
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Felix tidak mengatakan apapun, ia tidak percaya dengan apa yang di dengar, wanita di depan nya mengatakan hal yang menyayat hatinya.
Memaksa Rini pulang berarti menjadi pertemuan terakhir untuk nya, sungguh ancaman yang konyol.
Tatapan tajam penuh kekecewaan terlihat jelas di wajah Felix, ia sangat mencintai Rini, tapi jika cinta nya malah membuat Rini ingin mengakhiri hidup, ia mengalah.
"Kau sangat membenci ku? tidak menyukai ku? tidak menginginkan ku? hingga kau berani melakukan ini?" tanya Felix serius menatap Rini berdiri di depan nya dengan raut wajah penuh amarah dan kebencian.
"Ya, semua yang kau katakan itu benar, jadi stop menganggu hidup ku, jalani hidup kita masing-masing seperti orang asing yang tidak saling mengenal, dan masa lalu kita? anggap saja tidak pernah ada, jadi lebih muda untuk menjalani," jawab Rini dan perkataan nya itu sekali lagi mematahkan hati Felix. Ia tidak menyangka akan sesakit ini patah hati.
Dua kali jatuh cinta dan dua kali gagal dalam percintaan. Mafia terkejam di dunia akan hancur jika sudah berkaitan dengan cinta, cinta adalah kelemahan nya.
Rini melihat wajah Felix penuh kekecewaan entah kenapa merasa bersalah, tidak tega. Apakah perkataan nya terlalu berlebihan? apa terlalu kasar? atau apapun itu menyakiti perasaan nya? sungguh pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otaknya.
"Ku harap cuman ada satu wanita seperti mu di dunia tidak ada lagi, jika ada dunia ini akan hancur di tempati wanita seperti mu yang sombong tidak peduli dengan perasaan orang lain. Dan ku harap ini pertemuan terakhir kita seperti yang kau katakan, aku tidak akan menganggu hidup mu lagi. Aku memang mencintai mu, tapi aku sadar mencintai wanita seperti mu hanya pria bodoh. Kau wanita yang tak memiliki perasaan. AKU MENYESAL TELAH MENCINTAI MU," tegas Felix penuh penekanan di akhir perkataan nya.
Semua yang menyaksikan drama secara live sangat terkejut dengan pengakuan itu. Sama hal dengan Rini, seharusnya ia senang tapi mendengar itu dada nya terasa sesak.
"Kenapa aku merasa sakit mendengar perkataan nya itu? bukannya aku bahagia? itu yang ku ingin kan, tapi kenapa perasaan malah berkhianat?" bingung Rini bertanya-tanya pada perasaan nya sendiri.
"Kau bisa pergi sekarang, urusan kita sudah selesai. Masalah kerjaan masih bisa kita lanjutkan, anggap saja saya memberi kesempatan pada perusahaan kalian, karena perusahaan kalian sudah mengutus kan seseorang dari masa lalu saya dan membuka mata hati saya dengan jelas," ucap Felix kemudian pergi meninggalkan Rini mematung memandang kepergian nya.
Rasanya ia ingin menangis, tapi untuk apa menangis? apa yang membuat nya terluka? semua ini yang dulu di inginkan, seharusnya sekarang ia bahagia, tertawa dan juga melakukan pesta.
"Kenapa!? apa ini syuting sinetron! bukannya kerja malah nonton, dasar bodoh!" maki Rini menatap kesal semua orang yang menyaksikan keributan nya sejak tadi.
Dalam perjalanan pulang, dada nya tiba-tiba terasa nyeri. Langkah nya perlahan pelan satu tangan menyentuh dada dan satunya lagi berpegang pada pintu sebagai tumpuan agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Oh no, aku melupakan penyakit ku. Ck, bodoh nya kau Rini. Kenapa jadi lepas kendali? apa kau serius ingin mati?" umpat Rini memaki dirinya sendiri pada kebodohan yang di buat.
Dia mengeledah mencari obatnya di dalam tas, nyeri di dada semakin terasa, tapi obat yang di cari tidak di temukan.
Hingga tubuh nya ambruk.
Bruk.
Security yang berdiri di dekat Rini langsung membantu dan menelpon ambulan. Wajah nya terlihat pucat, tidak seperti tadi garang, siap menerkam siapapun yang membuat marah.
πππ
Di rumah sakit.
Satu jam tak sadarkan diri, mata perlahan terbuka. Pertama kali yang di lihat ruangan bernuansa putih, tanpa bertanya di mana dirinya berada sekarang, ia sudah bisa menebak.
Rumah sakit sudah seperti rumah kedua untuk nya sejak remaja, tanpa sepengetahuan keluarga ia keluar masuk rumah sakit.
"Huft... "
"Sampai kapan peran ku berakhir aku sangat lelah, apa sebaiknya ku serahkan saja si kembar pada Daddy nya? aku tidak bisa selalu bersama mereka, usiaku tak akan lama lagi, aku gak mau mereka tau penyakit ku," ucap Rini memikirkan sesuatu yang akan di putuskan untuk kebahagiaan si kembar.
"Maafkan Mommy sayang, Mommy bukan tidak menyayangi kalian, Mommy sangat sayang banyak-banyak pada kalian. Hidup Mommy yang tak lama lagi menjadi tak keberdayaan Mommy," sedih Rini hatinya terasa hancur harus melakukan sesuatu yang membuat nya kehilangan separuh hidup nya.
Rini melepaskan infus di tangan, lalu bangkit dari ranjang pergi meninggalkan ruangan rumah sakit.
Tak berselang lama kepergian Rini, Felix masuk. Tapi ia tak melihat siapa-siapa di dalam.
"Dimana dia? kenapa tidak ada orang di sini?" tanya Felix beralih menatap Joi yang datang ikut bersama nya.
"Saya tidak tau Tuan, saya akan tanya pada petugas dulu," Joi dengan gugup takut kena semprot cepat-cepat pergi.
__ADS_1
"Keras kepala, kau pasti kabur," yakin Felix mengingat batu nya Rini.
Memijit kepala yang mendadak sakit Felix kesal di saat ia mencoba tidak peduli pada Rini, wanita itu malah menariknya lagi.
"Bagaimana?" tanya Felix meski sudah tau jawabannya apa, ia tetap ingin tau.
"Nona pergi tanpa memberitahu Dokter. Dan Dokter menyarankan keluarga pasien untuk menemui nya, apa Tuan akan bertemu dokter?" ragu-ragu Joi takut salah bicara apalagi sudah menyangkut Nona Rini wanita yang di cintai Tuan nya.
"Antar kan saya ke ruangan nya sekarang," perintah nya dan langsung berjalan pergi.
"Huft... aman," menghela nafas lega. Mengikuti langkah Tuan nya.
Cekrek...
"Apa anda keluarga Nona Rini?" tanya Dokter wanita sopan pada Felix.
"Iya, saya suami nya," jawab Felix.
"Bagus jika seperti itu, silakan duduk," mempersilahkan duduk Dokter mengambil sesuatu dari laci nya.
"Hmmm," Felix menuruti dan duduk menatap serius dokter yang juga serius dengan benda di tangan nya.
Entah apa benda yang di pegang dokter ia yakin itu pasti sesuatu yang berkaitan dengan Rini, jika tidak? tidak mungkin wajah dokter seserius ini.
"Ini hasil pemeriksaan istri Bapak. Kondisi nya semakin memburuk, jika di biarkan seperti ini terus, kapan saja nyawa nya bisa melayang. Saya harap Bapak sebagai suami nya lebih memperhatikan kondisi istri nya. Jangan membiarkan nya kelelahan itu akan memperburuk keadaan nya. Apalagi istri Bapak bekerja pasti menguras tenaga," jelas Dokter dan Felix hanya menjadi pendengar setia. Ia sedih mendengar keadaan Rini memburuk.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Felix.
"Untuk sementara selagi belum ada donor jantung yang cocok, kita akan melakukan terapi agar kondisi istri Bapak tidak semakin memburuk," jawab nya.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
__ADS_1
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...