
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
🌹✨💞✨🌹
Felix dan Rini sudah siap-siap untuk pulang.
Tubuh nya masih terasa lemas, lahan bawah masih nyeri. Tak ada pilihan lain selain menerima bantuan Felix menggendong nya.
Felix sangat puas melakukan hal ini di depan umum, bahkan semua karyawan yang melihat atasan nya menggendong wanita yang sudah mereka ketahui itu adalah istrinya terperangkap tidak percaya.
Selama bekerja di perusahaan ini. Tidak pernah mereka melihat sosok Felix si pria dingin, dan terkenal kejam bersikap lembut, dan hangat pada seorang wanita.
Tapi hari ini mereka di buat membeku melihat pemandangan itu. Pria kejam itu terus tersenyum menggendong wanita di dalam pelukan nya menuju parkiran.
Karyawan wanita yang melihat keromantisan kedua orang tersenyum tersenyum kecut. Mereka iri pada Rini. Selain memiliki paras cantik, wanita itu sangat di cintai Felix, bahkan semua orang yang melihat bisa tau betapa besar cinta Felix pada Rini.
"Sungguh bahagia menjadi Nyonya Rini mendapatkan Pak Felix yang begitu besar mencintai nya. Bahkan aku bisa melihat Pak Felix begitu sangat tergila-gila pada Nyonya Rini. Aku jadi iri, kapan aku bisa seperti Nyonya Rini?" ucap salah satu karyawan wanita yang melihat pemandangan romantis pasangan suami istri pemilik perusahaan.
"Kau benar, aku pun berpikir apa kita bisa seberuntung Nyonya Rini? aaa... ku rasa tidak akan bisa, Nyonya Rini nyaris sangat sempurna. Dan jangan kau lupakan sikap pemberani yang ada pada diri Nyonya sudah pas, bahkan mereka sudah seperti di takdir kan untuk bersama," seru teman dari salah satu karyawan nya.
"Ya aku setuju padamu kali ini, mereka memang di takdir kan untuk bersama. Sifat mereka sama, yaitu kejam, cuek, dan tidak peduli pada orang lain," timpal lainnya yang mendengar dua teman nya.
"Benar. Bahkan kejadian saat Nyonya Rini datang pertama kali ke perusahaan, aura nya begitu kuat. Apalagi dengan keberanian nya mengatakan tidak segan membunuh orang jika berani macam-macam padanya. Tapi ada yang lebih parah tidak bisa aku lupakan, hingga sekarang yaitu tatapan tajam Nyonya pada Pak Felix, kau pasti bisa membedakan bukan? tatapan di antara mereka berdua manakah yang lebih menakutkan? ku rasa kalian pasti tau itu."
Mereka tidak henti membicarakan atasan mereka bersama istri nya, hingga salah satu pengawai datang menghentikan obrolan tak berfaedah mereka.
Mau tidak mau mereka segera bubar tak melanjutkan obrolan atau kerjaan tidak selesai mereka akan di marahin atasannya.
Mobil yang di kendarai Felix pun telah tiba dengan selamat di depan mansion.
Felix keluar lebih di dulu, lalu di buka pintu samping mengemudi dan kembali menggendong ala brydel seperti di kantor.
__ADS_1
"Apa aku begitu tampan Baby hingga kau terus menatap ku?" Felix menatap Rini yang menatap nya dari tadi saat berada di gendongan nya.
"Tampan?" pikir Rini menyebut satu kata itu dan menampilkan tampang orang yang sedang berpikir seakan di pertanyaan susah.
"Hei kenapa berpikir seperti itu? apa aku tidak tampan?" melihat ekspresi Rini, Felix kembali bertanya.
"Aku bingung sayang, apa pria licik seperti mu pantas di kata tampan? ck, sangat tidak cocok," jawab Rini tanpa dosa tidak peduli dengan tatapan pria itu kesal dengan perkataan nya.
"Tidak ada kaitan licik dengan tampan Baby. Aku pertegas kan lagi padamu, licik ku itu hanya untuk mendapatkan keinginan saja, kau wanita keras, kau tidak memanggil ku dengan panggilan sayang maka dari itu aku tidak punya pilihan menjebak mu, jadi jangan menyalahkan ku kalau aku berbuat licik, semua itu karena kau Baby," senyum Felix puas membuat Rini melotot kan mata tidak percaya pada nya.
"Kau... "
"No Baby, sayang," mengingatkan Rini salah memanggilnya.
"Aaa,... sangat merepotkan kan," kesal Rini dan Felix tidak peduli itu, ia malah terhibur .
Langkah kaki Felix terhenti melihat sosok pria yang bersama si kembar di ruang tamu. Terlihat mereka sangat bahagia, entah apa topik pembicaraan mereka hingga tidak menyadari kedatangan nya.
"Ada apa? kenapa berhenti?" tanya Rini belum tau apa, ia melihat pandang suaminya ke depan mengikuti.
"Ken?" ucap Rini pelan saat mata mengikuti arah pandangan suaminya dan ternyata Ken yang membuat langkah Felix terhenti.
Dan ucapan Rini di dengar jelas Felix. Rahang Felix seketika naik apalagi mengingat Ken sudah berani menyentuh Rini. Sungguh hal itu membuat nya tersulut emosi.
"Kita kedatangan tamu ternyata," ucap Felix tiba di belakang mereka.
"Dad sudah pulang, kenapa dengan Mom? apa Mom sakit?" cemas si kembar barengan, beranjak mendekati sang Daddy.
"No sayang, Mom kalian tidak apa-apa. Mom kalian hanya ingin Dad manjakan, kata nya iri sama si kembar," bohong Felix tidak peduli ocehan Rini, tatapan kesal Rini pun tidak penting saat ini, sekarang yang terpenting bagaimana cara menyadarkan pria di depan nya berhenti mendekati Rini.
Dia tau saat ini Rini belum mencintai nya, tapi itu bukan berarti kesempatan untuk Ken merebut Rini dari nya. Ia yakin secepatnya Rini akan mencintai nya, yang perlu ia lakukan adalah mengikat Rini untuk selalu berada di samping nya.
__ADS_1
Dengan seperti itu tidak akan ada yang berani mendekati Rini nya.
"Duduk lah Baby, kita harus bersalaman pada tamu tidak baik jika tuan rumah bersikap acuh, bukan?" ucap Felix dingin, semua sikap hangat nya hilang.
"Hmmm," jawab Rini berdeham, ia tidak tau apa yang di pikir kan suaminya itu.
"Kenalkan saya Felix suaminya Rini," dingin Felix menatap tidak suka pada Ken.
"Saya Ken teman nya Rini di kota C. Hubungan kami bahkan pernah lebih, bukan begitu Rini?" ucap Ken santai, tatapan Felix sudah seperti orang kesurupan, kedua tangan mengepal kuat, nafas memburu tidak beraturan.
Rini mendengar pekerjaan ngelantur Ken tidak di tanggap serius, Ken memang seperti itu becanda tidak pernah kenal tempat.
Dia menoleh pada Felix yang terlihat sangat marah dan sudah terpancing oleh perkataan Ken.
"Sayang, tidak usah di dengar perkataan nya, Ken memang seperti itu. Lagian bagaimana kami mau ada hubungan, jika aku tidak memiliki perasaan padanya. Dia tidak tampan, kau tau aku seperti apa sayang, aku memiliki selera yang tinggi jadi tidak mungkin Ken tipe ku, bukan seperti itu, Ken?" ujar Rini bicara apa adanya, sikap sombongnya tidak pernah hilang dalam keadaan apapun.
"Ya, ya, ya. Aku bukan tipe mu, tapi kau menikmati itu, bukan?" goda Ken tidak peduli tatapan tajam yang di berikan Felix mendengar kata nya barusan.
"Astyn, bawa si kembar ke kamar mereka," perintah Felix tidak ingin si kembar mendengar sesuatu yang tidak harus mereka dengar.
"Iya Tuan. Mari sayang ikut Aunty, biarkan Uncle berbicara dengan Mom dan Dad kalian," ajak Astyn sudah merasa hawa tidak baik jika terus membiarkan si kembar berada di kawasan berbahaya.
Kepergian si kembar dan Astyn. Hawa ruang tamu menjadi dingin. Felix sudah muak pada Ken dari tadi membahas sesuatu yang sangat tidak ia sukai. Tapi pria itu seperti sengaja terus mengungkit tanpa peduli adanya ia di antara mereka.
"Sayang," Rini menggenggam tangan Felix, ia khawatir Suaminya melakukan yang tidak seharusnya dilakukan.
Dia tau seperti apa Felix jika sudah cemburu, bisa hancur dunia dalam sekejap di buat nya.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
__ADS_1