaya pun menerima semua permintaan Jorell tanpa tahu maksud di baliknya. Tak lain dan tak bukan, maksudnya yaitu ingin menggoyahkan hati Mazaya kembali. Dengan cara seperti itu ia bisa bertemu dengan Mazaya dan mulai melancarkan aksinya.


*

__ADS_1


*


Hari pertama, Jorell dan Mazaya berjalan-jalan di sekitar trotoar jalan. Katanya Jorell ingin tahu dan hapal jalan di sekitaran sana. Mazaya pun menyanggupinya karena memang ia tak perlu mengeluarkan biaya sambil membawa satu hadiah dari Jorell.


"Apa selama kau berada disini, kau merasa nyaman dan bahagia?" tanya Jorell.


Apa sih? Kenapa harus tanya itu. Kalau nanti aku keceplosan gimana?


"Tentu saja, disini udaranya lebih sejuk daripada di kota besar. Orang-orangnya juga ramah," jawab Mazaya.


"Tapi, sepertinya, aku tidak pernah melihat siapapun yang bersamamu kecuali laki-laki itu. Ramah yang kau maksud mungkin tidak mengganggumu, iya kan?"


Ah, mana benar lagi ucapannya. Aku kan tidak pernah berbaur disini. Ah, bukan. Memang dari dulu aku selalu membatasi diri dengan orang lain.


"Cih! Sok tahu."


Jorell malah tertawa.


"Dasar aneh!"


"Ternyata kau masih sama saja. Tidak pernah berubah. Apa hatimu juga masih sama?" tanya Jorell tiba-tiba.


Mazaya tak mau menjawabnya. Ia malah mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.


Aku tahu, kau sengaja mengalihkan pembicaraanku kan? Tapi tidak apa-apa. Pelan-pelan aku akan menggoyahkan hatimu lagi. Tunggu saja!


Keduanya pun berjalan ke tempat dimana Mazaya melihat lampion. Rupanya ketika mendekat kesana, itu bukan lampion yang sedang diterbangkan, melainkan hanya lilin yang sengaja ditutupi oleh penutup seperti lampion.


"Yah ... " Mazaya kecewa dibuatnya. Dugaannya salah.


Jorell pun menarik tangan Mazaya untuk duduk di kursi dekat sana. Karena mereka sudah berjalan cukup jauh. Kakinya sudah terasa pegal, tapi hatinya malah semakin bahagia.


"Kau tidak mau menanyakan bagaimana kabarku?"


"Untuk apa? Kau kan ada di hadapanku sekarang."


"Pembohong ulung," ucap Jorell sambil tersenyum kecut.


"Ketika aku tidak ada di hadapanmu saja, kau tidak pernah menanyakan kabarku. Kau tidak pernah membalas satu pesan pun dariku. Kau bahkan mengganti nomor ponselmu tanpa memberi tahu aku nomor barumu. Jahat sekali kan? Ya, wanita di hadapanku memang jahat dan kejam."


Jorell mengucapkan apa yang ingin hatinya ucapkan. Ia bahkan sengaja membuat Mazaya kesal dan merasa bersalah.


"Ya aku memang jahat dan kejam."

__ADS_1


Mazaya malah mengiyakan ucapan Jorell. Ia sadar, sangat sadar dengan sifatnya itu.


"Aku pikir kau akan menyangkalnya."


"Tidak."


*


*


Malam pun berlalu dengan begitu cepatnya. Keduanya sudah kembali ke rumahnya masing-masing.


Selama berada di kota itu, Jorell menginap di sebuah hotel. Karena masa cutinya udah berakhir. Jorell menelpon kakaknya untuk meminta cutinya diperpanjang hingga 1 bulan lamanya.


"Kak Jef, aku akan memperpanjang masa cutiku. Urusanku di kota ini jadi makin banyak. Jadi, aku mohon sekali padamu, tolong kerjakan pekerjaanku ya. Kalau kau kewalahan, aku akan kerjakan sebagian dari sini."


Jefrey yang bisa menebak alasan Jorell pun, mengiyakan saja permintaan adiknya. Toh, memang itu tujuannya membuat Jorell berada di kota itu.


"Iya, urus saja urusanmu yang ada disana. Kalau perlu, jangan pulang sebelum selesai."


"Baik, dengan senang hati," jawab Jorell.


"Urusan mama, biar aku yang bertanggungjawab. Kau tidak perlu memikirkan itu."


"Kau memang kakak terbaik. Sudah dulu ya kak Jef." .


Sambungan telepon pun berkahir. Jorell senang sekali rasanya. Ia bisa menghabiskan waktu bersama Mazaya lagi meski hanya sesaat.


"Ah, aku harus menyusun semuanya. Pertemuan pertama sudah dilakukan. Untuk pertemuan kedua, kira-kira enaknya pergi kemana ya? Ah, pergi ke pantai saja kalau begitu."


Jorell terus bicara sendiri sambil menentukan tempat yang akan dikunjungi selama total hadiah yang diterima Mazaya.


Mata Jorell tertuju pada sebuah ikat rambut berwarna maroon yang ada di mejanya.


Jorell senyum-senyum sendiri ketika mengingat kejadian itu. Dimana ia dengan sengaja nya melepaskan ikat rambut Mazaya dan membuangnya begitu saja. Karena ingin melihat Mazaya memakai ikat rambut pemberiannya.


"Ah, aku ingin sekali, melihat Mazaya mengurai rambutnya."


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2