
Margareth kini sudah berada di rumahnya kembali, setelah beberapa hari berada di luar kota. Jorell bertatapan dengan sang mama dan memintanya untuk berbicara.
"Ma, aku mau bicara."
"Bicara apa? Tentang perusahaan? Apa ada kendala selama mama pergi?"
Jorell menggeleng.
"Lalu?"
"Aku tahu apa yang mama lakukan di luar kota. Mama mengancam Mazaya lagi kan? Cukup Ma! Jangan buat hidup Mazaya susah lagi. Aku yang salah. Aku yang datang menemuinya bukan dia. Harusnya aku yang dihukum bukan dia."
Margareth tersenyum kecut. Karena rupanya sang anak masih saja menyukai Mazaya.
"Baiklah, karena kau bilang mau dihukum. Mama kabulkan. Kau mama kurung di rumah, tidak boleh keluar sama sekali. Mengenai pekerjaan semuanya akan dibawa ke rumah. Untuk pertemuan di luar nantinya akan diwakilkan oleh kakakmu."
Setelah mengatakan itu Margareth pergi ke dalam kamarnya. Ia melemparkan vas bunga yang bertengger di mejanya. Rasa kesal dan amarah mulai menguasai dirinya karena apa yang ia harapkan malah berantakan.
Meski begitu, apa yang dikatakannya pasti terjadi. Terbukti dengan Jorell yang sekarang diseret masuk ke dalam kamarnya lalu pintunya dikunci dari luar oleh pengawal. Pintu tersebut akan terbuka, jika sekretaris jorel datang juga pelayan yang mengantarkan makanan.
Jorell yang berada di dalam melihat ke arah jendela yang memperlihatkan halaman rumahnya. Ia menghela napas. Sepertinya rencananya untuk memberontak sang mama akan sulit.
__ADS_1
*
*
Hari demi hari, bulan demi bulan, Jorell berada di dalam kurungan. Jenuh dan seperti tak memiliki tujuan. Bahkan akses untuk mencari informasi tentang Mazaya saja sudah terputus. Ia tak tahu lagi bagaimana keadaan wanita yang dicintainya. Bahkan sang kakak saja hanya diperbolehkan masuk hanya 1 jam dalam sehari.
Jefrey hanya bisa memandangi pintu kamar adiknya dengan sedih. Ia benar-benar marah dan kecewa pada sang mama yang terlalu memaksakan kehendaknya. Tapi, kalau ia membantu sekarang, ia juga takut Jorell akan mendapatkan hal yang lebih dari ini.
"Malangnya kau Jorell. Tapi, kakak janji, kakak akan tetap mengawasi Mazaya dari jauh untukmu."
Jefrey melangkah menuruni tangga dan melihat mamanya yang makan sendirian di meja makan yang besar. Jefrey ikut duduk disana dan mulai berbicara.
"Sampai dia sendiri yang meminta mama untuk tidak mengurungnya. Lagian adikku sendiri yang meminta dihukum. Ya mama turuti saja keinginannya."
"Tapi mama tetap saja mengganggu Mazaya, itu tidak adil ma. Padahal Jorell rela dikurung di rumah."
"Cih! Rupanya kamu selalu mengawasi wanita itu juga. Apa Jorell yang memintamu?"
"Itu atas kemauanku sendiri. Jorell tak pernah meminta apapun dariku. Dia bahkan menuruti semua keinginan mama."
"Kecuali tentang wanita itu."
__ADS_1
Margareth menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya hingga habis dan mengelap mulutnya dengan tisu.
"Kalau hanya ingin membicarakan tentang wanita itu. Mama tidak mau! Tidak penting!"
"Ma! Mama!" teriak Jefrey ketika mamanya berjalan keluar dari rumah entah kemana.
*
*
Di dalam kamarnya, ketika pekerjaannya sudah selesai semua. Jorell mulai menggambar wajah Mazaya di kertas kosong di hadapannya. Membayangkan senyum manis Mazaya yang pernah wanita itu perlihatkan.
Satu persatu bagian wajah Mazaya sudah tergambar dengan sempurna. Hingga di bagian terakhir yaitu rambutnya.
"Hanya ini yang bisa aku lihat sekarang. Semoga kau disana, menjalani hidup lebih baik. Entah kenapa sekarang aku seperti tak memiliki keberanian lagi untuk berjalan ke arahmu. Aku terlalu takut untuk menyakiti dan menyusahkan mu lagi. Aku akan pergi."
*
*
TBC
__ADS_1