Terjebak Cinta Jorell

Terjebak Cinta Jorell
Bab 11 - Kalau aku menyukaimu


__ADS_3

Sebelum baca bab ini, mohon untuk baca bab 9 dan 10 lebih dulu.


Karena ada revisi dari editor, jadi ada beberapa bab yang digabung. Tapi tenang saja isinya sama kok.


*


*


Di suatu hari Jorell dan Mazaya mendapatkan tugas untuk bertemu klien di luar perusahaan. Seperti biasa, Jorell lah yang mengemudikan mobilnya.


Ketika sudah sampai di sebuah restoran ternama, keduanya pun turun dari mobil dan mencari tempat pertemuannya.


Si klien menyampaikan keinginannya, lalu dari pihak Living Group menyanggupi sambil memberikan saran-saran kecil. Setelah pertemuan selesai, harusnya keduanya kembali lagi ke kantor. Tapi emang dasar Jorell rasa bandel, ia malah melajukan mobilnya ke suatu tempat.


"Eh, eh, kau mau bawa aku kemana ini? Nanti kalau kita dimarahi direktur karena tidak pulang ke perusahaan gimana?" ucap Mazaya yang cemas dan gelisah.


"Tenang saja, lagian nanti pas kita sampai di perusahaan pun jam kerja sudah berakhir. Jadi lebih baik sekalian saja pinjam mobil kantor. Iya kan?"


Mazaya menatap sinis ke Jorell. Baru kali ini ia melanggar perintah dari direktur.


"Sudah, tidak usah cemas. Cuma sebentar kok. Tidak akan lama. Beneran deh! Sumpah!" ucap Jorell meyakinkan Mazaya agar wajahnya normal kembali.


"Baiklah," jawab Mazaya.


Jorell pun akhirnya bisa tersenyum.


Beberapa waktu kemudian mereka pun telah sampai di tujuan. Jorell keluar dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Mazaya.


"Ayo keluar! Lumayan lihat vitamin sea. Jarang-jarang nih kita kerja bisa sambil liburan, hehe."


Mazaya masih menatap sinis ke Jorell.


"Udah sih, matanya nggak usah gitu. Nanti aku colok lho!"


Mazaya akhirnya keluar juga dari mobil. Ia melihat sebuah hamparan laut yang luas terbentang di depan mata. Bebatuan di pinggir pantai menambahkan aksen indah disana. Serta deburan ombak yang menghantam karang jadi irama di sore itu.


Kaki Mazaya terus melangkah di pinggir pantai. Angin kencang membuat poni rambut Mazaya berterbangan dan rambut yang diikatnya jadi bergoyang-goyang.


Mazaya menikmati suasana pantai di sore itu. Jorell yang melihatnya pun jadi ikutan senang. Tidak salah ia mengajak Mazaya kesana. Ia berjalan di belakang Mazaya sambil terus mengamati wanita itu.


"Dia itu kalau sering tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah datarnya jadi cantik sekali. Pria mana yang tidak akan jatuh cinta padamu Mazaya? Aku saja suka," gumam Jorell.


Jorell kini sudah berada dekat di samping Mazaya. Ia menggoda Mazaya dengan kata-katanya.


"Tadi siapa yang bilang takut dimarahi oleh direktur ya kalau kita tidak langsung pulang? Lalu sekarang siapa yang jadi paling antusias menikmati pantainya? Dasar! Hati sama mulut suka nggak sinkron," cibir Jorell diakhiri dengan senyuman miringnya.


Mazaya berusaha biasa saja. Ia tidak ingin terpancing oleh ucapan Jorell.

__ADS_1


"Hih! Sekarang malah pura-pura tidak tahu. Memang kau ini spesialis tipu-tipu."


Mazaya langsung mendelik dikatakan tipu-tipu.


"Apa?!" tanya Jorell.


"Aih! Kau ini pria tapi bicaramu banyak sekali!" ucap Mazaya.


"Ya, karena ceweknya banyak diam. Jadi prianya yang banyak bicara. Jadinya kan saling melengkapi," jawab Jorell.


"Mana pinter lagi jawabnya."


"Hahaha."


Jorell tertawa puas. Ia senang sekali bisa menanggapi perkataan Mazaya dengan santainya. Bahkan obrolan kali ini seperti tak ada canggung-canggungnya sama sekali.


Keduanya duduk di tepian sambil meluruskan kaki ke depan.


Langit sudah berwarna kemerah-merahan. Itu artinya senja mulai datang dan nantinya berganti menjadi malam.


"Mazaya," panggil Jorell.


"Hm?" jawab Mazaya sambil menatap lurus ke depan.


"Noleh kek!" pinta Jorell.


"Ada apa?" Kali ini Mazaya menjawab sambil menoleh.


"Cih! Pede sekali! Kau tidak takut aku tolak?" tanya Mazaya.


"Kalau ditolak ya coba lagi lah. Kalau masih gagal, terus dicoba lagi sampai dapat. Kalau masih gagal lagi, berarti perjuangan harus dihentikan sementara. Setelah itu berjuang lagi sampai diterima," ungkap Jorell.


"Kau seyakin itu? Kalau perjuanganmu nantinya akan terbalaskan?" tanya Mazaya lagi.


"Harus yakin lah. Kalau pun tidak terbalaskan pastinya kau sendiri yang merasa tidak enak padaku. Aku sih santai-santai saja."


"Ih, kau ini niat menyatakan perasaan apa membuat orang kesal sih?"


"Kalau bisa dua-duanya kenapa harus satu?"


Mazaya langsung mencubit pinggang Jorell.


"Aww, awww," pekik Jorell yang kesakitan.


"Kecil-kecil cabe rawit ya!"


Setelah kejadian cubit-cubitan itu, Jorell menjadi mode serius lagi. Ia menatap Mazaya lekat-lekat.

__ADS_1


"Aku menyukaimu Mazaya."


Kali ini Mazaya yang terdiam.


"Tidak usah dijawab sekarang juga tidak apa-apa,," ucap Jorell kemudian ingin beranjak dari duduknya. Namun, tangan Mazaya meraih tangan Jorell itu.


"Aku tidak tahu, apa aku menyukaimu atau tidak. Tapi selama berada di sisimu aku merasa nyaman. Jadi, aku harus menjawab apa?"


Senyum Jorell langsung mengembang. Meski belum ada rasa suka, atau bisa jadi belum menyadari adanya rasa suka. Jorell akan membuat Mazaya mencintainya.


"Oke, mulai hari ini kita sepasang kekasih."


Tangan Jorell lalu menarik Mazaya untuk berdiri. Keduanya saling bergandengan tangan sampai menuju ke mobil. Jorell tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


Aaaa, akhirnya aku punya pacar!


Keduanya pun sudah sampai di perusahaan. Suasana tampak sepi. Jelaslah sepi, karena mereka sampai ketika langit sudah gelap. Mereka pergi menuju ke ruangan untuk mengambil tas dan barang-barangnya.


Lalu berjalan bersama menuju ke kontrakan. Sesekali Jorell mencuri-curi pandang ke Mazaya.


"Kenapa kau jadi aneh begini?" tanya Mazaya yang keheranan.


"Namanya juga kena virus cinta. Ya begini jadinya, hehe."


Mazaya geleng-geleng kepala. Meski tadi Jorell sudah mengklaim dia dan Jorell adalah sepasang kekasih. Tapi, Mazaya masih merasa aneh saja. Apa iya cinta membuat orang jadi aneh seperti Jorell?


*


*


Hari demi hari,


Minggu demi Minggu,


Bulan demi bulan, Mazaya dan Jorell lewati bersama sebagai sepasang kekasih. Kini Mazaya bisa merasakan apa yang Jorell rasakan ketika pertama kali mengajaknya berpacaran. Mazaya juga jadi suka senyum-senyum sendiri. Bahkan terkadang jadi seperti orang bego sampai-sampai suka ditegur oleh Mario.


Ketika berpacaran, Mazaya dan Jorell selalu melakukan banyak hal bersama. Di mulai dari menonton film bergenre thriller kesukaan Mazaya di bioskop, makan makanan pedas di restoran ternama dan terakhir menghabiskan waktu di taman hiburan.


Jorell selalu mengabulkan apapun yang Mazaya inginkan. Laki-laki itu menjelma seperti pangeran berkuda putih. Bahkan Jorell juga sering memberikan hadiah pada Mazaya. Padahal, gaji Jorell lebih rendah dibandingkan Mazaya.


"Sudah aku katakan, aku tidak butuh hadiah."


"No! No! No! Tidak boleh menolak! Harus menerima dengan tangan terbuka. Sebagai seorang kekasih yang baik, aku akan selalu memanjakan mu."


Alhasil Mazaya pun menerima hadiah dari Jorell. Kalimat itulah yang selalu Jorell ucapkan ketika memberikan hadiah pada Mazaya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2