Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 6 - Tolong didik anak ibu dengan baik!


__ADS_3

Jorell menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang kamarnya. Ia merasa lelah dan pegal karena seharian menyetir dari luar kota.


"Ah, lelah sekali." Jorell melepaskan sepatu dan kaos kakinya dengan posisi sambil berbaring.


Sesekali ia berguling di tempat tidurnya sambil meraih ponselnya yang berbunyi.


"Halo ma, ada apa?"


Rupanya Margareth lah yang menelpon Jorell.


"Pulang!" perintah Margareth.


"Aku belum bosan ma. Nanti aku akan pulang dengan sendirinya ke rumah."


"Huh! Pulanglah malam ini. Kita makan malam bersama di rumah. Tidak ada penolakan."


"Hari ini aku lelah sekali ma. Besok saja aku akan pulang ke rumah dan makan malam bersama."


Karena penolakan Jorell, sambungan telepon pun berhenti karena dimatikan oleh Margareth.


Jorell menarik napasnya perlahan. Walau begitu Jorell sangat menyayangi Margaret. Dan Jorell pun tahu Margareth sangat menyayangi dirinya, akan tetapi ia terlalu sibuk dan selalu membatasi ruang gerak Jorell. Bahkan semasa sekolah menengah dulu, Jorell dilarang untuk berteman dengan orang biasa. Margareth hanya mengizinkan Jorell berteman dengan orang yang sepadan dengan dirinya.


*


*


Berbeda dengan Mazaya, meskipun lelah dan baru pulang dari luar kota. Wanita itu malah mencuci piring dan membersihkan rumahnya.


"Kak, kenapa dibersihkan? Padahal aku yang akan membersihkan sendiri," ucap Mario adik dari Mazaya.


"Tidak enak dilihat. Jadi kakak membersihkannya. Gimana sekolahmu?"


"Baik-baik saja," jawab Mario.


Mario ini masih sekolah SMA di salah satu sekolah favorit. Ia bukan anak pintar, bukan juga anak bodoh. Bisa dibilang kadar kepintaran Mario ini standar.


"Tidak ada yang mengejek atau mengganggumu kan?" tanya Mazaya lagi.


Ya, namanya juga sekolah favorit, pastinya banyak anak orang kaya yang bersekolah disana. Mazaya hanya takut adiknya diganggu dan tidak dihargai berada di sekolah tersebut.


"Tidak," jawab Mario.


"Jangan berbohong pada kakak! Kau itu tidak pandai berbohong Rio."


Niat hati ingin membuat kakaknya tidak khawatir. Tapi, kebohongannya sudah terlihat oleh kakaknya. Mario pun menceritakan semua hal yang terjadi di sekolah. Tentang dirinya yang selalu dihina dan diganggu oleh perundung di sekolah karena berasal dari keluarga rendahan. Saking seringnya diganggu, Mario pun jadi kesal sendiri dan mulai melawan si perundung itu dengan mengajar wajahnya. Dan terjadilah pertengkaran setelah itu. Hingga ia mendapatkan surat peringatan dari sekolah.

__ADS_1


Awalnya Mario ingin menyembunyikan itu dari kakaknya tapi percuma, pasti dengan sendirinya kakaknya akan tahu.


"Pantas saja kakak melihat memar di rahangmu. Kapan pertemuan walinya?" tanya Mazaya.


"B-besok," jawab Mario.


"Baiklah, kakak akan datang ke sekolahmu."


Setelah itu, Mazaya masuk ke dalam kamarnya. Mario jadi merasa bersalah karena sudah mengecewakan kakaknya. Padahal ia sudah berjanji akan bertahan dan tidak berbuat ulah di sekolah supaya kakaknya bisa bangga. Terkadang ia juga merasa iri dengan kepintaran kakaknya yang tidak perlu bersusah payah belajar sepertinya.


"Maafkan aku kak."


*


*


Esok harinya di kantor, Jorell datang pagi-pagi supaya bisa mengucapkan selamat pagi pada Mazaya. Namun, sampai waktu bekerja tiba, Mazaya tidak muncul juga di perusahaan.


Jorell jadi khawatir Mazaya sakit karena kelelahan tiga hari di luar kota. Ia bahkan terus menghubungi nomor Mazaya saking cemasnya. Namun tak ada satu pun jawaban dari sana.


"Kenapa tidak diangkat sih? Setidaknya kalau ada apa-apa dia bisa menghubungiku kan? Kita kan sekantor, sekompleks kontrakan juga."


Tiba-tiba Stefani datang dan terus melihat wajah Jorell yang cemas.


"Kenapa wajahmu begitu?"


"Oh itu. Dia izin sampai istirahat jam makan siang. Katanya sih ada urusan. Tadi dia minta tolong padaku untuk menyampaikannya ke direktur."


"Urusan apa?" tanya Jorell yang penasaran.


Stefani mengangkat bahunya tidak tahu.


"Kenapa dia tidak menghubungiku saja?" tanya Jorell pada Stefani.


"Jangan tanya aku lah," balas Jorell.


Stefani lalu duduk di tempat kerjanya. Sementara Jorell berdiri dan menerka-nerka urusan apa yang membuat Mazaya sampai harus izin bekerja.


"Haish! Aku jadi penasaran karenanya."


Jorell pun akhirnya duduk di meja kerjanya dengan isi kepalanya yang bertanya-tanya.


*


*

__ADS_1


Di sisi Mazaya, wanita itu datang ke sekolah Mario untuk menghadiri pertemuan wali murid akibat kejadian perkelahian adiknya dengan seseorang.


Sesampainya di ruang konseling, Mazaya duduk dengan sopan sambil menunggu wali murid dari si perundung datang.


Tak lama wali murid itu pun datang dengan berapi-api sambil menarik tangan anaknya masuk ke ruangan.


Ibu itu datang untuk mengadu dan meminta kepala sekolah untuk menghukum anak yang sudah membuat wajah anaknya babak belur hingga terlihat bekas lebam disana.


"Pokoknya saya tidak mau tahu! Anak itu harus dihukum! Kalau perlu dikeluarkan saja sekalian. Anak brandal kok bisa-bisanya masuk ke sekolah elit dan favorit begini! Bisa-bisa rusak citra sekolah ini!" ucap ibu itu berapi-api.


"Lihat ini pak! Wajah tampan anak saya jadi jelek begini! Cepat jelaskan bagaimana anak itu memukulmu!" pinta sang ibu pada anaknya.


"Mario memukulku dengan membabi buta karena aku tidak mau memberikan jawaban dari soal tugas yang diberikan guru kala itu."


"Cih!" Mazaya berdecak dan menatap kedua orang yang tidak tahu diri itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Siapa kau? Beraninya menyepelekan ku!?"


"Saya kakaknya Mario. Kenapa memangnya?" jawab Aura.


"Oh, kau kakak dari anak berandal itu! Pantas saja adiknya tidak sopan. Kakaknya juga begitu. Lebih baik keluarkan saja anak itu dari sekolah."


"Ibu dan anak sama saja. Sama-sama pandai bicara dan mengarang. Saya malah bersyukur wajah anak anda babak belur oleh adik saya. Dia memang pantas mendapatkannya. Seenaknya saja merundung orang lain. Kalau adik saya dikeluarkan dari sekolah ini harusnya anak anda juga dikeluarkan. Karena keduanya sama-sama membuat kegaduhan."


"Sudah-sudah, tolong redakan emosi kalian. Saya sudah mencaritahu akar permasalahannya. Dan hukuman yang tepat adalah keduanya akan dihukum untuk membersihkan seluruh toilet sekolah dan menggunting rumput di lapangan."


"Tidak bisa begitu dong pak! Anak saya tidak salah apapun. Harusnya anak itu saja yang dihukum."


"Keputusan saya tidak bisa diganggu gugat. Silahkan kalian keluar dari ruangan ini!"


Ibu dan anak itu keluar dengan kesal dan marah. Mazaya keluar dengan elegannya seolah tak terjadi apa-apa di dalam.


Lalu langkah Mazaya terhenti, ketika ibu itu menghalangi jalannya.


"Aku tidak terima semua ini!"


"Tidak terima apanya Bu? Sudah jelas-jelas anak ibulah yang memulai duluan. Ia mengganggu adik saya hingga ia kesal dan memukul anak ibu. Lalu ibu mengatakan jika anak ibu adalah korbannya? Wah hebat sekali!"


Mazaya bertepuk tangan. Lalu melanjutkan ucapannya lagi.


"Padahal adik saya pun ada memar di wajahnya karena ulah anak ibu. Seharusnya kalau dia korban, wajah adik saya masih tampan tanpa ada memar. Jadi, tolong didik anak ibu dengan baik!" ucap Mazaya lalu berjalan pergi dari sana.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2