
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Setelah kejadian di mana Rini dan Ken memainkan peran dalam bercinta. Pria tersebut semakin menempel pada Rini dengan berbagai alasan modus agar dekat saja.
Rini sadar akan kecantikan nya pasti banyak pria terhipnotis padanya, tapi lagi dan lagi kenangan masa lalu kembali hadir dalam ingatan nya. Bara pria yang sangat ia cintai tidak mencintai nya.
Dan aneh nya setiap mengingat sentuhan Ken, Rini kembali teringat sentuhan Felix. Entah kenapa ia merindukan Felix, permainan Felix sejak menikahi nya selalu kasar tanpa ada kelembutan, tapi di malam itu mengetahui dirinya hamil, Felix melakukan dengan lembut hingga ia hanyut dalam permainan ranjang.
"Ada apa dengan ku, kenapa pikiran ku sangat liar begini? bisa-bisanya memikirkan pria keji itu," marah Rini mengingatkan dirinya untuk sadar tidak memikirkan masa lalu lagi.
π:"Rin, ke ruangan saya sekarang," perintah Ken dari sebrang telponnya.
π:"Tap-"
Tut...
Tut...
"Sialan! dasar Ken gila! berani nya mematikan sambungan sepihak!" umpat Rini kesal. Ia langsung bangkit dari kursinya menuju ruangan Ken.
Cekrek...
Tanpa meminta ijin Rini langsung masuk.
"Ada apa? kau tau telpon mu itu sangat menganggu," omel Rini pada Ken.
"Terserah, aku meminta mu kemari karena ada tugas untuk mu, maukah kau membantu ku ke kota A? hari ini dan beberapa hari ke depan aku gak bisa meninggalkan perusahaan, jadi aku ingin memutuskan mu ke kota A selama 3 hari," terang Ken.
"Kenapa aku? emangnya kau ada kerjaan apa hingga tidak bisa meninggalkan perusahaan?" tanya Rini penasaran, pasalnya ini kali pertama Ken memutuskan dirinya untuk mewakili nya, biasa Ken sendiri yang turun tangan.
__ADS_1
"Apa tidak bisa kau menyetujui tanpa bertanya? kita tidak memiliki banyak waktu Nona Rini terhormat. Waktu kita terbatas jadi simpan semua pertanyaan mu itu. Cepatlah pulang 1 jam lagi supir ku akan menjemput mu membawa mu ke bandara kau akan naik jet pribadi ku," ujar Ken, kepala rasanya hampir pecah, Rini tak kunjung diam.
"Aku harus mengurus wanita gila itu, kau tau Nyokap meminta ku segera menikahi nya. Mana mau aku mau jadi cepatlah pergi," dusta Ken.
"Oh, baiklah aku pergi sekarang. Aku juga gak mau lama-lama di sini nanti kau memintaku memainkan peran gila itu, sungguh peran itu sangat gila yang pernah ku mainkan."
"Ya, gila. Tapi kau menikmati, hingga terbuai sentuhan. Apa kau lupa bagaimana kau menikmati, ah, ah, ah," goda Ken meniru suara merdu Rini yang masih melekat di benaknya.
"Dasar gila!" teriak Rini kesal, tidak ingin terus di goda langsung pergi meninggalkan Ken.
Hari ini, hari yang sangat membuatnya kesal, hingga ia melupakan kesehatan nya.
Rini membereskan barang-barang nya di meja kerja, setelah rapi tak ada yang tertinggal Ia meninggalkan ruangan nya.
Seperti biasa mata karyawan pria selalu tertuju padanya. Berbeda dengan mata kaum hawa menatap tidak suka, dan juga iri.
Rini bodoh amat, asal tidak mengusik hidup nya. Jika ia bisa membunuh kembaran nya, kenapa tidak dengan orang luar? tentu itu akan sangat menyenangkan.
"Dasar tukang iri," batin Rini melihat tatapan sinis salah satu karyawan yang melihatnya.
Rini sudah berada di apartemen, si kembar berada di sekolah. Hanya ada Astyn di apartemen.
"Tumben pulang cepat," ucap Astyn melihat kedatangan Rini.
"Iya, gue hari ini harus ke kota A mewakili perusahaan untuk pertemuan kerja sama. Gue titip si kembar kalau mereka tanya bilang ke luar kota selama 3 hari," sahut Rini pergi meninggalkan Astyn, masuk ke kamar membereskan barang yang akan di bawah.
"Tumben? emangnya Ken kemana? biasanya juga gak pernah minta di wakili?" penasaran Astyn ikut masuk ke kamar Rini.
"Urus wanita nya, nyokap nya kekeh nikahin mereka berdua, tapi Ken nya gak mau. Entah apa yang akan ia lakukan. Gue gak peduli," acuh Rini tidak ingin ambil pusing masalah Ken.
Dia tidak ingin terjebak dalam masalah Ken, sudah cukup hari itu pertama dan terakhir.
__ADS_1
"Oh, emangnya lo gak penasaran gitu sama wanita Ken?"
"Penasaran? ngapain? gue udah lihat tampang nya. Lagian cantikan masih unggul gue, seksi juga gue, pintar juga gue. Semua lah pokoknya," sombong Rini seperti biasa tidak mau kalah. Karena itulah sifat nya.
"Ya kau benar. Jika kau tidak cantik mana mungkin semua pria mengantri," seru Astyn membenarkan kecantikan Rini, sombong nya memang itu kenyataan.
"Hahaha... kau memang terbaik. Tapi sayang ada satu pria yang tidak mengakui kecantikan ku, bahkan jijik padaku," sedih Rini mengingat Bara pria yang ia cintai.
"Lupakan dia, pria itu yang bodoh bagaimana bisa tidak mengakui kecantikan mu. Aku saja sebagai wanita mengakui kecantikan mu," hibur Astyn melihat raut wajah sedih Rini.
"Hmmm, tapi dia tidak bodoh dan semua ini bukan kesalahan nya. Di sini yang salah adalah wanita itu, dan aku sangat membenci nya, bahkan semua yang sama dengan nya itu adalah wanita sok alim yang menyembunyikan wajah mereka di balik cadar agar tak ada yang tau sisi jahat mereka. Dan hanya mengetahui sifat baik. Ck, menjijikkan, aku mengingat itu rasanya ingin muntah," terang Rini mengingat semua masa lalu, tanpa sadar ia kembali membuka luka yang sudah susah payah ia tutup.
"Sudah, bukannya kau tidak punya banyak waktu, kenapa jadi mengingat masa lalu, cepat bersiaplah. Aku akan membantu mu," tawar Astyn menyudahi kenangan masa lalu Rini yang mulai hadir.
"Tidak perlu, aku tidak membawa banyak pakaian. Karena aku akan membeli nya disana. Sudah lama aku tidak berbelanja, sekarang waktu nya bereaksi," senyum Rini menolak bantuan Astyn.
Seperti yang dikatakan Rini tadi, ia tidak membawa banyak pakaian. Ia hanya membawa satu koper kecil dan isinya hanya 3 pasang pakaian. Satu setelan kerja untuk besok, dan dua pakaian rumah.
Sisa nya adalah keperluan mandi dan sesudah mandi, beserta benda ajaib kecantikan yang mengubah nya menjadi ratu.
"Sudah semua?" tanya Astyn melihat Rini keluar dengan menarik satu koper kecil di tangan kirinya.
"Ya, aku pergi sekarang. Jaga si kembar awas sampai si kembar lecet, kau habis ditangan ku," ancam Rini.
"Jangan khawatir hal itu tidak akan terjadi, jangan lupa oleh-oleh untuk ku dan si kembar. Jangan ingat diri sendiri," sahut Astyn mengantar Rini sampai di depan pintu apartemen.
"Pasti, tidak mungkin aku melupakan kalian. Jika tidak sibuk nanti aku akan menghubungi mu untuk bicara sama si kembar," ujar Rini, setelah mengetahui kepergian nya dari Astyn si kembar pasti merajuk jadi untuk itu nanti ia harus menghubungi mereka.
"Hahaha... kau sudah tau ternyata," tawa Astyn, meski Rini tidak mengatakan apapun, ia sudah bisa menebak.
"Sialan lo!" kesal Rini malas meladeni Astyn, pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...