
Dua bulan kemudian, Jorell mengunjungi sebuah pameran lukisan di suatu tempat. Ia pergi kesana seorang diri. Ia bahkan mengambil waktu cuti beberapa hari untuk menikmati waktunya disana. Hanya kakaknya lah yang tahu kalau ia ada disana.
Sebenarnya kakaknya lah yang membuat Jorell kesana dengan alasan pameran lukisan. Padahal yang sebenarnya terjadi, kakaknya ingin mempertemukan Jorell dan Mazaya disana. Pameran lukisan hanya sebagai alibi saja.
Jefrey gregetan dengan Jorell dan Mazaya yang sama-sama tidak melakukan apapun. Padahal saling merindu.
Setelah puas menikmati pameran lukisan, Jorell berjalan-jalan di kota itu dengan berjalan kaki.
Angin yang bertiup kencang, membuat daun-daun berguguran. Di saat itu juga, Jorell melihat wanita yang dirindukannya dari kejauhan. Ia terus berjalan ke arah wanita itu dan berhenti di hadapannya. Membuat Mazaya hanya mampu terdiam.
"Hai, sudah lama tidak bertemu," sapa Jorell dengan senyum manis yang selalu diperlihatkan laki-laki itu dulu.
Mazaya tidak balik menyapa, ia malah melengos pergi dari sana. Hal itu, membuat Jorell teringat kembali pada Mazaya yang dulu cuek, dingin dan kaku. Tapi, Jorell malah mengikuti Mazaya dari belakang.
Karena merasa diikuti, Mazaya pun membalikkan tubuhnya.
"Jangan mengikuti ku," larang Mazaya.
"Siapa yang mengikuti mu? Aku hanya ingin berjalan-jalan di sekitar sini," jawab Jorell dengan senyum penuh artinya.
Hal itu membuat Mazaya kesal dan berjalan menjauh dari Jorell. Namun, lagi-lagi Jorell mengikuti Mazaya.
"Apa? Mau bilang hanya ingin jalan-jalan lagi? Kenapa tidak ke arah selatan atau barat? Kenapa harus mengikuti aku?" tanya Mazaya yang kesal.
Jorell hanya mengulum senyum. Berbulan-bulan dia menyibukkan diri dan jarang tersenyum, hanya melihat Mazaya kesal saja sudah membangkitkan rasa bahagianya. Seolah-olah Mazaya adalah pemantik rasa bahagia itu.
"Orang aneh! Dimarahi malah tersenyum."
Kali ini, ketika Mazaya akan pergi lagi, tangan Jorell menahannya. Ia malah membawa Mazaya untuk duduk di dekat sana.
"Mari bicara," ajak Jorell.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku sudah mendengar semuanya dari mamaku. Katanya kau memilih uang dan pergi daripada terus di sisiku."
Mazaya tersenyum kecut mendengarnya.
"Tapi, aku tidak akan marah padamu. Aku yakin, kau pun ada alasan untuk itu. Iya kan?"
Mazaya mengangguk. Rasanya ia ingin sekali memeluk laki-laki di depannya ini.
Aaaaa, kenapa dia tidak marah padaku? Ya, aku memang tidak ingin dia benci aku. Tapi, kenapa dia harus baik sekali sih? Aku jadi semakin cinta kan jadinya.
__ADS_1
"Asalkan kau tidak mencintai pria lain, aku akan memaafkan mu."
Walau begitu, tetap saja kita tidak bisa bersama. Ada tembok besar yang menghalanginya. Dan aku tidak siap menghadapinya. Aku lebih memilih untuk pergi lagi. Maafkan aku yang tidak berani mengambil sikap. Aku hanya berani bicara di belakang dan diam di depanmu.
"Ada lagi yang ingin dibicarakan?" tanya Mazaya pada Jorell.
Jorell menggeleng.
"Baiklah, aku pergi. Aku ada urusan."
"Eh, belum selesai," ucap Jorell yang tidak ingin Mazaya pergi. Ia masih belum puas untuk bertemu Mazaya.
Tiba-tiba seorang laki-laki muncul dan mengajak Mazaya jalan-jalan. Hal itu membuat Jorell cemburu dan menatap laki-laki itu tajam.
Siapa laki-laki itu? Kenapa seenaknya mengajak jalan Mazaya di hadapan aku?
Laki-laki itu tidak memperdulikan bagaimana raut wajah Jorell. Ia langsung pergi begitu saja dengan menarik Mazaya dengan tangannya.
Jorell merasakan api cemburu yang mulai membara. Dadanya terasa sesak.
"Apa kau sudah menemukan laki-laki lain? Kenapa kau bisa dekat dengannya? Bahkan kau tidak menolak sedikit pun genggaman tangannya? Aih! Aku selalu selalu mudah kesal jika itu menyangkut hatiku."
*
*
"Aku tidak akan marah kau menggenggam tanganku begitu saja lalu pergi. Tapi, aku tidak suka, jika terlihat seolah-olah aku adalah milikmu."
"Harusnya kau berterimakasih padaku. Karena aku telah membantumu untuk mengetahui apa isi hatinya. Apa masih ada cinta untukmu atau tidak? Kau bisa melihat raut wajahnya tadi kan? Kau bisa menyimpulkannya sendiri kan? Atau harus aku yang bilang? Benar, dia kan mantan kekasihmu? Aku bisa melihatnya, cinta di matamu dan matanya yang masih mendamba."
Mazaya terdiam. Ia membenarkan semua ucapan Liam. Mazaya tidak menyangka akan bertemu secepat ini dengan Jorell. Tapi, ia senang mengetahui bahwa Jorell baik-baik saja.
"Sebenarnya aku tidak menyangka, jika mantan kekasihmu adalah Jorell yang aku kenali namanya. Tapi, dia kini adalah seorang CEO di perusahaan Living Group."
Mazaya tahu itu. Jadi semakin jauh saja jaraknya.
"Kau tidak ingin kembali padanya?" tanya Liam.
Mazaya terdiam lalu menggeleng.
"Bodoh! Sudah seperti ini saja kau masih tidak mau berjuang. Kalau begitu lupakan saja dia sekalian. Lalu jalinlah asmara bersamaku," ajak Liam.
__ADS_1
Mazaya memukul lengan Liam dengan sedikit keras.
"Jangan becanda."
"Hiii, apanya yang becanda? Aku serius. Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu Mazaya. Aku mendengarkan semua isi hatimu. Aku selalu datang jika kau butuhkan. Apa kau pikir laki-laki mau melakukannya tanpa cinta? Jawabannya tidak Mazaya. Tidak pernahkah kau menganggap semua itu?"
Mazaya agak terkejut mendengarnya.
"L-liam ... "
Ucapan Mazaya terpotong oleh ucapan Liam lagi.
"Iya aku tahu, kau mencintainya. Kau tidak mungkin melihat ke arahku. Tapi aku menyatakan perasaanku karena ingin kau tahu saja. Jika kau sudah menyerah dengan perasaanmu itu. Datanglah padaku!"
Setelahnya, Liam langsung pergi dari hadapan wanita yang dicintianya. Mazaya yang jadi serba salah. Ia menganggap Liam sebagai temannya yang selalu ada untuknya. Tapi ternyata, Liam justru menganggap dirinya lebih dari sekedar teman. Lantas, setelah ini sikap apa yang ahrus Mazaya perlihatkan di depan Liam? Ia bingung dan tidak tahu bagaimana.
*
*
Esok harinya, Mazaya melakukan aktivitas seperti biasa. Wanita itu menjalani harinya seolah tak pernah terjadi apapun sebelumnya agar ia bisa fokus.
Malam menjelang, Mazaya duduk di taman sendirian dengan pencahayaan lampu yang minim. Ia sesekali menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Kau memang pembohong yang hebat! Hahaha," ucapnya lalu tertawa.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan Mazaya?" Mazaya bertanya pada dirinya sendiri.
"Jujurlah pada hatimu. Kuatkan tekadmu. Kemana Mazaya yang dulu selalu berapi-api? Cih! Kau pengecut Mazaya!"
Mazaya mengejek dirinya sendiri karena tak mampu jujur dengan hatinya.
Lagi dan lagi ia menarik napasnya dan membuangnya.
Sesekali Mazaya menengok samping kanan dan kirinya. Takut ada orang lain yang mendengarkan ucapannya. Namun, ia justru melihat Jorell yang menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman.
*
*
TBC
__ADS_1