Terjebak Cinta Tuan Mafia (Season 1)

Terjebak Cinta Tuan Mafia (Season 1)
Bab 32: Butuh secepatnya


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Rumah sakit.


Rini sudah di tangani dokter. Felix tidak mempedulikan keberadaan kedua mertua nya. Ia bahkan tidak menganggap mereka ada. Keadaan Rini seperti sekarang karena menolong mereka hingga harus bertukar tempat.


Felix mondar-mandir, perasaan tidak tenang, takut terjadi sesuatu pada Rini. Perasaan nya saat di mansion ternyata benar terjadi, Rini nya sekarang berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Jika ia tau semua akan terjadi seperti ini. Ia tidak akan mengajak Rini. Tapi semua tidak ada tau apa yang akan terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan? pasti akan ada penyesalan, tapi hal itu tidak bisa berubah apapun yang telah terjadi.


Cekrek.


Pintu terbuka, keluar seorang wanita cantik berjas putih dan Felix segera berjalan mendekati nya.


"Bagaimana keadaan istri Dok? dia baik-baik saja? tidak yang serius, kan? apa dia sudah bangun? saya sudah bisa melihat nya, kan?" tanya Felix bertubi-tubi, terlihat jelas di wajahnya betapa khawatir pada Rini.


Kedua orang Rini melihat menantu nya begitu mencemaskan putri mereka menjadi malu, seorang pria yang baru masuk di dalam kehidupan putri mereka, sangat menyayangi nya. Tapi mereka orang tuanya yang membuatnya hadir mengenal dunia malah sebaliknya.


Orang tua seperti apa mereka, apa mereka masih pantas di sebut orang tua? ck, sangat menjijikkan.


"Tenanglah Pak. Sa-"


"Apa maksud mu Dok? kau menyuruh saya tenang di saat Istri saya sedang tidak baik-baik saja! kau gila, apa!" marah Felix tidak bisa tenang yang dikata Dokter.


"Saya mengerti Pak, tapi keadaan seperti ini bukan untuk marah-marah, tapi perbanyak berdoa pada sang kuasa," Dokter tersebut dapat memaklumi kekhawatiran keluarga pasien, karena tidak muda bersikap tenang saat orang tercinta tidak baik-baik.


"Apa maksud Dokter? perbanyak doa apa!? kau pikir istri saya sekarat apa! hingga harus banyak doa. Sekali lagi kau berkata seperti itu kau yang akan saya buat pergi menemui ajal!" ancam Felix penuh amarah dan Dokter yang mendengar itu menelan kasar saliva nya.


"Maaf Pak, saya tidak akan mengatakan hal itu lagi," janji nya sudah ketakutan setengah mati mendapatkan tatapan horor suami pasien.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanpa peduli permintaan maaf dokter bodoh, Felix bertanya ulang tentang keadaan istri nya.


"Keadaan pasien saat ini sangat drop, kami akan mengambil tindakan, tapi sebelum itu kami harus mendapat persetujuan dari anda suaminya. Cedera di kepala akibat benturan kuat yang di terima, harus segera di operasi... "


"Ya sudah lakukan secepatnya, tunggu apalagi!?" bentak Felix tidak bisa menahan amarah nya jika sudah berkaitan dengan Rini.


Bahkan ia lupa mengabari Astyn tentang keadaan Rini.


"Tapi Pak, masih ada yang ingin saya sampaikan," ragu nya takut pria di depan mengamuk. Tapi ia tetap harus mengatakan tanpa ada yang di tutupi.


"Apalagi?"


"Pasien membutuhkan donor jantung yang cocok secepatnya. Kecelakaan yang di alami pasien membuat jantung nya memburuk hingga harus segera dilakukan operasi, atau tidak bisa tertolong lagi," terang nya mengatakan apa adanya secara pemeriksaan medis.


"Aaaaa! apalagi ini!" frustasi Felix mengacak rambutnya. Hingga detik ini orang-orang yang di perintah kan mencari, belum ada yang menemukan pendonor yang cocok untuk Rini.


Mendengar penuturan dokter, kedua orang yang di tolong Rini, tidak mampu berkata-kata, rasa bersalah, penyesalan menghantui mereka sekarang.


Tujuh jam berlalu...


Dokter yang menangani operasi Rini belum juga keluar.


Saat Felix mulai putus tidak bisa menemukan pendonor jantung yang cocok. Dokter mendatangi nya mengatakan sudah menemukan jantung yang cocok dan pendonor siap mendonorkan.


Dan saat Felix ingin mengetahui siapa pendonor untuk berterimakasih sudah menolong istri nya. Dokter tidak mengatakan apapun selain kata titipan sang kuasa.


Felix tidak henti berdoa untuk keselamatan Rini, kaki nya tak sekali diam, terus mondar-mandir seperti cacing kepanasan. Pria yang tidak pernah berdoa pada sang kuasa. Hari ini berdoa meminta jangan ambil istri nya.


Langkah kaki berhenti dari uring-uringan tidak jelas dan berjalan mendekati dokter yang baru keluar dari ruang operasi sang istri.


"Bagaimana keadaan istri saya?" operasi nya lancar, bukan? tidak ada masalah, kan?" tanya Felix bertubi-tubi.

__ADS_1


"Alhamdulillah semua berjalan lancar, Istri bapak sudah melewati masa kritis, beberapa jam lagi akan sadar, kami akan memindahkan ke ruang rawat dulu agar Bapak bisa menemui. Permisi," terang Dokter, lalu pergi meninggalkan suami pasien.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Setelah Rini di pindahkan ke ruang rawat, Felix setia berada di samping Rini menggenggam tangan nya dengan erat seakan takut kehilangan jika di lepaskan.


"Baby cepatlah sadar. Aku merindukan mu. Apa kau tak merindukan ku? kita akan bercinta sekarang, aku akan memuaskan mu sekarang jadi cepatlah bangun, atau aku akan melakukan dengan wanita lain dan memuaskan mereka," ucap Felix asal mengajak bicara Rini.


"Kau tau kejadian tadi hampir membuat ku mati melihat kebodohan mu menolong orang-orang itu. Seharusnya kau tidak melakukan itu, lihat sekarang kau berbaring disini, sedangkan orang-orang itu tidak mempedulikan mu baby, mereka malah pergi entah kemana, dasar tidak tau diri. Apakah ini cara berterimakasih setelah di tolong? sungguh orang-orang itu ingin aku lenyap kan dari dunia."


"Aku harap setelah kau sadar nanti tidak ada penyesalan sudah menolong orang-orang itu. Meski itu mustahil."


Felix tidak henti mengajak Rini bicara, meski Rini belum sadar. Tapi ia yakin Rini mendengar semua yang di katakan.


Lelah berbicara tak jelas berharap Rini menunjukkan reaksi, Felix pun tertidur dengan menggenggam erat tangan Rini.


Jari-jari Rini sedikit bergerak, mata perlahan terbuka dan pandangan nya terjatuh pada sosok pria yang tertidur di samping dengan genggaman erat tangan nya.


Ujung bibir menarik membentuk senyum melihat betapa besar cinta Felix padanya.


"Terima kasih sudah setia mendampingi ku. Terimakasih sudah sabar menghadapi semua sikap keras kepala dan keegoisan ku. Terimakasih sudah mencintai ku sebesar ini, padahal kau bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dari ku, tapi kau tidak melakukan itu, padahal kau juga tau aku tidak pernah mencintai mu, kau tetap saja tidak mempedulikan itu dan lebih mementingkan cinta mu padaku, dari pada meminta balasan cinta ku untuk mu," batin Rini sedih dan juga salut, memandang Felix yang tertidur.


"Aku janji detik ini akan belajar mencintai mu. Aku tidak akan mengecewakan mu lagi," dan seketika Rini teringat akan orang-orang yang di tolong. Sejak tadi ia tidak melihat keberadaan mereka sama sekali berada di sini.


Dia pun berpikir apakah orang-orang itu tidak peduli dengan kondisi nya setelah menolong mereka? sungguh nasib yang miris, untuk apa mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.


"Apa aku tidak berarti untuk kalian? hingga sadar pun kalian tidak ada," sedih Rini dalam hati merasa sesak dadanya.


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

__ADS_1


__ADS_2