Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 17 - Cinta saja tidak cukup


__ADS_3

Jorell terbangun dari pingsannya. Ia merasa agak pusing di kepalanya.


"Eh, jangan banyak gerak dulu!" larang Joseph.


Joseph lah yang menolong Jorell ketika pingsan di jalan dan membawanya ke apartemennya. Lalu meminta teman dokternya untuk memeriksa keadaan Jorell.


"Aku dimana?"


"Kau ada di kamarku, tepatnya di apartemen ku. Ini minum jahe hangat dulu."


Joseph memberikan minuman hangat ke Jorell. Jorell menerimanya dan langsung meminumnya.


"Sebenarnya ada apa Rel? Kenapa kau sampai hujan-hujanan di jalan?" tanya Joseph yang penasaran.


Dengan tatapan sayu nya Jorell menjawab, "Mencari Mazaya. Tapi sepertinya dia sudah pergi dari kota ini."


Joseph menepuk pundak Jorell bermaksud memberikan kekuatan dan dukungan untuk Jorell.


"Ketika ditinggal wanita, sedih boleh, tapi bodoh jangan. Kau ini terlalu tergila-gila akan cinta, jadinya ketika ditinggalkan hatimu akan merasakan sakit yang teramat dalam. Mulai sekarang, lebih baik, mencintai secukupnya saja jangan berlebihan."


Jorell mengangguk saja. Tubuhnya rasanya masih lemah untuk banyak bicara.


*


*


Esok harinya, Jorell berangkat bekerja bersama Joseph. Ia bahkan memakai baju Joseph di hari itu. Ia melakukan tugasnya dengan baik di hari itu. Suasana tim desain jadi sedikit berbeda karena hanya ada tiga orang. Rupanya ketidakadaan Mazaya membuat mereka jadi merasa kehilangan.


Stefani yang selalu menumpahkan emosinya setelah dimarahi Mazaya, jadi mendadak ingin dimarahi lagi. Pasalnya, amarah dari Mazaya malah jadi semangat untuknya melakukan pekerjaan yang lebih baik lagi.


Bagi Joseph, ia masih belum pantas mendapatkan jabatan ini. Selain karena kemampuan yang tidak sebagus Mazaya, ia juga masih butuh kata-kata pedas dari Mazaya untuk membangun semangat kerja di tiap harinya. Dengan dikejar-kejar waktu dan dimarahi, otaknya jadi semakin terasah dan malah jadi semakin bersinergi.


Beda lagi dengan Jorell, baru satu hari tidak melihat Mazaya saja, rasanya sudah hampa. Biasanya tiap pagi ia selalu mengucapkan selamat pagi, melihat senyum Mazaya, bahkan mendapatkan balasan ucapan meski hanya dalam bentuk pesan teks. Tapi sekarang? Semuanya menghilang. Semangatnya jadi sirna dan ia harus melewati hal itu entah sampai kapan.


*


*


Berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, Jorell lewati tanpa kehadiran Mazaya di sisinya. Ia seperti tidak ada lagi semangat hidupnya. Hal itu, membuat Jefrey jadi bertindak.

__ADS_1


Jefrey memberanikan dirinya untuk menanyakan perihal tentang Mazaya pada ibunya. Rupanya dugaannya selama ini benar. Mamanya memang terlibat dengan pengunduran diri Mazaya dan putusnya hubungan Mazaya.


"Kenapa mama sampai melakukan itu ke Jorell?"


"Karena mama tidak suka. Mama tidak ingin Jorell asal dekat dengan wanita yang asal-usulnya tidak jelas," jawab Margareth.


"Tapi mereka saling mencintai ma. Kenapa mama tega sekali?"


Margareth tersenyum kecut.


"Saling mencintai? Bahkan Mazaya menerima uang dari mama tanpa adanya penolakan sekalipun. Sudah sangat jelas bukan, kalau dia hanya mencintai uang saja," jawab Margareth lagi.


"Tapi tetap saja, tidak bisakah mama membiarkan Jorell memilih jalan hidupnya sendiri? Biar aku saja yang mama jadikan boneka."


"Sudah, kau jangan ikut campur Jef. Kau tidak tahu bagaimana rasanya jadi mama. Mama hanya ingin yang terbaik untuk Jorell."


"Terserah mama lah."


Jefrey langsung pergi dari ruangan mamanya dengan frustasi. Ia menyayangkan sekali nasib percintaan adiknya yang kandas karena perbedaan status sosial. Jefrey yakin, kalau Mazaya tidak seburuk itu. Pasti ada alasan kenapa Mazaya malah menerima uang itu dan menyetujui semua perintah mamanya.


Tidak ingin adiknya terus bersedih, Jefrey menceritakan semua yang ia tahu pada Jorell.


Hal itu membuat Jorell mendatangi mamanya di rumah dan ingin tahu jawaban langsung dari mamanya.


"Jadi selama ini Mama mengirimkan mata-mata untuk mengikuti segala kegiatanku?"


"Ya, karena dengan begitu. Mama bisa tenang membiarkanmu hidup serba kekurangan."


Jorell menghela napasnya perlahan. Ia tidak ingin memarahi mamanya.


"Dan karena itu juga mama jadi tahu kalau kau menjalani hubungan dengan ketua tim mu sendiri."


"Dan mama malah memintanya untuk pergi dariku? Jahat sekali ma! Padahal aku sangat mencintainya ma."


"Cinta saja tidak cukup Rel. Mazaya saja tahu. Dia sangat realistis. Bahkan dia rela meninggalkanmu demi uang. Jadi, lebih baik lupakan saja dia. Mama akan jodohkan kau dengan rekan bisnis mama yang lain. Yang sudah jelas latar belakangnya seperti apa."


Jorell menghela lagi napasnya. Menahan diri agar tidak emosi.


"Iya, cinta saja memang tidak cukup ma. Tapi dengan cinta, setidaknya aku bisa bahagia. Aku tidak mau dijodohkan ma. Aku mau memilih sendiri pasangan hidupku. Tapi, untuk saat ini aku masih ingin sendiri. Aku akan memenuhi satu permintaan mama. Aku mau jadi CEO perusahaan."

__ADS_1


Karena sayangnya Jorell ke mamanya. Ia tidak bisa marah akan kelakuan mamanya kepada dirinya. Ia menerima semuanya saja dengan ikhlas meski hatinya yang harus tersakiti. Hanya satu hal yang tidak bisa ia wujudkan yaitu menghilangkan rasa cintanya pada Mazaya.


Margareth jadi senyum-senyum sendiri mendengar ucapan anaknya yang akhirnya mau memimpin perusahaan. Dengan begitu ia akan membuat penyambutan yang meriah untuk Jorell.


*


*


Benar saja, keesokan harinya, semua karyawan berkumpul di aula perusahaan. Margareth akan memperkenalkan CEO yang baru di perusahaannya.


Jorell muncul dengan aura pemimpin yang kuat. Wajahnya yang selalu tersenyum, berubah jadi sedikit dingin.


Joseph dan Stefani terkejut dibuatnya. Ia tidak menyangka rekan kerjanya selama ini adalah seorang pewaris dari perusahaan sekaligus anak kedua dari Presdir mereka. Seketika Joseph dan Stefani jadi saling pandang-memandangi.


Apa selama mereka menjadi rekan kerja Jorell selalu menyusahkan Jorell?


Apa selama mereka menjadi rekan kerja sikapnya baik atau tidak pada Jorell?


Dan pertanyaan-pertanyaan lain muncul di benak keduanya.


Mereka takut jika Jorell akan menghukum mereka jika kelakuan keduanya tidak sopan dulu. Apalagi ketika Jorell berpacaran dengan Mazaya, keduanya suka sekali menggoda Jorell.


Haish!


Keduanya geleng-geleng kepala.


"Selamat pagi semuanya. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktunya untuk berada di ruangan ini. Seperti yang presdir Margareth katakan. Saya Jorell Livingston adalah anak kedua beliau yang sudah tinggal lama di London. Selama ini, saya bekerja di bagian tim desain dan sekarang saya akan mulai memimpin kalian semua. Mohon bantuannya."


Setelah penyambutan itu berakhir, Joseph dan Stefani langsung menemui Jorell dan meminta maaf jika selama menjadi rekan kerjanya ada banyak sekali perkataan atau perlakuan yang tidak sopan.


Jorell malah tersenyum.


"Tidak apa-apa. Aku malah senang seperti itu. Setidaknya tak ada jarak antara atasan dan karyawan. Jangan sungkan padaku. Kalau kita di luar kantor. Kita tetap teman."


Lalu setelah itu Jorell pergi ke ruangannya.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2