Terjebak Cinta Tuan Mafia (Season 1)

Terjebak Cinta Tuan Mafia (Season 1)
Bab 11: Nama yang tidak asing


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


"Tidak ada yang berubah setelah kepergian ku, tempat, udara masih saja seperti dulu, membosankan," gumam Rini dengan wajah malas menginjakkan kaki di kota A.


"Mari Nona kita akan ke apartemen, baru ke perusahaan," sopan pria tersebut mempersilahkan Rini untuk jalan.


"Hmmm, apakah jarak apartemen ke perusahaan jauh?" tanya Rini.


"Tidak Nona, Tuan menyediakan apartemen Nona dekat dengan perusahaan agar Nona tidak kelelahan," jawab pria tersebut pada Rini.


"Oh, seperti itu," seru Rini. Mereka pun berjalan meninggalkan parkiran bandara masuk ke dalam mobil.


Dalam perjalanan menuju apartemen, Rini diam pandangan nya tertuju pada luar kaca mobil.


Entah apa yang di pikirkan, Rini terus diam. Mulut nya tertutup rapat, bibir terasa berat untuk bergerak.


Hingga tiba di apartemen Rini terus diam, tidak ada obrolan di dalam mobil, hanya keheningan dalam mengambil sikap berdoa yang tercipta di mobil.


"Nona kita sudah tiba," ucap pria tersebut menyadari Rini yang belum sadar mereka sudah tiba sekarang.


"Apa? sudah tiba?" sadar Rini melihat sekeliling dan benar mereka sudah tiba.


"Kenapa tidak kau katakan dari tadi?" tegur Rini malah menyalahkan pria tersebut tidak memberitahu nya.


"Tidak seperti itu Nona, saya sudah memberitahu, tapi Nona saja tidak mendengar saya," balasnya membela diri.


"Hei! kau menyalahkan ku begitu? apa kau sudah bosan bekerja? atau kau bosan hidup? katakan!?" kesal Rini marah pada pria itu menyalahkan nya.


"Maaf Nona, saya tidak bermaksud seperti itu," tunduk nya takut wajah Rini sangat menyeramkan ternyata kalau sedang marah.


"Dasar, begini baru ngaku salah," sinis Rini memutar bola mata, lalu turun dari mobil.

__ADS_1


Pria tersebut pun ikut turun dengan cepat mengejar Nona. Dengan langkah panjang ia mengikuti Nona untuk menunjukkan apartemen yang akan di tempati Rini selama 3 hari.


"Ck, semua ini karena mereka! kenapa harus muncul di benakku," kesal Rini dalam hati.


"Nona lewat sini, di sana bukan apartemen Nona," ucap pria tersebut memberitahu melihat Rini salah jalan.


"Kau ini kenapa tidak mau bilang dari tadi? Apa kau sengaja melakukan ini agar aku lelah, hah!?" sentak Rini makin menyalahkan pria tersebut.


"Astaga ada apa dengan Nona Rini, kenapa terus menyalahkan ku, padahal dialah yang salah tapi tidak pernah mengakui kesalahan nya," batin pria tersebut bingung dengan sikap Rini.


"Jika tau Nona yang ku kawal seperti ini, aku tidak akan mau melakukan ini, mengawal nya sudah seperti mengawal singa menyeramkan."


"Kenapa kau diam? di mana letak apartemen ku?" tanya Rini lagi masih dengan nada kesal.


"Di sana Nona, mari saya tunjukkan," gelagapan pria itu tidak berani menatap wajah Rini dan langsung mengarahkan jalan.


Rini lelah marah-marah terus, entah kenapa tiba di Kota A emosi nya menjadi tidak stabil naik turun. Ia sendiri bingung dengan dirinya sendiri, perasaan nya mengatakan akan terjadi sesuatu nanti nya.


"Hmmm," Rini berdeham dan mengikuti pria tersebut.


Setelah meletakkan koper dan merapikan make-up di wajah, Rini di antar sopir ke perusahaan tempat di adakan rapat.


"Apa ini perusahaan nya?" tanya Rini melihat bangunan yang besar, bahkan mengalah perusahaan tempat nya bekerja, dan juga Daddy Tirtan.


"Iya Nona ini tempat nya," jawab nya mengiyakan.


Rini mengangguk dan membaca nama label yang tertulis dengan besar Kavindra Grup.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan nama perusahaan ini, tapi di mana? kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" gumam Rini menatap tajam label besar di atas gedung besar.


"Nona, apa Nona tidak akan turun?" melihat Rini melamun pria itu menyadarkan agar mengingat tujuan mereka datang kemari.


"Hmmm, pulang lah, aku akan menelpon mu jika sudah selesai," usir Rini setelah turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam perusahaan.

__ADS_1


Dengan langkah anggun, Rini berjalan seperti seorang model, riasan sedikit tebal, tapi itu bukan berarti ia jelek, karena aslinya ia sudah cantik jadi di tambah sedikit polesan akan semakin memukau.


Mata para karyawan sama seperti tempat nya bekerja, tatapan tidak suka, iri dan memuja kecantikan wajahnya. Tapi seperti biasa pula, ia tidak mempedulikan tatapan itu, terus berjalan pada tempat yang akan di tuju.


"Permisi, saya utusan dari perusahaan Kendra Grup, saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini," ucap Rini tanpa basa-basi menatap wanita di depan nya.


"Jadi Ibu utusan dari perusahaan Kendra Grup, sebelum nya apa sudah ada pemberitahuan perubahan ini pada Pak Joi?" tanya wanita tersebut memastikan.


"Kenapa emangnya? apakah itu penting? sekarang cepat katakan bisa atau tidak?" tanya Rini.


"Maaf Bu, tidak bisa. Pak Joi tidak mengatakan apapun, jadi kami tidak bisa memberi izin. Ibu bisa pergi sekarang."


"Hai! seperti inikah cara kalian menyambut tamu? ck, memalukan! apakah kau di ajarkan oleh pimpinan mu mengatakan ini? lebih baik sekarang kau panggil pimpinan mu itu atau ku buat keributan disini," ancam Rini marah, rasanya ia ingin menampar wajah pimpinan perusahaan ini berani mengajar bawahan nya bersikap kasar, jika saja pada orang lain ia tak akan masalah, tapi pada dirinya sungguh tak bisa ia terima.


"Maaf Nona tidak bisa, sebaiknya pergi tinggalkan perusahaan ini. Atau kami menggunakan cara lain agar Nona keluar," ancam wanita tersebut pusing, keras kepala Rini benar-benar membuat nya kewalahan menangani.


Di sisi lain Felix dan Joi yang menunggu kedatangan pimpinan perusahaan Kendra Grup tak kunjung datang menjadi jengah, memutuskan keluar dari ruang meeting.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita tunggu beberapa menit lagi? mungkin saat ini Pak Ken sedang dalam perjalanan," bujuk Joi meski ia tau jawaban apa yang keluar dari mulut Tuan nya.


"Jika kau ingin tunggu silakan kembali ke ruang meeting, tapi saat itu juga kau sudah ku kirim ke neraka," ucap Felix dingin penuh penekanan tanpa menatap Joi. Pandangan nya kedepan, langkah kaki terus bergerak.


Glek!


"Ah, tidak Tuan. Kita pergi saja, ini salah nya kenapa tidak tepat waktu," seru Joi cepat tidak berani membuat Tuan nya makin murka padanya.


Keributan di bagian resepsionis terdengar sampai ke telinga kedua pria yang baru turun. Felix sangat membenci keributan, ia tidak segan membunuh orang itu di tempat umum sekali pun.


"Astaga apalagi ini, kenapa harus ada petunjuk tidak jelas? kenapa kalian senang mengantar nyawa pada Tuan ku," batin Joi menjerit histeris.


Dia segera mengejar Tuan nya yang berjalan menuju resepsionis dengan raut wajah menahan amarah dan akan di lampiaskan pada wanita yang membuat keributan pada perusahaan nya.


"Ada apa ini!"

__ADS_1


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2