
π»H 4 P P Y R 3 4 D I N Gπ»
πΉβ¨πβ¨πΉ
Rini yang sudah berencana ke rumah sakit, bahkan sudah rapi tinggal berangkat pergi, malah tergoda akan permainan Felix dan berakhir di ranjang.
Felix hari ini tidak ada rencana apapun, ia hanya ingin ke markas melihat perkembangan karena sudah seminggu ia tidak mendengar kabar apapun. Mungkin karena ancaman nya kali itu pada Rio jangan menghubungi nya sebelum ia menghubungi lebih dulu.
3 jam mereka melakukan panasnya olahraga ranjang, Felix belum juga puas, berbeda dengan Rini sudah lemas. Ia membiarkan Felix melakukan apapun yang di ingin kan. Tubuh nya sudah benar-benar remuk sekarang, pria itu masih menguasai nya berada di atas.
"Kau sangat nikmat baby, aku tidak pernah puas padahal kita sudah mencapai kenikmatan berkali-kali. Aku ingin malam nanti kita melakukan lagi. Ingat perjanjian kita setelah kau kalah aku memiliki hak penuh pada tubuh mu. Kapan pun aku menginginkan kau harus mau sekali pun itu di perusahaan," Felix mengingatkan dengan wajah penuh kemenangan, karena itu perjanjian yang Rini buat tapi ia sendiri yang terjebak.
"Ya aku ingat. Aku lelah biarkan aku istirahat. Kau membuat tubuh ku benar-benar remuk sekarang," lemas Rini tidak memiliki tenaga untuk ribut sekarang.
Cup.
"Baiklah, kita istirahat sekarang. Nanti kita lanjutkan lagi malam. Siapkan tenaga mu sayang," Felix menyudahi, berbaring di samping Rini dan memeluk erat tubuh nya.
"Aku mencintaimu sayang, aku tidak akan lelah mengatakan ini padamu," ungkap Felix menyembunyikan wajah nya di tengkuk leher Rini.
"Hmmm," Rini berdeham membiarkan Felix melakukan apapun yang di suka.
Felix adalah suaminya, Felix berhak penuh atas semua yang ada di tubuh nya. Lagian sentuhan liar itu sangat ia nikmati. Bahkan ia akan menginginkan lagi.
Rini benar-benar gila sekarang. Ia tidak akan malu lagi menggoda Felix nanti nya.
Saking lelah, kedua akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.
πππ
"Aunty, kenapa Dad dan Mom belum juga keluar? apa yang mereka lakukan di dalam?" omel Katy sudah mulai lelah menunggu.
"Sabar sayang, mungkin saja Daddy dan Mommy lagi tidur. Kita ke taman saja, ayo," ajak Astyn. Ia sendiri tidak tau kenapa kedua orang tersebut tak kunjung keluar.
__ADS_1
"Louis ayo sayang kita ke taman," lanjut Astyn melihat Louis tidak bergerak masih setia menduduki bokongnya di sofa ruang keluarga.
"Tidak, Aunty dan Katy saja, Louis ingin di sana baca buku," tolak Louis malas yang ada nanti bacaan nya menjadi berantakan.
"Ya sudah kalau berubah pikiran langsung ke taman, Aunty dan Katy berada di sana," ucap Astyn, lalu pergi meninggalkan Louis.
"Kak Louis pria yang membosankan Aunty, apa ada perempuan yang mau sama kakak ku nanti?" tanya Katy buka pembicaraan ketika tiba di taman.
"Hush, anak kecil udah ngomong suka-suka. Fokus sekolah gak usah pikirin itu," tegur Astyn bingung dari mana anak kecil seperti Katy berbicara hal seperti ini.
"Apaan sih Aunty, Katy udah gede kali. Gak percaya tanya Mommy," protes Katy tidak terima dikata anak kecil.
"Astaga apalagi ini, Rini apa yang kau ajarkan pada putri kecil mu," kesal Astyn memaki Rini tidak henti dalam hati.
"Iya, iya, Katy sudah besar, tidak usah bicara lagi ya," ucap Astyn menyudahi atau bocah kecil ini akan berbicara melebar tanpa henti.
"Kenapa aunty? kan, Katy menginginkan jawaban Aunty tentang kakak," protes Katy tidak terima malah semakin mendesak Astyn menjawab.
"Jelaskan saja Aunty, kan tinggal bicara emangnya apa susah nya sih, Aunty saja yang membuat jadi ribet," ucap Katy.
"Astaga makin kesini makin pintar saja ngomong nya, apa yang harus ku jawab," Astyn makin pusing.
Dia beradu dengan pikiran nya sendiri mencari jawaban, jika salah bicara akan berabe, ia tau seperti apa bocah kecil ini tidak akan puas jika jawaban nya tidak sempurna.
Kepala Astyn rasanya ingin pecah, ia ingin teriak sekuat tenaganya memanggil Ibu dari bocah kecil cerewet.
"Aunty jawab kenapa diam," desak Katy melihat Aunty nya diam tidak menjawab.
"Sayang Aun-"
"Ada apa ini As?" tanya Rini tiba di taman dan Felix setia mendampingi Rini.
"Ah, akhirnya kau datang, silakan jawab pertanyaan putri mu. Dia terus mendesak ku, padahal sudah ku beritahu ini bukan pembicaraan anak kecil, tapi tidak dia peduli kan, malah katanya sudah besar dan itu kata mu Mommy nya," jawab Astyn menjelaskan pada Rini.
__ADS_1
"Tunggu... tunggu... apa maksud mu? aku benar-benar tidak mengerti coba jelaskan ulang," pinta Rini belum konek penjelasan Astyn itu.
"Sayang bicara nya sambil duduk saja, ayo," ajak Felix menarik Rini untuk duduk.
"Hmmm, coba jelas kan sekarang As?" tanya ulang Rini setelah duduk.
"Iya As, saya juga mau tau pertanyaan apa yang diberikan putri saya hingga kau pusing seperti ini," timpal Felix penasaran.
"Oke, kalian berdua seperti nya sangat penasaran, sekarang saya akan mengatakan," sahut Astyn.
"Ja-"
"Mom, Dad, Aunty bicara berbelit-belit masa cuman kasih jawab bilang nya bingung mau mulai dari mana. Padahal Katy hanya bertanya apa ada perempuan mau sama Kak Louis, kakak sangat kaku, membosankan tak asyik, jadi tidak mungkin ada perempuan yang mau sama pria seperti itu. Tapi Aunty tidak mengatakan apapun malah bilang Katy masih kecil lebih baik sekolah yang benar. Kan kata Mom Katy sudah besar," aduh Katy menceritakan semua pada Mommy.
Rini dan Felix mengangguk paham kini mereka tau apa yang membuat Astyn pusing, toh semua itu hanya sebuah pertanyaan kecil. Tidak sulit untuk Rini menjawab.
Berbeda hal dengan Felix pria itu sama dengan Astyn bingung.
"Jadi ini yang membuat kau seperti orang gila?" ejek Rini pada Astyn yang tidak percaya Rini masih bisa bersikap santai setelah mendengar ini.
"Kau ya, Mom seperti apa mengajarkan putri mu sendiri pada sesuatu yang tidak seharusnya di ketahui?" kesal Astyn tidak terima di ejek Rini.
"Hahaha... hahaha... kau ini sangat aneh As. Tapi sebelum nya terimakasih kau sudah memberi ku hiburan," Rini malah menangapi dengan tawa. Entah apa yang membuat nya terhibur dari perkataan Astyn.
"Sini sayang Nya Mom mendekat lah biar Mom jelaskan. Aunty mu memang payah, maklum masih sendiri gak seperti Mom punya Daddy kalian," ajak Rini meminta putri nya berjalan mendekatinya.
Wajah Rini masih terlihat santai dengan senyuman mengembang tak juga luntur di wajah. Berbeda dengan Felix dan Astyn tidak ada senyuman, kedua orang tersebut penasaran akan penjelasan Rini.
"Stop bicara sembarangan Rini. Kau benar-benar Ibu la***t bagaimana menjerumuskan anak mu ke neraka," batin Astyn wanti-wanti cemas.
...Bα΄Κsα΄α΄Κα΄Ι΄Ι’......
...β¨____________ πΌπΌ_______________β¨...
__ADS_1