
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Di ruang kerja seorang pria mendengar kabar dari orang nya jika tugas yang diberikan berjalan lancar tersenyum tipis, hingga senyuman itu tak dapat di lihat siapapun.
"Kerja bagus, pantau terus perusahaan nya jangan biarkan ada yang membantu nya. Ini balasan dari orang yang sudah berani memerintah ku," ucap Felix dingin.
"Baik Tuan," tunduk Joi takut wajah Tuan nya sangat seram.
"Kenapa masih berdiri di situ!? sana pergi! lakukan tugas mu!"
"Iya Tuan," dengan keringat dingin Joi keluar menyelamatkan diri.
Berada satu ruangan dengan Felix membuat nya hampir mati, jantung berdetak seirama seketika melemah. Hidup yang terasa damai menjadi gelisah tak menentu.
Sungguh Tuan nya itu memiliki aura yang kuat, siapapun itu berada di dekat Felix pasti akan merasakan hal yang sama yang ia rasakan.
"Huh... huh... huh... " Joi mengatur nafas yang tidak beraturan sakit takutnya.
"Bisa mati kalau lama-lama di dalam terus," ucap Joi bergidik ngeri.
"Seandainya Nona masih ada pasti Tuan akan lebih waras tidak menjadi gila hingga obat saja ada yang cocok menyembuhkan gila nya Tuan," lanjut nya lagi mengingat kebahagiaan Tuan nya saat mengetahui Nona hamil.
πππ
"Bagaimana Ken? apa sudah ada hasil nya? siapa yang melakukan ini pada perusahaan mu?" tanya Rini berturut-turut saking penasaran nya tidak sadar satu mancing kemeja nya terbuka, hingga memperlihatkan kedua semangka yang montok.
"****! kau benar-benar menguji ku Rini," umpat ken, tubuh nya panas dingin melihat indahnya ciptaan Tuhan.
"Hai aku bertanya padamu, kenapa diam saja? bagaimana hasilnya? siapa yang melakukan ini? apa tebakan ku benar?" Rini kembali mengulang pertanyaan yang sama pada Ken diam tidak menjawab.
Ken berusaha bersikap tenang, pikiran nya sudah berpikir liar apalagi Rini tidak henti bertanya.
Dap!
__ADS_1
Ken menarik Rini hingga terjatuh di pangkuan nya. Tentu lagi dan lagi tindakan Ken membuat Rini tidak bisa melakukan apapun.
"Apa yang kau lakukan Ken?" marah Rini dengan sikap Ken akhir ini banyak aneh.
"Kau mencoba menggoda ku?" tanya Ken mempererat tangan nya di pinggang Rini.
"Hei, siapa yang ingin menggoda mu, berpikir saja tidak bagaimana mau melakukan," protes Rini berusaha bangun tapi tidak bisa.
"Ken, apa mau mu cepat lepaskan aku," berontak Rini makin kesal di buat nya.
"Baiklah aku akan melepaskan mu, tapi tenanglah sebentar aku hanya ingin membetulkan sesuatu di baju mu," tangan Ken baru menyentuh kancing baju Rini, wanita itu sudah kembali bersuara.
"Apa yang kau lakukan!? aku tidak akan segan mematahkan tangan mu, jika kau macam-macam padaku. Aku tidak peduli meski kau itu adalah atasan ku," ancam Rini.
"Astaga lihat lah dirimu ini, aku tidak akan macam-macam padamu Rini, aku hanya ingin memperbaiki kancing mu yang terbuka ini. Emangnya siapa yang mau menyentuh mu, kau wanita bar-bar, belum ku sentuh pisang ku sudah penyet lebih dulu," ucap Ken tertawa geli dengan perkataan nya.
Dia langsung memasang kancing baju Rini dengan baik tanpa peduli ocehan Rini yang masih berlangsung.
"Kenapa tidak kau katakan saja? kenapa harus pakai narik segala? hampir saja aku ingin mematahkan tangan mu," kesal Rini lagi dan lagi Ken mempermainkan nya.
"Habisnya kau banyak bicara bagaimana aku mau bilang jika kau tidak berhenti?" santai Ken, dan Rini masih berada di pangkuan Ken dengan ocehan nya itu.
"Cara lain seperti apa?" tanya Ken beralih menatap lekat Rini.
"Lain aja pokoknya, bukan seperti ini."
"Apa seperti ini," Ken membungkam bibir nya dengan Rini. Bertepatan dengan pintu ruangan terbuka masuk nya seorang wanita.
Ken mel***t bibir Rini dengan lembut, meny***p penuh cinta, ia bermain begitu pelan. Rini membeku tidak percaya dengan tindakan Ken yang sudah sangat kurang ajar.
Mata Rini melebar amarah, dan juga kecewa menjadi satu tidak menyangka Ken tega melakukan ini padanya.
Sejenak Ken melepaskan panutan nya.
"Ku mohon jangan marah, di belakang mu ada wanita pilihan Nyokap yang ingin di jodoh kan dengan ku, anggap saja kita sedang memainkan peran," bisik Ken penuh harap. Pada kenyataannya memang tadi ia berniat merasakan bibir seksi Rini yang menggoda.
__ADS_1
Dan saat itu bertepatan dengan wanita yang di jodoh kan nyokap nya masuk, jadi bisa ia jadikan sebagai alasan saat Rini marah.
Ken kembali mencumbu Rini his***n nya semakin dalam, Ken tidak mempedulikan sosok wanita yang begitu marah melihat percintaan mereka.
Dia begitu menikmati, bibir Rini ternyata sangat manis, ia tidak yakin tidak akan ketagihan nanti. Kesempatan emas seperti ini tidak bisa ia siakan, selagi ada wanita penggoda di belakang ia akan menggunakan untuk bercinta lebih lama dengan Rini.
Rini menggerakkan ekor matanya ke samping saat kursi mereka bergerak dan benar saja yang di katakan Ken ada wanita yang berdiri menatap mereka dengan penuh amarah.
Entah dorongan dari mana Rini membalas ciuman Ken, seperti nya akan seru membuat keributan. Ia sudah lama tidak berulah, apa salahnya sekarang mencoba. Lagian ia sudah enam tahun tidak berciuman.
Ken terkejut mendapat balasan dari Rini, tentu percintaan mereka akan semakin nikmat. Ken mengigit bawah bibir Rini, dan masuk mengekspor masuk lebih leluasa. Lidah mereka menari riang saling tarik menarik.
Wanita dibelakang melihat itu sangat marah, amarah nya sudah sampai di ubun-ubun. Kedua tangan menggepal kuat.
Saking terbawa suasana dengan percintaan mereka tangan nya mer***s gunung kembar Rini. Dan bibir nya sudah turun di tengkuk leher memberi tanda kepemilikan.
Entah apa yang akan terjadi kedepan nya ia bertekad Rini harus menjadi milik nya apapun itu cara nya. Meski harus menggunakan kekuasaannya nanti membuat Rini kecewa.
"Ahhhhhk,... Ken... ahhhhhk.... a-pa ya-ng ka-u la-ku-kan?" Rini men****h dengan terbata-bata.
Rini wanita normal, tidak mungkin bisa menahan sesuatu yang memberi reaksi besar pada tubuh nya.
Enam tahun tidak mendapat sentuhan, hari ini ia kembali merasakan.
"Nikmati peran mu honey," bisik Ken.
"Lagi honey aku menyukai bibir seksi mu menyebut nama ku, rasanya aku ingin terbang," ucap Ken dengan suara sek**** sengaja ia perbesar nada suara nya.
"Gila kau Ken, kau mempermainkan ku sejauh ini. Aku akan membalas mu nanti, lihat saja," batin Rini kesal, tubuh nya sangat menikmati sentuhan ini, tapi ia lebih merindukan sentuhan daddy nya si kembar.
"Kau milik ku sekarang, tidak ada yang bisa mengambil sesuatu yang sudah ku sentuh. Termasuk ayah si kembar siapapun pria itu," batin Ken tersenyum licik tidak akan melepaskan yang sudah ia anggap milik nya.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
__ADS_1
Hay readers bagi yang tidak suka peran Rini mohon jangan di bully, jika tidak suka boleh di skip saja. Cerita ini hanya imajinasi author yang di tuangkan menjadi sebuah karya yang bisa di baca bersama.
Mohon pengertiannya. Terimakasih π