
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Rini puas tidur di pelukan Felix, dan dada pria itu di jadikan bantal sungguh tidur hingga tidur nya pulas.
Bodoh amat di kata wanita tidak punya pendirian, tidak punya malu, terserah. Penting untuk nya saat ini kenyamanan dan kebahagiaan itu lebih di utamakan.
"Puas tidur nya, hmmm?" Felix lembut mengusap puncak rambut Rini, dan wanita itu enggan bangun. Felix tidak keberatan jika Rini ingin berada di pangkuan nya.
"Hmmm," Rini hanya berdeham, tangan nya berkeliaran masuk di balik baju Felix setelah berhasil membuka dua kancing kemeja.
"Baby, aku bisa menerkam mu jika terus seperti ini," memperingati sang istri terus usil bermain dibalik baju nya.
"Aku siap untuk itu Felix. Aku memang sengaja melakukan nya," tertawa kecil Rini memang ingin memancing Felix.
"Ternyata kau menginginkan lagi, kau membuat ku bahagia baby. Dengan senang hati kita melakukan lagi. Aku akan membuat tidak bisa jalan sekarang," senyum goda Felix, lalu menggendong Rini membawa ke kamar pribadi di balik lemari.
Rini tersenyum geli dengan perkataan Felix. Jujur saat ini ia sangat bahagia bisa sedekat ini. Pria yang tidak di anggap penting dalam kehidupan nya mampu memberi kebahagiaan terbesar, rasanya sulit di percaya.
Tapi inilah kenyataan, Rini bahagia, rasanya tidak ingin jauh ingin selalu dekat.
"Lakukan sepuas mu, tidak masalah tidak bisa jalan, aku memiiki kaki cadangan ya itu kau," senyum Rini dan Felix mendengar itu tak bisa menahan lagi menerkam wanita nya sangat pandai bicara membuat hati nya Klepek-klepek.
"Baiklah dengan senang hati baby. Kau milik ku, kita akan melakukan apapun berdua sekarang termaksud mandi," Felix membaringkan Rini dan langsung menyerang.
"Kau ingin pemanasan atau langsung baby?" tawar Felix seperti menawarkan makanan. Senyum licik membuat Rini menggeleng kepala.
"Terserah, asal aku puas," sahut santai Rini seperti biasa menanggapi tanpa malu. Jika saja wanita lain sudah malu-malu kucing.
Felix merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Rini, apa adanya tidak segan mengatakan apapun yang di rasakan tanpa peduli rasa sakit perkataan yang di lontarkan akan membuat orang-orang membenci nya.
__ADS_1
Hidupnya terlalu pahit hingga tidak ada rasa empati pada orang lain. Keluarga nya saja tidak peduli apalagi orang lain. Seperti itulah pemikiran Rini menanamkan prinsip hidup nya.
Dia akan baik jika orang itu baik dan tulus padanya, dan akan sebaliknya jika jahat.
Tanpa terasa kedua orang yang sedang di mabok dalam bercinta sudah menghabiskan waktu 2 jam di kamar. Bahkan kini Rini sudah tumbang, tidak dengan Felix, pria itu masih kuat, masih menyerang Rini seperti ucapan awal permainan membuat Rini tak bisa berjalan setelah bercinta.
"Kau sangat kuat, aku tidak menyangka menikah dengan pria seperti mu tidak kenal lelah kata ranjang... hahaha... " tawa kecil Rini, tubuh nya sudah lemah tapi tidak membuat nya diam.
Mata nya menatap penuh kagum tubuh indah suaminya, keringat bercucuran di sekujur tubuh pira di depan sangat terlihat seksi.
"Terimakasih atas pujian mu Baby, seranjang dengan mu tidak akan membuat ku lelah. Kau adalah vitamin penyemangat," kedua saling pandang, tatapan penuh perasaan.
Rini terhipnotis akan tatapan Felix.
Lama saling tatapan, bibir kedua kembali menempel, Rini yang sudah lemas tidak memiliki kekuatan membiarkan Felix melakukan sesuka hati nya.
Dia akan menikmati, ia suka melihat Felix yang begitu gairah, wajah nya bertambah tampan.
"Kau candu ku baby, bahkan berkali-kali aku tidak puas," senyum Felix melihat wanita nya sudah sangat lemas tak berdaya.
"Jangan menantang ku lagi baby, aku pria berpegang teguh akan omongan ku, dan sekarang lihat setelah ini kau tidak akan bisa jalan," penuh kemenangan Felix membuat Rini tak bisa berkomentar apapun.
πππ
Hari ini hari yang melelahkan, Rini kapok menantang Felix. Pria itu benar-benar melakukan padahal ia tidak serius hanya becanda.
Tubuh nya terasa remuk seperti biji kopi yang di tumbuk. Rasanya sakit semua, tidak ada tenaga yang bisa ia salurkan sekedar bangun berjalan.
Lahan nya pun ikut nyeri, entah sudah berapa kali pria itu masuk keluar untuk menuntaskan hasrat nya. Sungguh pria gila.
Rini mengumpat kesal, saat bangun ia tidak melihat keberadaan si gila di samping nya, hal itu lagi-lagi membuat otak nya tak waras.
__ADS_1
"Aaa.. dasar gila! dia sengaja meninggalkan ku, bukannya dia tau seperti apa keadaan setelah melakukan permainan panjang... " berdecak kesal Rini marah. Tubuh nya terasa lengket ia ingin segera berendam di air hangat.
Cekrek!
"Kau sudah bangun Baby?" Felix keluar dari balik pintu melihat wanitanya menampilkan wajah kesal. Tatapan nya juga sangat tajam.
"Ada apa Baby, kok wajah nya mengemaskan seperti itu? mau lagi? ayo aku juga menginginkan lagi," goda Felix menjahili sang istri. Ia tau apa yang membuat Rini kesal. Tapi tetap ia menggoda.
"Felix! kau pria gila yang pernah ku temui. Bagaimana bisa kau tega meninggalkan ku dengan keadaan seperti ini? kau tau aku tidak bisa melakukan apapun sekarang, tubuh ku rasanya remuk, milik ku terasa nyeri. Bangun untuk duduk saja aku tidak memiliki tenaga. Dan kau enak-enaknya pergi membiarkan ku menderita seorang diri? mana janji mu tadi? dasar pembohong!" kesal Rini mengomel, tatapan begitu tajam. Felix tersenyum geli melihat kemarahan sang istri. Rini marah dalam keadaan tidur, dan itu terlihat sangat lucu.
"Kau lucu baby, aku makin tergila-gila padamu," ucap Felix dan Rini makin kesal, pria itu dengan santai menanggapi omelan nya seolah bukan masalah besar.
"Sudah! cepat gendong, aku ingin berendam tubuh ku sudah sangat lengket dan aku tidak nyaman seperti ini," putus Rini menyudahi, ia akan makin kesal jika menyahuti Felix.
"Perintah Tuan putri siap, lakukan," sahut Felix tersenyum dan segera menggendong Rini.
Rini malas meladeni dan memilih diam, mengalungkan kedua tangan pada tengkuk leher Felix.
"Baby kau masih ingat janji mu tadi bukan?" tanya Felix di sela membawa Rini ke kamar mandi.
"Hmmm, katakan saja aku masih mengingat nya. Lagian aku tak akan ingkar," cuek Rini memutar bola mata jengah karena ia yakin pria ini akan memanfaatkan dari janji nya itu.
"Bagus seperti itu. Permintaan ku tak susah, muda kok," senyum Felix menatap Rini yang acuh enggan menatap nya tidak peduli.
"Katakan saja, tidak perlu berbelit-belit," ketus Rini di buat jengah lama-lama, Felix tak kunjung bicara.
"Panggil aku sayang dan kau akan ke kantor setiap hari bersama ku."
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
__ADS_1