Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 18 - Terlalu sulit untuk dilupakan


__ADS_3

Di sisi Mazaya, wanita itu menjalani hari-harinya seperti dulu lagi. Ia kembali pada titik awal yaitu menjadi wanita cuek, dingin dan kaku.


Sampai bekerja di kantor cabang pun, tak ada satu orang pun yang berani menegurnya. Bahkan semua orang tampak menghindarinya. Tapi, Mazaya tidak terganggu akan hal itu. Ia malah merasa lebih baik memang begitu. Jadi berbeda dan lalu tidak jadi pusat perhatian.


Hingga di suatu hari, Mazaya duduk di tepi danau yang sepi setelah pulang bekerja. Tak ada seseorang pun disana. Mazaya menumpahkan isi hatinya tanpa takut diketahui oleh orang lain.


"Arghhhhh!! Jorell aku mencintaimu!"


"Aku merindukanmu! Aku menyesal meninggalkanmu!"


Mazaya jujur pada hatinya sendiri. Ia menyesal memilih keputusan itu. Karena ia berpikir ia tidak akan semenyedihkan sekarang. Nyatanya, ia hanya terlihat tegar di luar dan selalu menangis tengah malam setelah putusnya hubungan dengan Jorell.


Rasa cintanya selalu tumbuh dan berkembang meski tidak dipupuk dengan pertemuan. Rasa rindunya semakin meradang, diiringi dengan tekat rasa ingin bertemunya. Namun, sangat tidak mungkin ia kembali lagi kesana. Ia sudah menetap di tempat sekarang.


Tiba-tiba Mazaya menangis. Ia mengingat lagi kenangan manisnya bersama Jorell.


"Hiks, hiks, semuanya terlalu sulit untuk dilupakan. Bahkan tak ada satu pun kenangan buruk saat bersamamu."


Mazaya mengambil kerikil di sekitarnya dan melemparkannya ke danau. Ia teringat kembali pertemuannya di saat itu ketika Jorell menawarkan diri untuk jadi sandarannya.


"Harusnya aku terus bersandar padamu. Tapi, dengan bodohnya aku malah memilih pergi dan terjebak oleh keputusanku sendiri, hiks."


Mazaya melempar lagi kerikilnya jauh-jauh.


"Aku bahkan sekarang tidak pernah lagi pergi ke taman bermain, pantai atau ke tempat yang bisa mengingatkan aku padamu. Tapi, kenapa aku malah jadi semakin tak bisa melupakanmu? Apa yang sebenarnya kau tanamkan di dalam hatiku?!"


Mazaya ngedumel, seolah-olah ada Jorell di hadapannya. Ia menyalahkan Jorell karena tidak bisa menikmati hidupnya.


Kesepian, kesendirian, itu yang selalu Mazaya rasakan sekarang.


Di saat Mazaya tak lagi bersuara, tiba-tiba terdengar tawa seseorang dengan begitu kerasnya.


"Hahahaha."


Mazaya langsung berdiri dan mengamati sekitarnya. Setahunya ia hanya sendirian disana.


Tiba-tiba seseorang muncul di balik semak-semak. Pantas saja ia merasa hanya sendiri, rupanya orang itu bersembunyi disana.


"Kau memang bodoh! Kalau cinta kenapa memilih pergi? Takut menghadapi masalah? Jika terus menghindar selamanya masalah itu tidak akan bisa dihadapi."

__ADS_1


Laki-laki asing itu berbicara seolah ia tahu segalanya dan pernah mengalaminya.


"Melupakan itu memang bukan hal yang mudah. Tapi jika sudah bertekad, semuanya pasti akan terwujudkan. Kau hanya banyak bicara tanpa benar-benar berusaha melupakan."


"Cih! Dasar tukang nguping!"


"Hey wanita cengeng! Aku tidak menguping! Aku hanya tidak sengaja mendengar seorang wanita berteriak dan tiba-tiba menangis hingga mengganggu tidurku disini. Kau yang tiba-tiba datang," ucap laki-laki asing itu tidak mau disalahkan.


"Sama saja!" ucap Mazaya yang masih menganggap laki-laki di hadapannya ini orang yang tidak sopan suka menguping pembicaraan orang lain.


"Siapa namamu?" tanya laki-laki itu.


"Namaku tidaklah penting untuk kau tahu."


"Memang, tapi aku akan terus mengingatnya karena kau wanita cengeng!"


Mazaya malah pergi dari sana tanpa memperdulikan laki-laki itu.


Laki-laki itu tersenyum penuh makna. Sepertinya hidupnya akan jadi menarik jika bisa menaklukan hati wanita tadi. Laki-laki asing itu bernama Liam Pahlevi. Seorang pewaris dari perusahaan Pahlevi Corp.


*


*


Mazaya kini duduk di tempat yang sudah direservasi oleh pihak perusahaan klien. Ia menunggu sambil memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang terdengar. Mazaya pun mendongak dan melihat siapa yang datang. Laki-laki asing kemarin beserta sekretaris yang selalu saling bertukar pesan dengannya.


Apa jangan-jangan dia CEO dari Pahlevi Corp?


"Hai, akhirnya kita bertemu lagi wanita cengeng!" ucapnya sambil tersenyum tipis.


Mazaya mendengus sebal. Sementara si sekretaris malah dibuat bingung karena sepertinya bosnya dan kliennya sudah saling mengenal.


"Nona Mazaya sudah mengenal bos saya?" tanya si sekretaris. Mazaya menggeleng.


Tapi, si bos malah menjawab lain.


"Dia ini wanita cengeng Sa. Aku kemarin bertemu dengannya hahaha."

__ADS_1


"Ah begitu. Silahkan perkenalkan diri dulu, karena ke depannya kita akan saling bertemu," ucap Disa sekretaris dari Liam.


"Mazaya Dewangga, karyawan bagian desain dari Living Group," ucap Mazaya lalu menjulurkan tangannya.


"Liam Pahlevi. Meski aku hanya memperkenalkan nama, kau pasti tahu siapa aku," jawabnya dengan percaya diri.


Cih! Pede sekali! Dia kira aku orangnya sepenasaran itu dengan orang lain kali ya?


Mazaya mengejek dalam hatinya.


Mereka bertiga pun membicarakan tentang program kerjasama yang akan dilakukan oleh dua perusahaan besar itu. Setelah berbincang cukup lama, kesepakatan pun didapatkan. Liam meminta sekretarisnya untuk pergi duluan, sementara dirinya ingin mengobrol lebih lama dengan Mazaya.


"Akhirnya aku tahu namamu juga. Kau bekerja di perusahaan Living Group rupanya."


Mazaya menatapnya sedikit sinis karena masih mengingat kejadian kemarin.


"Ayo kita berteman saja. Daripada isi hatimu aku bongkar ke rekan kerjamu yang lain. Aku punya banyak kenalan di perusahaan itu lho," ancam Liam.


Mazaya jadi kesal dibuatnya. Andai saja ia tidak asal berteriak dan mencurahkan isi hatinya, pasti orang asing ini tidak tahu apapun tentangnya. Bahkan yang memusingkan dirinya adalah ia sampai menyebut nama Jorell ketika berteriak kemarin. Bisa dipastikan Liam akan tahu siapa Jorell itu. Alhasil, ia menerima pertemanan itu dengan berat hati.


Namun, pada kenyataannya, pertemanan itu terjalin sangat baik. Karena Liam orangnya banyak bicara seperti Jorell. Jadi, Mazaya merasa nyaman untuk menceritakan banyak hal padanya. Mazaya juga terus-menerus menceritakan tentang kisah cintanya yang sudah kandas tapi masih terasa indah bagi Mazaya.


Liam yang awalnya antusias mendengar curahan hati Mazaya, lama-lama jadi bosan juga karena yang diceritakan adalah Jorell dengan sikap perhatiannya. Ketampanan laki-laki itu, hingga kemampuan laki-laki itu dan juga kencan keduanya. Rasanya hatinya jadi sedikit iri pada laki-laki itu yang dipuji sampai sebegini nya oleh Mazaya.


"Kau tidak lelah terus menceritakan laki-laki itu padaku? Secinta itu kah?" tanya Liam.


"Apa terdengar seperti itu?" Mazaya malah balik bertanya.


"Semua orang akan berpikir begitu. Karena kau terus memujinya. Cih! Bahkan kau tidak pernah memujiku yang selalu mendengarkan ceritamu."


"Ye, kan kau sendiri yang menawarkan diri. Kenapa sekarang jadi sewot? Aneh!"


Liam jadi mendengus sebal. Ia tahu kalau dirinya hanya dianggap teman oleh Mazaya. Laki-laki itu juga tahu siapa yang dicintai Mazaya. Tapi, ia ingin sedikit memiliki ruang di hati Mazaya. Wanita yang membuat hidupnya jadi menarik untuk dilewati.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2