Terjebak Cinta Tuan Mafia (Season 1)

Terjebak Cinta Tuan Mafia (Season 1)
Bab 20: Mau obat bukan yang lain


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Felix menyudahi obrolan nya bersama Astyn. Ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Rini yang pergi tadi menyimpan banyak kekesalan pada mereka.


Dia yakin masuk nanti Rini akan kembali melakukan demo seperti biasa tidak terima akan kekalahan nya. Dan Felix sudah siap dengan aksi itu, lagi pula itu sangat asyik, ia akan menjadi penonton yang baik.


"Sayang aku masuk," ucap Felix membuka pintu dan masuk.


Betapa terkejut nya ia melihat kamar berantakan, dan Rini mengobrak-abrik barang di laci mencari obat yang ia lupa di letakkan dimana.


Dan Felix melihat itu salah mengartikan ia berpikir Rini yang sedang marah padanya menghancurkan semua benda di kamar.


"Sayang apa yang kau lakukan? jangan kekanakan seperti ini. Astyn cuman bercanda, kenapa kau jadi benaran kesal," Felix menutup pintu tidak lupa ia kunci agar tidak ada yang masuk melihat kekacauan yang dibuat Rini.


Dia menghampiri Rini yang membelakangi nya.


"Rini aku bicara padamu," ucap Felix berjalan mendekati Rini, tidak juga menggubris.


"Rini," Felix dengan sedikit kasar membalik tubuh Rini menghadap nya.


"Felix, obatku, Dada ku sakit," lemas Rini menyentuh Dada nya.


Mukanya sangat pucat, keringat bercucuran di wajah, tubuh sedikit bergetar tak mampu berdiri lebih lama, sejak tadi ia sudah mencari obatnya tapi tidak ketemu.


Kini ia pasrah, dada nya semakin nyeri. Semua ini karena Felix.


"Dimana kau menyimpan obat mu?" cemas Felix melihat Rini menahan kesakitan.

__ADS_1


"Aku tidak tau, dada ku sakit Felix... " adu Rini semakin lemah kondisi tubuh nya.


"Bertahan lah sayang. Kita ke rumah sakit saja aku tidak mau kau kenapa-napa. Aku mencintaimu, aku tidak mau kehilangan mu sayang," takut Felix menangis tanpa ia sadari sangat takut kehilangan Rini.


"Tidak, cari obat ku," tolak Rini tidak ingin ke rumah sakit, malah meminta obatnya.


"Sayang obat itu tidak ada lebih baik kita ke rumah sakit saja biar kau langsung di tangani Dokter," bujuk Felix khawatir dengan keadaan Rini.


"No, aku mau obat ku sekarang," keras kepala Rini kekeh pada obat nya saja tidak ingin apapun.


"Sayang keadaan mu akan semakin memburuk jika mencari obat yang kau sendiri tidak tau menyimpannya dimana," jelas Felix.


"Lebih baik seperti itu dari pada si kembar dan Astyn tau yang sebenarnya. Aku tidak ingin di kasihani atau membuat mereka kepikiran. Sekarang kau cari obat ku. Coba lihat di tas, dan juga lemari laci pakaian, siapa tau ada di sana," kata Rini dalam keadaan sakit masih memikirkan ego dan juga perasaan orang tersayang nya.


Felix merasa bersalah dengan apa yang menimpa Rini sekarang. Ia yakin keadaan Rini seperti ini karena rasa kesal yang mereka buat, hingga jantung nya tidak stabil.


Felix segera pergi mencari tas Rini, menggeledah isi dalam nya, sedikit kesusahan karena banyak barang yang di simpan dan di dalam juga terdapat banyak jenis obat-obatan hingga ia pusing.


"Botol kecil, yang kapsul merah kuning," jawab Rini.


Mendengar ciri-ciri yang di sebutkan Rini, Felix langsung mencari.


"Ketemu," senang Felix akhirnya berhasil. Ia segera memberi satu kapsul pada Rini, dan mengambil minum agar dapat menelan obat.


"Terimakasih," ucap Rini sedikit lega. Meski sakit nya tidak langsung hilang ketika obat di telan, setidaknya tidak membuat ia semakin drop, atau pingsan dadakan.


"Maafkan aku sayang, semua ini karena ku, jika saja aku tidak meminta Astyn melakukan ini kau tidak akan drop seperti ini. Aku menyesal sudah melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan mu. Aku janji tidak akan mengulangi lagi. Ku mohon dan berjanji lah padaku untuk terus bertahan demi ku dan si kembar. Jangan tinggalkan aku," tangis Felix takut melihat Rini kesakitan di depan mata nya langsung.


Rini melongo tidak percaya melihat sesuatu yang baru untuk nya. Pria seperti Felix ternyata bisa menangis juga sungguh sesuatu yang waw. Ia tidak bisa berkata-kata lagi sekarang.

__ADS_1


Saking terkejut, ia diam menatap tanpa mengatakan sepatah kata pada Felix.


"Apa aku tidak salah lihat? pria gila ini menangis? dan apa tadi dia bilang mencintai ku? perkataan Astyn juga ide nya? sungguh pria gila! kau benar-benar ingin membunuh ku," batin Rini perlahan mulai mencerna apa yang dengar.


"Sayang katakan sesuatu, apa masih sakit? kita langsung ke rumah sakit saja, aku tidak sanggup lagi melihat mu menahan sakit, tidak peduli mereka tau asal kau baik-baik saja," serius Felix, dan Rini masih diam tidak menjawab, menatap pria itu dengan tatapan tak bisa di artikan.


"Aku ingin istirahat, aku lelah," ucap Rini engan peduli kekhawatiran Felix padanya.


"Tunggu aku ambil bantal," Felix bangkit mengambil bantal, lalu diberikan pada Rini. Ia juga mengambil selimut baru menutup tubuh Rini agar nyaman dalam istirahat.


Melihat Rini perlahan menutup mata, Felix tidak juga bangun. Genggaman tangan tak ia lepaskan dari Rini. Tatapan lekat, penuh rasa takut kehilangan masih menghantui di benaknya, Felix tidak sanggup jika harus kehilangan orang yang di cintai untuk kedua kali di depan mata nya dan ia kembali tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa menyaksikan seperti seorang penonton.


Dia tidak bisa berdiam diri seperti ini terus, ia harus bertindak melakukan sesuatu untuk Rini. Yang di butuhkan sekarang adalah pendonor jantung yang cocok, maka ia akan mencari itu dengan mengerahkan semua orang-orang nya mencari di semua penjuru negeri.


Jika saja jantung nya cocok ia akan berikan pada Rini. Tapi sayang, jantung nya tidak cocok.


"Aku akan kembali, istirahat lah. Aku berjanji secepatnya kau akan mendapatkan donor jantung yang cocok," ucap Felix.


Cup.


Dia mencium kening Rini dan pergi. Tanpa ia sadar sejak tadi Rini tidak tidur, semua perkataan Felix ia dengar tanpa terkecuali.


Rini tidak menyangka Felix begitu mencintai nya.


"Terimakasih sudah mencintai ku sebesar ini. Maaf aku belum bisa membalas mu, tapi aku sudah mulai nyaman berada di dekat mu. Semoga dari rasa nyaman bisa menumbuhkan rasa cinta," ucap Rini memandang pintu.


Dia kembali teringat bagaimana khawatir nya Felix tadi, air mata pria itu pertama kali ia lihat. Entah perasaan apa, yang jelas ia bahagia dengan semua perhatian dan juga kekhawatiran Felix padanya.


"Pikir apa kau Rini? kenapa seperti orang tidak waras begini. Sadar... sadar... dia mungkin sedang memainkan peran nya, sama seperti mu, jadi stop berpikir apapun itu," ucap Rini menyadarkan diri sendiri

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2