Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 13 - Memilih sadar diri dan menjauh


__ADS_3

Jorell tidak tahu, jika aktivitasnya selalu diawasi oleh seseorang suruhan dari Margareth. Orang itu selalu melaporkan apapun pada Margareth termasuk tentang hubungannya dengan Mazaya.


"Ini Nyonya," ucap si mata-mata sambil menyerahkan foto-foto kebersamaan Jorell dan Mazaya. Bahkan foto terakhir adalah foto Mazaya dan Jorell yang berciuman.


"Kau boleh pergi."


"Baik Nyonya."


Margareth tidak bisa tinggal diam begitu saja. Ia segera bertindak dengan mencari semua informasi tentang Mazaya. Setelah menemukan informasinya, dapat disimpulkan bahwa Mazaya adalah wanita dari kalangan biasa. Tapi Margareth juga menemukan bahwa Mazaya adalah wanita yang berbakat dan memiliki kinerja yang bagus di perusahaan.


Helaan napas terdengar dari Margareth. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir kenapa anaknya bisa mencintai wanita seperti Mazaya. Apa yang diharapkan dari wanita yang tidak memiliki latar belakang keluarga yang bagus? Yang ada hidupnya nanti akan sengsara. Itulah yang dipikirkan Margareth.


*


*


Esok harinya di kantor, Mazaya terus senyum-senyum mengingat ciuman semalam. Bahkan ia memegang bibirnya terus-menerus.


Aaaaa, kenapa aku jadi terus memikirkan ciuman itu sih? Padahal itu kan bukan untuk pertama kalinya untukku.


Ya, sebelum-sebelumnya Mazaya pernah berpacaran dengan seorang pria sebelum dengan Jorell. Namun, kisahnya harus kandas karena laki-lakinya sangatlah toxic, dan playing victim.


Mazaya mencoba untuk fokus kembali pada pekerjaannya. Di saat sudah fokus, ada sebuah panggilan dari telepon kantor. Intinya, Mazaya disuruh menghadap ke ruangan Presdir oleh sekretarisnya.


Hal itu membuat Mazaya bertanya-tanya. Apa yang ingin dibicarakan Presdir dengannya? Bukankah untuk urusan pekerjaan harusnya tidak ada hubungannya dengan Presdir? Mazaya jadi berpikir keras karena itu. Namun, ia akan tetap menemui Presdir di ruangannya.


Kini Mazaya sudah berada di depan ruangan Presdir. Ia sangat gugup dan gelisah. Karena ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan Presdir dan bertemu dengan Presdir secara langsung.


Pintu pun Mazaya buka perlahan. Ia masuk kesana lalu melihat Presdir yang duduk di singgasananya dengan elegan.


"Duduk!" perintah Margareth.


Mazaya pun mengikuti perintah Margareth.


"Saya tidak akan bicara panjang lebar. Nanti sepulang kerja. Datanglah ke restoran Green. Ada hal yang ingin saya bicarakan denganmu."


"Baik Bu Presdir."

__ADS_1


"Kau boleh kembali."


Alhasil, Mazaya pun keluar dari ruangan Presdir dengan ribuan tanya di kepalanya. Kenapa mengajaknya bertemu di luar? Kenapa tidak bicarakan saja di kantor?


*


*


Di restoran Green. Margareth dan Mazaya duduk saling berhadapan.


Sebelum bicara, Margareth lebih dulu memperlihatkan foto kedekatan Jorell dan Mazaya.


"Apa kau sungguh tidak tahu siapa laki-laki ini? Laki-laki yang menjadi staf di tim desain yang kau pimpin?" tanya Margareth.


Mazaya menggeleng.


"Jorell Livingston, dia adalah anak keduaku. Pewaris dari perusahaan Living Group."


Mendengar fakta itu, Mazaya terkejut. Ia tidak pernah tahu identitas asli Jorell. Rupanya Jorell adalah salah satu pewaris di Living Group sekaligus anak dari pimpinan di perusahaan yang ia bekerja disana. Ia bahkan baru sadar sekarang, kalau selama ia dan Jorell berpacaran hanya dirinya lah yang sering bercerita tidak dengan Jorell.


"Maksud dan tujuanku memintamu bertemu di luar pekerjaan adalah karena aku ingin berbicara sebagai seorang ibu bukan sebagai seorang pimpinan. Aku sudah tahu tentang hubunganmu dengan anakku. Sebagai seorang ibu, aku tidak akan merestui hubungan kalian berdua. Karena jaraknya terlalu jauh. Kau hanya wanita yang berasal dari kelas bawah. Sementara anakku? Di ada di kelas tertinggi. Sangat-sangat tidak cocok untuk bersatu. Maka dari itu, putuslah dengan Jorell."


"Sebelumnya saya ingin berterimakasih pada anda Bu Presdir. Karena anda, saya jadi tahu kalau Jorell adalah anak anda. Tapi, mengenai hubungan saya dengan Jorell, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda. Kami saling jatuh cinta tanpa paksaan."


"Kau pasti tahu, apa yang aku khawatirkan sebagai seorang ibu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku. Jadi, putuslah dengan anakku. Tinggalkan dia sejauh-jauhnya. Kau harus mengundurkan diri dari kantor. Mengenai pekerjaanmu nanti, aku akan memindahkan mu ke kantor cabang. Karena sebagai seorang pimpinan, aku sangat mengakui kinerjamu dengan baik," pinta Margareth lagi sambil memberikan sebuah cek uang.


Mazaya tersenyum miris melihatnya. Rupanya apa yang dilihatnya di drama-drama, kini terjadi padanya di dunia nyata. Tapi, daripada menolak, Mazaya lebih memilih menerima uang itu.


"Baik, saya akan turuti perintah anda. Saya akan memutuskan Jorell dan pindah ke kantor cabang."


Margareth awalnya terkejut, karena Mazaya tidak menolak uang itu dan malah menerimanya.


"Rupanya kau tidak mencintai anakku," ucap Margareth ketika Mazaya menerima uang pemberiannya.


"Cinta saja tidak cukup. Saya hanya berpikir realistis. Anda sendiri pasti sudah mencari informasi tentang keluarga saya yang banyak hutang. Jadi, kenapa saya harus menolak? Mencari uang sebanyak ini, sangatlah susah. Dengan menerima uang anda, permasalahan di hidup saya akan segera usai."


Margareth dibuat ternganga olehnya. Wanita di hadapannya ini bahkan tidak merasa direndahkan sama sekali. Margareth jadi penasaran, sebenarnya wanita seperti apa Mazaya ini? Dia hanya tahu informasi tentang keluarga dan pekerjaan. Mengenai karakter, Margareth hanya diberitahu sekilas oleh mata-matanya.

__ADS_1


"Apa ada hal lain lagi yang ingin anda sampaikan Bu Presdir?" tanya Mazaya.


"Tidak," jawab Margareth.


"Baiklah, kalau begitu. Giliran saya yang ingin menyampaikan keinginan saya. Saya ingin anda memberikan saya waktu sebulan untuk menikmati hari-hari bersama anak anda sebelum saya akan memutuskannya. Setelah itu, saya akan benar-benar menuruti semua keinginan anda."


Margareth pun setuju.


Pertemuan pun berakhir.


*


*


Mazaya pulang dengan perasaan yang entah harus ia deskripsikan bagaimana. Daripada harus memohon-mohon untuk direstui, ia memilih sadar diri dan menjauh.


"Haaah!"


Mazaya menghela napasnya kasar. Ia melihat ponselnya. Sudah ada dua pesan dan panggilan tak terjawab dari Jorell. Mazaya membaca pesan itu.


Sedang apa? Mau keluar malam ini tidak? Aku menemukan tempat yang bagus untuk berkencan, hehe.


Kenapa tidak dibalas? Kau dimana?


Pesan itu pun Mazaya balas.


Aku baru bangun tidur. Maaf sepertinya lain waktu saja. Hari ini aku benar-benar lelah.


Setelahnya, Mazaya melihat ke cek yang diberikan oleh Margareth. Nominalnya cukup besar bahkan bisa untuk melunasi hutang dan membiayai tunggakan biaya sekolah adiknya.


Lalu yang terucap setelahnya adalah permintaan maaf yang mungkin tidak akan pernah ia ucapkan ke Jorell.


"Maaf, sepertinya aku akan menyakitimu sangat dalam setelah ini. Semoga kau tidak benci aku. Aku hanya tidak ingin berada dalam masalah besar. Karena hidupku pun sudah banyak masalah."


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2